Cara Mensyukuri Nikmat Allah SWT

Mensyukuri Nikmat Allah SWT
by M Daud Yahya

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12).
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS.27:73).
Sebagai ni’mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,“ (QS.54:35).

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah merenung, bagaimana betapa banyaknya rezki lahir batin yang kita terima dari Allah swt. Berapa banyak sudah tiupan napas udara yang kita hirup, berapa banyak langkah kaki yang kita gunakan untuk berjalan, berapa banyak energi otak yang kita pakai, dsb. Sungguh banyak sekali nikmat Allah swt yang kita terima, sehingga saking banyaknya, kita pun tak sanggup untuk bisa menghitungnya (wa in ta’udduu ni’matallaahi la tuhshuuha). Sungguh prilaku yang kelewat batas, kalau kita tak pandai mensyukuri semua nikmat tersebut.

Lalu bagaimana cara kita bersyukur kepada Allah swt, terhadap semua nikmat yang kita terima ?. Berikut tahapan-tahapan cara bersyukur kepada Allah swt :

1. Bil ‘Ilmi : Dengan ilmu, bahwa mengetahui, menyadari terlebih dahulu bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah swt.

2. Bil Haal : Dengan keadaan, bahwa nikmat yang kita terima dari Allah swt tersebut melalui perantara orang lain, namun hakikatnya Allah swt jualah yang memberinya, Allah swt Sang Maha Pemberi. Meski demikian, terhadap perantarapun juga seyogyanya kita pandai berterima kasih. Ada hadits Nabi saw : Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah swt. Jadi hakikat kita berterima kasih kepada manusia, pada dasarnya kita juga sedang melakukan syukur kepada Allah swt. Hadits lain : Barang siapa yang tak bersyukur pada (nikmat) yang sedikit, maka ia tak pandai bersyukur pada (nikmat) yang banyak. Logikanya, kalau kita pandai bersyukur pada nikmat yang sedikit, mafhum muwafaqahnya tentu lebih bisa bersyukur lagi pada nikmat yang banyak, sedikit saja bersyukur, apalagi banyak. Menjadi orang yang pandai bersyukur baik punya nikmat sedikit maupun punya nikmat yang banyak. Tetapi di saat pada nikmat yang sedikit tak pandai bersyukur, maka pada nikmat yang banyak pun tak pandai bersyukur. Jangan mengeluh, menyalahkan bahkan mengatakan Tuhan tidak adil, tapi terimalah semua pemberian Allah swt, Insya Allah nikmat akan ditambah oleh-Nya. Mendapatkan pemberian nkmat dari Allah swt yang sedikit, jika disyukuri dan dirasa cukup, itu lebih baik daripada banyak tetapi masih menganggapnya selalu kekurangan. Sehingga tidaklah berfaidah limpahan nikmat dan banyaknya harta bagi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah swt. Bukanlah kekayaan itu terletak pada kaya harta, tetapi kaya sesungguhnya itu terletak pada kaya jiwa, yaitu jiwa yang selalu qana’ah dan menerima dengan lapang dada setiap pemberian Allah swt kepadanya, tetapi syukur-syukur kalau kita bisa kaya harta/qana’ah lahir dan bisa kaya jiwa/qana’ah batin secara sekaligus. Marilah meraih keberkahan rezki dengan syukur qana’ah. Kekayaan dan kecukupan hidup, hendaknya tidak menjadi kendala seseorang untuk bertakwa, karena nikmat banyak sesungguhnya juga sekaligus sebagai ujian apakah bersyukur atau tidak (haadzaa min fadhli rabbii liyabluwanii a asykuru am akfuru). Harus yakin, bahwa iman dan takwa merupakan nikmat dan karunia Allah swt semata, yang patut untuk disyukuri. Oleh karena, mudah-mudahan kita selalu pandai bersyukur atas semua nikmat Allah swt yang diberikan, dititipkan pada kita, aamiin.

3. Bil Arkaan, Dengan anggota tubuh, bersyukur dengan anggota tubuh ini ada 3 cara :

1. Dengan hati/bil qalbi : caranya dengan bertafakkur kepada Allah swt, pandangan mata batin bahwa Allah swt lah Sang Maha Pemberi nikmat tersebut. Bersifat qana’ah, dalam urusan dunia melihat ke bawah (tapi tidak ekstrim) dan dalam urusan agama melihat ke atas. Sebagai perbandingan bahwa orang sufi dalam keadaan senang dan tak senang sekalipun selalu mengucap Alhamdulillah, karena aspek yang tak menyenanglan pun dianggap sebagai cara kasih sayang Allah swt untuk bisa meningkatkan iman taqwanya. Sungguh rahmat kasih sayang Allah swt lebih luas dari “murka”-Nya. Selalu berpikir positif (husnuz zhan) terhadap semua nikmat Allah swt, karena nikmat pada dasarnya adalah sebagai ujian, apakah pandai bersyukur atau tidak. Orang sering ingat Allah swt di saat susah yang juga sebagai ujian, tapi sering lupa kepada Allah swt di saat di uji dengan nikmat kesenangan. Dalam perspektif neo sufisme ada istilah sufi berdasi, pandai bersyukur di saat di uji dengan nikmat kesenangan.

2. Dengan Lidah/bil lisaan, Caranya dengan memuji Allah swt/mengucap Alhamdulillah, pujian pada nikmat dikembalikan lagi kepada Allah swt, bertasbih, dan zikir lainnya, tahadduts bin ni’mah, sujud syukur.

3. Dengan perbuatan/bil fi’li : menggunakan nikmat tersebut sesuai keinginan Sang Maha Pemberi, dimanifestasikan, direalisasikan untuk intensitas amal kebajikan yang semakin meningkat, seperti sedekah, berbagi, sosial, pemberdayaan (empowerment), infak, zakat, pembangunan mesjid, madrasah, pesantren, dsb, dan digunakan untuk semua amal kebajikan lainnya.

Semoga Allah swt selalu melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita semuanya, untuk pandai bersyukur, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa Allahu A’lam.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s