Marhaban Wa Ahlan Ya Ramadhan, Menggapai Kemilau Ramadhan Sekolah Penempaan Raga Dan Kesucian Jiwa

by  M Daud Yahya

Adalah suatu fitrah tauhidiyah bagi seorang mukmin yang baik apabila menjelang tiba Ramadhan ia menyambutnya dengan penghormatan istimewa. Perjumpaan dengan bulan Ramadhan yang dinantikan ini sangat besar pengaruhnya kepada jiwa dengan siraman keimanan dan ketaqwaan,  maka tak heran kalau umat Islam menanti pertemuan dengan bulan suci ini. Marilah kita sambut bulan Ramadhan dengan ibadah, taqarrub, tilawah tadarusan alquran, lanunan  zikir,  sedekah,  istighfar, dsb.  Ramadhan telah bertandang seraya memercikan kembali sinar keagungan dan mutiara hikmahnya. Selamat datang Ramadhan…Marhaban Wa Ahlan Ya Ramadhan…………….. Bukan lantaran bulan Ramadhan muncul sekali setahun sebagai bentuk kewajiban ritual semata, akan tetapi bulan ini mengandung nilai-nilai abstrak religius yang bisa dirasakan oleh umat Islam. Yang demikian merupakan sunnah Rasulullah SAW  bila  datang bulan Ramadhan beliau sering mengucapkan : Selamat datang hai yang mensucikan diri”. Para sahabat bertanya :, “Siapakah yang mensucikan diri itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab : “Yang mensucikan itu ialah bulan Ramadhan. Dia mensucikan kita dari dosa dan maksiat. Dalam hadits riwayat lain Rasulullah SAW  bersabda : “Barangsiapa bergembira menyambut kehadiran bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan mengharamkan jasadnya dari sentuhan api neraka.
Sebagai umat Islam tentu kita akan senang dan gembira menerima kehadirannya, sebab bulan ini adalah musim ibadah, dimana amal-amal ibadah, kebaikan, shadaqah dan kebaikan lainnya akan dilipatgandakan Allah SWT pahalanya, teristimewa ibadah puasa yang dikerjakan dengan iman dan ihtisab, maka hanya Allah SWT  saja yang tahu balasannya. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan mubarak (syahrun mubarak, bulan penuh berkah. Berkah artinya ziyadah/tambahan, la tanqathiul khairat/kebaikan yang selalu ada tak pernah putus), yang didalamnya puasa difardhukan. Bulan ketika tangan syaithan dibelenggu (ada yang memaknai bahwa orang puasalah sebenarnya yang mengikat syetan, apalagi ada syetan yang berasal dari jenis manusia dan yang berasal dari jenis jin, kalau manusia tidak/jarang maksiat di bulan Ramadhan  maka dengan sendirinya syetan terbelenggu. Syetan berjalan melalui pembuluh darah, syetan sulit berjalan pada pembulu darah orang yang sedang berpuasa), bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr.  Bulan yang diturunkannya Alqur an sebagai petunjuk bagi sekalian  manusia, bulan jihad hawa nafsu, bulan keselamatan, bulan petunjuk, bulan pengampunan. Ramadhan sendiri bermakna panas, pembakaran yakni bulan  membakar dosa-dosa selama 11 bulan lainnya, sehingga kembali suci. Kesempatan besarlah bagi kita untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.
Sudah saatnya, agar kita tidak hanya menginterpretasikan bulan Ramadhan sebagai koleksi larangan dan pantangan, tetapi juga memandang bulan ini sebagai koleksi kebajikan, ibadah, amal sholeh dan keutamaan. Rasulullah SAW  panutan kita telah memberikan contoh bagaimana mengagungkan dan memulyakan bulan Ramadhan, sebagai sekolah penempaan raga dan kesucian jiwa,  diantaranya yakni :

1. Kesehatan fisik

Allah SWT berfirman : “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. QS. Al-Baqarah : 184). Salah satu dari sekian banyak manfaat puasa, yakni terkait kesehatan. Nabi Muhammad SAW bersabda : shuumuu tashihhuu (berpuasalah niscaya kalian sehat). Puasa selain sebagai kewajiban wujud penghambaan kepada Allah, selain pahala ukhrawi juga manfat duniawi,  puasa bukan untuk kepentingan Allah SWT, melainkan puasa sebenarnya  manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri, bisa menjaga kesehatan fisik dan psikis, meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual.

Terkait puasa dan kesehatan fisik, hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah,  seperti dua filosof ternama dunia, Socrates dan Plato, pernah membuktikan bahwa puasa dapat menjaga vitalitas pikiran dan mencerdaskan otak. Alexis Carrel, peraih Nobel di bidang kesehatan pada tahun 1912 dalam bukunya Man The Unknown, menyatakan bahwa puasa memiliki efek dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Allan Cott, M.D., seorang ahli biologi dari Amerika Serikat dalam bukunya Why Fasting?, mengatakan bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan fisik sekaligus psikis (to fell better physically and mentally). Sementara Alvenia M. Fulton, direktur lembaga makanan sehat Fultonia di Amerika Serikat, mengemukakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah fisik. Secara ilmiah, puasa terbukti memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan. Selain hal diatas. sejumlah sejumlah ilmuwan dari berbagai negara juga menyatakan bahwa puasa bisa mengeluarkan racun dari dalam tubuh, menyembuhkan maag, bronchitisi, penyakit mata, penyakit kulit, migraine, obesitas, kelenjar buntu (endoktrin), gula tinggi, darah tinggi, kolesterol, dll. Puasa membuat jantung, pembuluh darah, usus perut, otak, organ, dll, beristirahat/kurang kerja selama lebih kurang sebulan puasa  setelah bekerja 11 bulan lamanya dibulan lain. Setelah jasmani istirahat sebentar, maka diharapkan akan bangkit kembali jasmani dengan refreshing, dengan lebih segar, lebih sehat kembali.

Untuk sehat maka lakukan puasa dengan benar, semisal mesti bersahur dengan mengakhirkan sahur, dalam sahur ada keberkahan walaupun dalam kondisi kesulitan tertentu hanya dengan secangkir bahkan seteguk air sekalipun,  kalau berbuka puasa maka dilakukan dengan  segera (dalam konteks berbuka puasa nampaknya umat Islam tanpa disuruh segera berbuka puasapun, umat Islam akan segera berbuka puasa sendiri……..lihat saja makanan minuman umat Islam yang segunung melimpah  dan pada sudah kumpul semua sebelum berbuka puasa….., jadi puasa melatih disiplin, keteraturan, kesabaran).  Meski segera berbuka puasa  tapi jangan langsung makan penuh tapi sedikit dulu baru shalat Maghrib, setelah itu makan lagi. Saat berbuka puasa para ahli gizi menganjurkan jangan makan yang keras dulu semisal nasi, jadi makanlah yang lunak dulu semisal kurma, bubur nasi, air putih, buahan. Rasululullah SAW makan berbuka puasa dengan kurma, atau bisa juga diganti dengan sesuatu yang manis.

2. Melawan/mengendalikan  hawa nafsu yang menyuruh berbuat kejahatan (al- nafs al ammarah bis suu’)

Puasa berarti imsak/menahan, melawan. Puasa selain menahan keinginan makan minum, seks, juga menahan hal yang membatalkan pahala puasa selain pahala menahan makan minum, seks. Kalau yang halal saja tidak boleh, ditahan, dikendalikan, supaya tidak keserakahan,  maka yang haram tentu lebih ditahan yakni dilawan.

Ringkasnya, nafsu yang menyuruh berbuat kejahatan (al- nafs al ammarah bis suu’) mesti dilawan, kalau tidak dilawan maka kita akan terjerumus dosa, dikendalikan oleh hawa nafsu hewani kita, yang derajatnya paling rendah. Sementara itu nafsu yang juga berfungsi sebagai dorongan (ada yang mengistilahkan jenis nafsu seperti ini dengan istilah gharizah) akan membawa kepada kedinamisan, semangat diri, jenis tipe nafsu tadi perlu dipupuk. Sementara itu kalau nafsu hewani saja yang dipakai maka tak beda manusia dengan hewan, bahkan lebih sesat dari hewan (bal hum adhallu). Oleh karena nafsu mesti dilawan supaya tak terjerumus dosa, sekaligus nafsu dikendalikan dengan memakai  aturan syariat, nafsu mesti  dikendalikan oleh qalbu spiritual yang derajatnya lebih tinggi, sehingga nafsu bisa berperan serta dalam berbuat amal sholeh sebanyak-banyaknya.

Imam al Ghazali ada membagi puasa menjadi 3 yakni :  puasa awam,   yakni puasa dari makan minum, seks.  Puasa khawash, yakni  puasa indrawi dari hal-hal  yang bisa menghilangkan pahala puasa.  Puasa khawasul khawash,  yakni  puasa hati, yakni  tidak berniatnya hati atau puasanya hati  untuk berniat  melakukan perbuatan yang bisa membatalkan puasa atau yang bisa membatalkan pahala puasa. Kalau hati tidak berpuasa, dengan ada niat hati berbuat tidak baik, maka akan menghilangkan  pahala puasa bahkan dianggap membatalkan puasa akibat adanya niat hati yang tidak baik tadi). Dengan puasa hati maka  puasa dilakukan dengan ikhlas, menghilangkan niat dari selain keridhaan Allah SWT.

Puasa  jihad hawa nafsu kalau dikaitkan dengan Teori Sigmund Freud,  Psikoanalisis tentang perkembangan kepribadian, bahwa Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego.

Id merupakan  energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.

Ego merupakan sebuah pengatur agar id dapat dipuaskan atau disalurkan dalam lingkungan sosial. Sistem kerjanya pada lingkungan adalah menilai realita untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Sedangkan Superego sendiri adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id (hawa nafsu).

Akan  halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

Salah satu jenis kecemasan Sigmund Freud adalah kecemasan moral,  adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah : a. represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, b. memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, c. pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, d. proyeksi; e. penggeseran; f. rasionalisasi;  g. sublimasi;  h. introjeksi; i. ritual dan penghapusan; j. konpensasi; k.  regresi.

Dalam perspektif tasawuf ada istilah mujahadah, yakni mujahadatun nafsi.

Hadits menyebut :  ash shaumu junnah, maknanya puasa adalah sebagai perisai (dari perbuatan jahat). Istilah puasa merupakan terjemahan dari kata shaum/shiyam  berarti “menahan diri dari suatu perbuatan dan meninggalkannya”. Inilah esensi puasa, yaitu menahan diri dari perbuatan yang dapat membatalkannya, baik membatalkan puasa ataupun yang  membatalkan pahala puasa.  Untuk mendapatkan puasa yang optimal dan diterima Allah SWT, kita juga diperintahkan  untuk meninggalkan/melawan/mengendalikan  hal-hal yang dilarang oleh-Nya, sehingga mudah-mudahan puasa kita bisa  berdampak pada takwa, aamiin.

3. Membaca alquran dan belajar

Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya alquran secara sekaligus dari Lauh Mahfudz ke baitul izzah di langit dunia pada malam lailatul qadar, bulan diturunkannya ayat pertama alquran pada malam 17 Ramadhan. Ramadhan disebut juga syahrul qur an, oleh karena seyogyanya dalam masa Ramadhan ini banyak-banyak membaca alquran, yang seyogyanya juga dilakukan pada selain bulan Ramadhan.

Selama Ramadhan, yang meskipun kita berpuasa, agar tetap belajar menuntut ilmu baik secara formal maupun non formal semisal pengajian agama, dsb. Begitupun produktivitas belajar, produktivitas kerja jangan menurun hanya karena berpuasa. Dulu di zaman Rasulullah SAW banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan dan uniknya kaum muslimin yang menang meski puasa, ada semacam “energi misterius spiritual” disaat puasa, disaat unsur materi makan minum seks hilang dan yang ada dominan adalah unsur spiritual. Meski barangkali dalam prakteknya bisa saja ada penyesuaian jam belajar, jam kerja, jam lembur, dsb, atas dasar berbagai pertimbangan lainnya.

3. Sedekah, zakat, infak untuk kepekaan sosial

Rasulullah saw banyak bersedekah pada bulan Ramadhan melebihi daripada bulan lainnya. Sedekah tidak hanya harta tapi juga bisa dengan bentuk lain.

Terkait berbuka puasa, bahwa kalau kita bisa membukakan orang lain yang sedang berpuasa dengan memberikan hidangan puasa, maka kitapun akan mendapat pahala seperti pahala orang puasa yang kita bukakan tadi tanpa dikurangi sedikitpun.

Selain sedekah, bisa juga melakukan zakat, infak, waqaf, zakat fitrah, dsb.

4. Qiyam Ramadhan/tarawih

Mudahan-mudahan kita bisa melaksanakan shalat tarawih sebulan penuh, tanpa ada bolong. Kalau tidak ada bolong Insya Allah akan terasa efek kesucian jiwa dibanding kalau tarawihnya ada bolong-bolong. Benarlah hadist : man qaama ramadhaana iimaanan wahtisaabaan ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi….. (barangsiapa yang qiyam ramadhan karena iman dan ihtisab mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lampau).

Begitupun kalau kita puasa sebulan penuh tanpa bolong-bolong  karena iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosa kita, hadits menyebut : man shaama ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi….

5. Mengintai lailatul qadar

Rasulullah saw beserta keluarga beliau di saat  sepuluh hari terakhir Ramadhan fokus ibadah, ada istilah mengikat tali pinggang saking ibadahnya, diyakini kalau kita di semua sepuluh hari tadi benar-benar ibadah maka mesti akan dapat pahala lailalatul qadar meski kita tak menemui peristiwa khusus lailatul qadar sekalipun. Adanya peristiwa khusus menemui lalilautul qadar bisa jadi karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, sehingga terkadang ada peristiwa aneh.

Salah amalan yang dianjurkan banyak dibaca  saat  sepuluh malam terakhir  adalah  zikir istighfar, minta maaf yakni Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniii…………..Selain minta ampun pada Allah SWT, juga minta maaf  silaturahmi pada manusia. Rasulullah SAW juga menganjurkan memperbanyak i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Juga dianjurkan memperbanyak do’a selama Ramadhan. Konon, orang yang mendapat berkah lailatul qadar tidak hanya rajin ibadah  pada saat sepuluh terakhir Ramadhan, tapi adalah orang yang sudah rajin ibadah sejak awal tanggal 1 Ramadhan sampai akhir Ramadhan non stop. Selanjutnya, lakukanlah puasa  sunat 6 hari pada bulan  Syawwal karena puasa ini mirip dengan shalat sunat rawatib yang mengiringi shalat wajib. Puasa sunat 6 hari pada bulan Syawwal  berfungsi menutupi kekurangan puasa Ramadhan kita. Karena 1 hari puasa nilainya sama 10 hari puasa, maka jumlah 36 hari dikali 10 = 360 hari, yakni sama dengan berpuasa sepanjang tahun. Selain puasa 6 hari pada bulan Syawwal, banyak pula dikenal puasa-puasa sunat lainnya sepanjang tahun 11 bulan lainnya.

Dengan demikian, puasa akan menghilangkan toksin racun dari tubuh sehingga tubuh sehat kembali. Begitu pula puasa dan berbagai amal ibadah,  berbagai amal sholeh yang dilakukan dibulan Ramadhan akan menghilangkan toksin racun dosa-dosa, sehingga mendapatkan kesucian jiwa, jiwa fitri/jiwa fitrah.

-Mentransformasikan Spirit fitri/spirit fitrah  sebagai khalifatullah abdullah dalam kehidupan dunia akhirat

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan sekolah penggembelingan raga dan kesucian  jiwa, kembali ke fitrah jiwa yang suci/ kembali idul fitri pada saat 1 syawal, saat merayakan raya idul fitri, hari kemenangan melawan/mengendalikan hawa nafsu,  minal ‘aaidiin wal faii iziin ( artinya, semoga termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah suci dan termasuk orang-orang yang menang melawan hawa nafsu/mengendalikan).

Dengan demikian, pembakaran dosa, pembinaan mental spiritual dilakukan di bulan Ramadhan (bulan Pembakaran) agar kembali fitrah suci (idul fitri), sementara  meningkatkan mental spiritual  berkelanjutan di bulan Syawwal (bulan Peningkatan) dan di bulan selanjutnya.   Kenapa demikian? Sebab sesungguhnya ujian puasa hawa nafsu dan terbelenggu syetan yang sesungguhnya adalah pada masa 11 bulan berikutnya diluar Ramadhan. Karena  barangkali akan masuk akal kalau pelanggaran agama cenderung turun di bulan Ramadhan, sebab adanya kewajiban puasa Ramadhan untuk melawan hawa nafsu dan terbelenggu syetan (mungkin jadi pertanyaan apakah terbelenggu syetan di bulan Ramadhan khusus bagi orang Islam atau tidak, apakah non muslim yang tidak puasa berlaku terjadi  juga terbelenggu syetan atau tidak, Wa Allaahu A’lam). Kondisi tadi tentu berbeda dengan kondisi yang ada diluar bulan Ramadhan yang tidak ada kewajiban puasa terkait hawa nafsu dan terbelenggu syetan.  Memang seyogyanya didikan puasa tidak hanya sampai mencapai jiwa yang  suci, tapi bagaimana  dampak dari jiwa yang suci tadi bisa memberikan kontribusi pada kebaikan yang lebih luas, menjadi khalifatullah abdullah dengan mental yang suci. Nampaknya, spirit fitri/ spirit fitrah inilah yang perlu dipelihara,  dipupuk, dibina untuk menghadapi kehidupan ini, dengan lebih baik lagi,  dengan lebih banyak lagi kebajikannya (daripada dosa kecilnya)  pada 11 bulan berikutnya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan berupa berbagai kebaikan dan amal sholeh, maka kalau bisa meramadhankan semua bulan 11 bulan lainnya, menjadikan 11 bulan seakan-akan seperti ibadah bulan Ramadhan, hendaklah konsisten bahkan ditingkatkan lagi di 11 bulan lainnya. Mudah-mudahan kita bisa mencapai derajat taqwa, dengan bisa lebih terlatih lagi  menjauhi maksiat  dan melakukan lebih banyak lagi kebajikan dengan merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap langkah kita, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa Allaahu A’lam.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Isra Mi’raj : Pendakian Spiritual dan Transformasi Sosial

Isra Mi’raj : Pendakian Spiritual dan Transformasi Sosial
by M Daud Yahya

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa dahsyat yang diabadikan dalam alquran, yang selalu diperingati orang. Maka dengan adanya peringatan peristiwa tersebut, maka alquranpun akan selalu dibaca dan dipelajari orang.

Banyak berbagai sudut pandang yang bisa diambil dari peristiwa Isra Mi’raj, yang oleh kalangan Sunni dianggap sebagai mu’jizat terbesar kedua setelah Alquran. Hikmah tersebut antara lain :

1. Pendakian Spiritual
Dalam kajian fenomena alam dalam sudut pandang Islam, ada sesuatu yang bersifat rasional, bisa dilogikakan, tapi ada juga sebagian peristiwa yang sulit dicerna secara rasional, istilahnya khaariqul ‘aadat (diluar dari kebiasaan). Akan halnya peristiwa isra mi’raj merupakan peristiwa yang bukan rasional, tetapi ia peristiwa yang termasuk kategori mu’jizat Nabi Muhammad saw. Oleh karena, ayat tentang Isra dimulai dengan kata subhaana, yang menunjukkan adanya campur tangan kekuasaan Allah yang memperjalankan hambanya, jadi bukan hamba yang jalan sendiri tapi hambalah yang diperjalankan oleh Allah (asraa/Allah memperjalankan pada malam hari, bi ‘abdihii/hambanya, dalam peristiwa ini). Pemakaian kata a’bd/hamba dalam alquran menunjukkan bahwa peristiwa tersebut dilakukan dengan jasmani dan rohani sebagaimana kepercayaan kalangan Sunni (tapi menurut Mu’tazilah, hanya mimpi saja/hanya roh). Ini ibarat semut kecil yang ikut pesawat besar ke benua lain. Menunjukkan Kemahabesaran Allah yang segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak-Nya.

Kalimat Minal masjidil haraam ilal masjidil aqshaa (dari mesjidil haram ke masjidil aqsa). Bahwa jiwa yang suci berangkat dari tempat yang suci menuju tempat yang suci pula. Bahkan Nabi Muhammad saw pun dibedah hatinya untuk menerima berbagai hal, sehingga hati suci. Artinya kalau menghadap Allah mesti dengan kesucian jiwa. Penyucian hati ini bukan berarti bahwa sebelum mengalami proses pembedahan, hati Rasulullah saw belum suci. Tujuan penyucian tersebut adalah mensucikan sesuatu yang sudah suci. Dalam istilah Habib Ali al-Habsyi di dalam qasidahnya “Thâhirun ‘ala thâhirin” mensucikan sesuatu yang suci. Setelah penyucian hati dengan air zam-zam selesai, proses selanjutnya adalah menuangkan tiga unsur cahaya ke dalam hati Rasulullah Saw. Tiga unsur cahaya tersebut adalah cahaya iman, cahaya ilmu, dan cahaya hikmah. Dengan dibekali tiga unsur cahaya itulah, nantinya akan semakin meneguhkan hati Rasulullah Saw dalam perjalanan menuju hadrat Ilahi. Hikmah yang dapat dipetik dari proses pembedahan hati Rasulullah Saw, bahwa apabila hati kita sudah melewati proses penyucian, maka Allah pun akan menuangkan cahaya iman, ilmu, dan hikmah ke dalam hati kita, maka seseorang dengan hal tersebut bisa menjadi ulama, cendikiawan muslim, sainstis muslim, orang-orang sholeh, dsb.

Jika ketiga unsur cahaya ini kita korelasikan dengan teori Annihilasi, maka bisa kita katakan bahwa materi adalah jasad manusia, sedangkan unsur-unsur cahaya tersebut adalah anti materi. Jika materi dan anti materi tersebut disinergikan, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya. Orang yang mampu mensinergikan ketiga elemen unsur tersebut yang bersemayam dalam hati yang bersih, maka sesungguhnya dia telah berubah dirinya menjadi cahaya, dalam terminologi tasawuf ada istilah fana ul fana. Nabi Muhammad saw sering berdoa agar dijadikan cahaya waj’alnii nuuran (jadikan aku cahaya). Resonasi hati yang suci akan memancarkan gelombang cahaya yang menyinari pemiliknya dan orang-orang yang ada disekitarnya, dengan menjadi ulama, cendikiawan muslim, sainstis muslim, orang-orang sholeh, dsb.

Iman, ilmu dan hikmah adalah cahaya kehidupan anti materi yang menerangi jalan untuk mengenali Allah, merasa sangat dekat dengan Allah.

Dari sini kita bisa pahami bahwa jika seorang hamba ingin menghadap Allah, maka selain kesucian fisik dengan cara berwudhu, kesucian hati juga lebih utama, sebab kita akan berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Suci. Allah menghendaki kesucian hamba-Nya sebelum bertemu dengan-Nya, sehingga Rasulullah Saw yang sudah benar-benar suci pun juga mengalami proses pensucian yang sama. Hati adalah tempat pandangan Allah kepada para hamba-Nya. Hati juga merupakan sentral dari segala pusat sistem organ tubuh manusia, sekaligus pusat pandangan Allah ( wa laa kinnallaaha yandzhuru ilaa quluubikum). Semoga kita mempunyai hati yang bersih, selamat/qalbun saliim, kesucian jiwa/tazkiyah nafs. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Pada waktu di Sidratul Muntaha, di hadrat Ilahi, Nabi Muhammad saw berada dengan jarak yang sangat dekat sekali dengan Allah, yang dalam alquran disebut fakaana qaaba qausaini au adnaa (berjarak dua busur atau lebih dekat lagi). Pelajaran yang bisa diambil, bahwa ini menunjukkan Allah Yang Maha Suci hanya bisa didekati dengan sedekatnya oleh makhluk yang suci pula, dengan spiritual yang tinggi. Meski demikian, Allah bukan berarti berada bertempat pada sesuatu, tetapi Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Dalam Mi’raj, Nabi Muhammad saw juga menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah swt tanpa perantara Jibril. Shalat merupakan satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima secara langsung dari Allah swt oleh Nabi Muhammad saw. Yang menarik bahwa Tuhanpun ada unsur demokratis negosiasi, yakni dari perintah 50 kali menjadi 5 kali shalat dalam sehari semalam, tetapi yang nilainya sama dengan 50 kali shalat tadi. Diskusinya Nabi Muhammad saw dengan Nabi Musa as, menunjukkan bahwa orang yang lebih muda menghormati seniornya Nabi Musa as. Dalam suatu hadits disebutkan : As shalaatu mi’raajul mu’miniin (shalat adalah mi’rajnya orang beriman). Orang berimanpun bisa melakukan mi’raj melalui shalatnya yang khusu’. Semakin khusu’ maka semakin mi’raj, semakin tinggi spiritualnya. Supaya bisa khusu’ maka perlu memperhatikan 3 hal : 1. khusu’ qalbi/hati, termasuk rukun qalbi, misalnya dengan menghadirkan hati kepada Allah. 2. Khusu’ qauli/perkataan, termasuk rukun qauli, misalnya paham terhadap bacaan yang sedang dibaca. 3. khusu’ fi’li/perbuatan, termasuk rukun fi’li, misalnya gerakan shalat yang benar dengan thuma’ninah/tenang. Tetapi kalau khusu’ ternyata sulit dilakukan secara sempurna, maka untuk menutupi kekurangan tadi perbanyaklah shalat-shalat sunat untuk kesempurnaan khusu’ shalat fardhu kita. Dengan mengerjakan shalat yang demikian maka sampailah kita pada mi’raj, hadrat Ilahi, pada kesucian jiwa, spiritual yang tinggi, kedalaman spiritual (deeply spirituality), bisa merasa sedekat-dekatnya dengan Allah swt, bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap napas gerak langkah kita. Inilah salah satu hikmah dari peritiwa Isra Mi’raj.

2. Transformasi Sosial

a. Transformasi Sosial Moral. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad saw banyak menyaksikan berbagai perumpamaan, yang bisa menjadi ‘ibrah pelajaran bagi manusia. Misalnya ada orang yang memotong lidahnya, sebagai perumpamaan orang yang suka berbohong. Ini merupakan pelajaran bahwa seyogyanya menghindari suka berbohong. Dan masih banyak peristiwa lainnya yang dialami Nabi Muhammad saw, yang kesemuanya itu bisa diambil pelajaran dalam kehidupan sosial sehari-hari.

b. Transformasi Sosial Politik. Pada dasarnya tanah Yerussalem menjadi tanah suci 3 agama baik Yahudi dengan Sulaiman Templenya/Haikal, Kristen dengan Betlehemnya/Baitu Lahmin, sementara Islam dengan Isra Mi’rajnya, juga bahwa Baitul Maqdis pernah dijadikan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat sebagai kiblat selama sekitar 16 bulan, begitupun Palestina pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kekhalifahan Umar bin Khatthab berikut beberapa khalifah selanjutnya. Oleh karena, peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu bagian penting dari kesadaran transformasi sosial politik terkait tanah suci Palestina (Alhamdulillah sudah ada proses kemerdekaan, proses perdamaian).

c. Transformasi Sosial Iptek. Pada masa 14 abad yang lampau, orang barangkali tidak pernah membayangkan akan ada manusia yang bisa ke luar angkasa. Nabi Muhammad saw telah memulai suatu hal yang belum pernah dipikirkan orang pada saat itu, ke luar angkasa dengan memakai kendaraan Buraq (kilat atau petir), cahaya. Zaman sekarang dengan kemajuan iptek manusia sudah bisa sampai ke bulan, ke planet Mars, bisa meneropong alam semesta, dsb. Dalam sudut pandang teori Annihilasi, bahwa teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama. Dikaitkan dengan peristiwa Isra Mi’raj, maka proses pengubahan materi menjadi cahaya (Annihilasi) terjadi sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai, dengan peristiwa bedah air zam-zam, dengan kesucian jiwa lalu diisi iman, ilmu, hikmah, maka Nabi Muhammad saw pada dasarnya telah menjadi cahaya, karena nihil, lenyap. Dalam sudut pandang teori relativitas waktu dalam peritiwa Isra Mi’raj, bahwa semenjak para ilmuwan menemukan teori relativitas cahaya ala Albert Einstien, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya, maka ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mampu membuktikan bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj adalah sesuatu yang luar biasa dan diluar kemampuan manusia biasa. Dari sudut pandang teori kecepatan cahaya, maka Isra Mi’raj sangat memungkinkan ditempuh dalam kurang dari satu malam. Sebagai ilustrasi bahwa pesawat jenis Space Shuttle, pesawat tercanggih yang menempati urutan pertama pesawat tercanggih dan tercepat di dunia saat ini yang memiliki kecepatan 20.000 mil per jam, maka jarak Isra dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha yang tidak kurang dari sekitar 1200 Km. bisa dicapai dengan sekitar 2 menit saja. Dari sudut pandang teori perubahan dimensi, bahwa bisa dilihat dari sudut perbedaan perubahan dimensi yang terjadi pada Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan antar dimensi dengan memakai ala teori fisika kuantum. Jadi peristiwa Isra Mi’raj secara tak langsung juga menggugah umat Islam agar melakukan transformasi sosial dibidang iptek, dengan menguasai iptek ruang angkasa khususnya, dan menguasai keseluruhan iptek secara umumnya, atas dasar tauhid kebesaran Ilahi. Iman, ilmu dan hikmah adalah cahaya kehidupan yang menerangi jalan untuk mengenali Allah, merasa sangat dekat dengan Allah swt, merasakan kehadiran Allah swt. Orang-orang yang telah mendaki dan telah mempunyai spiritual yang tinggi, punya kecerdasan Kenabian (The Prophetic Intelligence), yang bisa membawa ke arah jalan yang baik dan benar, ke arah transformasi sosial di segala bidang kehidupan. Wa Allaahu A’lam.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pernik-Pernik Hikmah Kehidupan

Kumpulan Pernik  Hikmah  Kehidupan :

Yang membuat kita bahagia, gembira, indah, tentram nan damai adalah cinta dan kasih sayang (dalam perspektif istilah terminologi agama disebut sakinah, mawaddah, wa rahmah, sebagai anugerah karunia Allah swt Sang Maha Kuasa, tanda sebagian kekuasaan-Nya). Yang membuat kita dewasa adalah masalah. Yang membuat kita sedih adalah tidak ridha, dan tidak pandai serta tidak mampu menata hati dan pikiran, dan yang membuat kita hancur adalah putus asa. Yang membuat iman takwa kita bisa meningkat adalah ujian cobaan hidup, baik ujian cobaan hidup berupa berbentuk sesuatu yang menyenangkan, maupun ujian cobaan hidup berupa berbentuk sesuatu yang tidak menyenangkan. Yang membuat kita kaya adalah pandai bersyukur dan pandai bersikap qana’ah. Yang membuat kita selalu optimis adalah berpikir positif (husnuz zhan). Yang membuat kita bisa maju adalah berpikir positif dan berusaha berikhtiar dengan sekuat tenaga, maka tidak ada yang dapat mengubah hidup kita selain diri kita sendiri (semuanya itu atas ijin Allah swt), oleh karena motivator terbaik untuk kita adalah diri kita sendiri. Karena walaupun kita mengikuti jutaan motivati, tapi dalam diri kita belum ada niat untuk berubah sama saja dengan nihil. Sebaliknya, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Kalahkan diri kita sendiri, baru kita mencapai tangga yang lebih tinggi. Yang membuat jiwa kita suci, kesucian jiwa (tazkiyah nafs) adalah takhalli, tahalli, tajalli, banyak istighfar dan taubat, banyak amal kebajikan, taqarrub iman takwa. Sebagaimana planet bisa teratur karena berjalan sesuai orbitnya, kereta api bisa sampai tujuan karena berjalan sesuai relnya, maka yang membuat kita bisa selamat sampai tujuan adalah kalau kita berpegang teguh pada orbit, rel aturan agama. Memang selaku manusia biasa, orang yang baik bukanlah berarti orang yang tidak pernah salah sama sekali, tetapi orang yang menyadari akan kesalahannya, melakukan istighfar dan taubat yang dibarengi dengan banyak berbagai amal kebajikan, dan berusaha memperbaikinya (tetapi kesalahan kecil/besar dengan manusia maka diurus, dibicarakan dengan manusia).Yang membuat hidup kita berarti adalah menjadikan hidup sebagai pengabdian dan manfaat kebermaknaan hidup. Yang membuat kita bisa kuat, tegar, ulet dan bisa merasakan ketenangan hidup adalah do’a, sabar, zikir, ikhlas, tawakkal, iman takwa. Yang membuat terang dalam meniti kehidupan kita adalah ilmu (lentera cahaya ilmu). Yang membuat nikmat kita bisa bertambah dan lebih berkah adalah berbagi dan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan maksud Sang Maha Pemberi. Wallaahu A’lam.

CLASSICERS ’91 : Dimana Kaki Berpijak, Islam Tetap Di Pundak………Kemanusiaan Universal……..Menjawab Tantangan Zaman…………..Pesan Kyai : Jadilah ulama yang intelektual/ulama cendekiawan atau menjadi intelektual yang ulama/cendekiawan ulama/cendekiawan muslim, jangan menjadi intelektual yang sekedar tahu agama……

Kesungguhan dalam bekerja bukan karena takut pada atasan, tapi takut pada keluhan masyarakat.

Dalam tradisi agama dikenal istilah ikhlas. Ikhlas secara fikih berarti melaksanakan sesuatu ibadah (mahdhah dan ghairu mahdhah) disebabkan semata atas pelaksanaan perintah Allah swt, yang tertuang dalam alquran dan hadits. Ikhlas secara tasawuf berarti melaksanakan sesuatu ibadah (mahdhah dan ghairu mahdhah) disebabkan semata atas niat murni karena Allah swt. Ikhlas neo sufisme berarti melaksanakan sesuatu ibadah (mahdhah dan ghairu mahdhah) dengan mengharap balasan dari Allah swt bukan dari manusia (manusia hanya perantara saja), mengharap ridha Allah swt. Balasan dan ridha Allah swt yang diberikan pada hamba-Nya tidak terbatas dan lebih besar dari segalanya yang serba terbatas.

Oleh karena itu, dalam melakukan sesuatu semisal bekerja, mesti dengan niat ikhlas. Tanpa ikhlas maka bekerja tidak bernilai ibadah. Menjadi pegawai Tuhan. Selain itu adanya kesadaran bahwa apapun yang kita kerjakan akan selalu diawasi dan dicatat malaikat, yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Kesungguhan kita dalam bekerja bukan karena semata takut/loyalitas pada atasan, tapi takut pada keluhan masyarakat. Dilakukan secara profesional dan integritas.

Piagam Madinah Based on Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Civil Society Islam & Civil Religion/Madani, Demokrasi Islam, Pancasila,Subtantif Integratif Pokok Umum Universal,Inklusif Toleransi Aktif Egaliter, Religius Humanis, Moderat Progresif, Religius Nasionalis Modern.

 

Allah Dan Rasul-Nya Hanya Dan Di Atas Segalanya
Berdo’a, Ikhlas, Berusaha Berikhtiar/Do Your Best, TawakkalMan jadda wajada…Innallaaha Laa Yughayyiruu Maa Bi Qaumin Hattaa Yughayyiruu Maa Bi Anfusihim……Wa Man Yatawakkal ‘Alallaahi Fahuwa Hasbuh……

Sedekah Power

Kebahagiaan Bukan Terletak Pada Siapa Anda, Pada Apa Yang Anda Miliki, Tapi Terletak Pada Pandangan Terhadap Sesuatu Yang Ada Pada Pikiran Anda. Positive Thinking : The Happiness Of Your Life Depends On The Quality Of Your Thoughts And Efforts…. That Today And Tomorrow Would Be Better Than Yesterday….Under The Permission Of Allah

Laqad Kaana Lakum Fii Rasuulillaahi Uswatun Hasanah. Ibda’ Binafsika. Perlakukanlah Orang Lain Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan/Treat Others The Way You Want To Be Treated. Urgensi Perdamaian Dan Kedamaian, No War, No Fear, Spreading Peace Throughout The World. Customer Service (Melayani, Melindungi, Mengayomi). Hargailah Diri Sendiri Dengan Pandai Menghargai Orang Lain. Bahagiakanlah Diri Sendiri Dengan Membahagiakan Orang Lain, Dilakukan Dengan Niat Ikhlas Karena Allah Sebagai Maha Sumber Segala Sesuatu, Maha Pemberi
Rahmat.

Khairun Naas Man Thaa”la ‘Umruhu Wa Hasuna ‘Amaluhu, Khairun Naas Anfa’uhum Lin Naas, Ridhallaahi Fii Ridhal Waalidain Wa Sukhtullaahi Fii Sukhtil Waalidain, Alaa Bi Dzikrillaahi Tathma’innul Quluub, Rahmatan Lil ‘Aalamiin.

Bahasa
Agama
Telepon Seluler

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Konsep Epistemologi Integrasi By M Daud Yahya

KONSEP EPISTEMOLOGI INTEGRASI
by M Daud Yahya
Konsep Epistemologi Integrasi. Konsep Epistemologis Metodologis Integrasi : 1. ‘Ilmul Yaqin = rasional, objektif- positif, logis, burhani, kasbi, dialogis-diskusi, komparatif, argumen, sistemik, hipotesis, penalaran logika deduktif, penalaran logika ilmiah, bisa diuji/evaluatif, skeptis moderat/relatif/kritis-analisis, konseptual akademik/teoritis, interpretasi, valid, terukur. 2. ‘Ainul Yaqin = bisa diindra/indrawi, empiris, bukti konkrit, burhani, kasbi, trial and error, verifikasi, penalaran logika induktif, penalaran logika formal, observasi, probabilitas, kontekstual, konseptual operasional, aplikatif, eksperimen. 3. Haqqul Yaqin = wahyu, tauhid, intuisi, khabar shadiq (true report), ru’yah shadiqah (true dream), ‘irfany, ma’rifah, laduni, musyahadah/mukasyafah, ilham, dzauk/rasa, shadr-qalbu-fuad-lubb, bashirah, pancaran pelimpahan cahaya nur Ilahi/supranatural Ilahiyah, penalaran logika mutlak absolut/agama dan penalaran logika relatif spekulatif/filsafat metafisika Ilahiah, hikmah, burhani, hidayah/petunjuk Ilahi, subtantif nilai universal, metafisika/metanarasi, transidental, etika-budi pekerti-susila-norma-moral-character building-akhlak based, spiritual.Ontologi : semua ayat-ayat Tuhan (qauliyah, kauniyah, insaniyah, ijtima’iyah, ilhamiyah, fisik-inderawi-eksoteris- jasmani-material, non fisik/psikis/metafisika/metaempiris/metanarasi-non inderawi-esoteris, rohani, non material, dsb).

Aksiologi : dengan integrasi diharapkan tidak terjadi ilmu bebas nilai, ilmu tidak berjalan sendiri-sendiri, bahwa ilmu umum hanya fokus pada materialisme yang berdampak pada dehumanisasi, sekularisasi, alienasi, krisis spiritual dunia masyarakat modern, menyalahgunakan ilmu umum yang sangat membahayakan kehidupan manusia dan alam semesta, pengingkaran keberadaan Tuhan/atheisme saat menganggap bahwa Tuhan telah mati dan saat menganggap bahwa manusia adalah segala-galanya (bahkan Tuhan dianggap pada dasarnya “diciptakan” oleh manusia, bukan manusia yang diciptakan Tuhan), kepribadian terpecah (split personality), kerusakan lingkungan hidup, kerusakan biosfer planet bumi, dsb, sebaliknya ilmu agama tidak hanya fokus mengurus ritual, yang jauh dari kehidupan realitas empiris (“sekularisasi”), sehingga agama kurang fungsional dalam kehidupan, terjadinya jurang antara dogma agama dengan realitas sosial, kurang bisa memecahkan persoalan tantangan zaman, kurang memberikan landasan moral agama, sehingga kurang tepat guna, kurang tepat nilai. Ilmu agama “disosialkan”, “dibumikan”. Perlu kesadaran bahwa semua obyek ilmu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Sesama makhluk Tuhan yang menjadi obyek ilmu, tentu ada titik temu. Sesama makhluk Tuhan tentu bisa bersatu, berintegrasi, bisa “dinikahkan/dikawinkan”, berkombinasi. Oleh karena pakar fikih, tauhid, sejarah, tafsir, hadits, dsb, mesti menguasai alat bantu paling minimal dasar ilmu umum seperti ilmu sosiologi, ekonomi, psikologi, fisika, filsafat kritis, pendidikan, humaniora, antropologi, dsb. Sebaliknya pakar ilmu umum, mesti menguasai alat bantu paling minimal dasar ilmu agama, sehingga ilmu umum tidak kering spiritual profetik dan tidak terjadi pemakruhan, pengharaman ilmu umum karena takut membahayakan tauhid sebagaimana terjadi dalam sejarah saat pada masa periode kemunduran pengetahuan dan peradaban Islam atau melalui integrasi team teaching. Perlu kesadaran bahwa Tuhan sebagai Maha Sumber segala ilmu, ‘allamal insaan maa lam ya’lam. Meski suatu disiplin ilmu pada dasarnya bersifat otonom, dalam kerangka memudahkan pengembangan bidang kajian keilmuannya, tetapi diharapkan bisa saling mendekat, saling melengkapi, integrasi, sehingga terwujud terjadinya kesatuan fungsional antara kebenaran filsafat/akal mustafad, akal aktif/akal fa’al (bandingkan dengan penemuan neorusains terkait fungsi sel otak, dalam sudut perspektif neorusains pada dasarnya bahwa yang dimaksud dengan qalbu dalam alquran dan hadits adalah otak jasmani yang berfungsi untuk berpikir,merasa/dzauk,berintuisi. Tetapi bandingkan juga bahwa ada temuan baru, bahwa fungsi berpikir intelektual, merasa emosional, intuisi spiritual bukan hanya sebatas pada fungsi otak, melainkan merupakan fungsi gabungan dari  fungsi otak sampai  fungsi jantung), dengan kebenaran ilmu pengetahuan dan teknologi/rasio-indrawi serta kebenaran agama/wahyu, kesucian jiwa (disamping kesatuan dalam ontologi dan epistemologi). Adanya disiplin ilmu yang saling mendekat, saling bersatu, saling sapa, saling membutuhkan, saling kerjasama, saling keterhubungan antar berbagai disiplin ilmu, maka akan lebih dapat membantu manusia dalam memahami kompleksitas persoalan kehidupan dan sekaligus memberikan upaya pemecahannya, sehingga tepat guna, tepat nilai. Kalau masing-masing suatu disiplin ilmu jalan sendirian, maka kompleksitas persoalan kehidupan sulit ditemukan, yang dengan sendirinya tak ada tawaran solusi, ilmupun menjadi tak bermanfaat. Maka diharapkan ilmu agama dan umum sama-sama memberikan manfaat/rahmat semesta terhadap keseimbangan dan keselarasan kosmik, lingkungan hidup, manusia, hewan, tumbuhan, hasanah dunia dan akhirat, dsb, kedua ilmu tersebut diharapkan bisa menyampaikan pada kebesaran Tuhan (bertingkat : mubtadi, mutawassith, muntahi, berdimensi beriman tauhidiyah, kedalaman spiritual, berilmu luas amaliyah, beramal ilmiyah, taqwa, akhlak, peradaban Islam, berdimensi manusia holistik komprehensif integralistik sebagai khalifatullah abdullah dalam rangka membangun kemajuan peradaban khas Islam yang bersifat subtantif universal yang solutif dalam memberikan sumbangan pada masyarakat dunia masa kontemporer dan masa yang akan datang yang bersifat terbuka dan kerjasama, dalam rangka memakmurkan bumi, mewujudkan bayang-bayang surga dimuka bumi.

Lingkup : normatif, filosofis, praktek operasional, realitas sosio-historis, realitas sosio kultural antropolog, pengembangan/perbaikan/penyempurnaan/pembaharuan/modernisasi/aktualisasi, reorientasi, reformulasi, rethinking/revitalisasi/rekontruksi (filosofis, epistemologis, metodologis, praktek operasional, pengembangan pola pikir holistik komprehensif integralistik, potensi fitrah dan kepribadian individu sosial universal, bahan ajar, kurikulum, tenaga pengajar yang berwawasan integrasi atau integrasi team teaching, kelembagaan), mengakar, pengetahuan modern, realitas masyarakat modern, future oriented.

Dasar : alquran hadits (sumber normatif, landasan, cara pandang, sumber nilai, dorongan, arahan, bimbingan, pengendalian, kontrol), tauhid, kemanusiaan, bayani, ijtihad, pendekatan berbasis proses ( standar isi, standar proses, standar hasil, with high quality process approach based, step by step in whole from beginning until finishing, bahkan pasca produksi), pola kemitraan egaliter sejajar aktif partisipatif yang berada dalam posisi dan relasi yang demokratis dalam rangka penggalian, pembinaan, pengembangan potensi diri (bukan otoritarianisme intelektual, bukan indoktrinasi, bukan gaya bank, bukan hubungan hierarki, bukan hubungan subjek-objek, bukan hubungan dominasi-subordinasi), yakni berposisi sama-sama sebagai subyek yang aktif partisipatif dalam kerangka proses yang sama-sama sedang mencari kebenaran yang saling melengkapi mutual simbolistik, empowerment kreatif inquiry dinamis optimis afektif inovatif produktif, memperkuat basis kemampuan berbahasa, kekuatan metodologi sebagai bagian dari basis tradisi ilmiah yang membudaya (academic atmosfhere) dan mentalitas sebagai ilmuan yang juga bagian dari academic asmosfhere based (ngasih kail/alatnya bukan ngasih ikannya), kesatuan umat/kesatuan manusia, sistem nilai/berbasis nilai (value-based), profesionalisme, terbuka, keseimbangan (teosentris-antroposentris,jasmani-rohani,antara harmonisasi wahyu dan akal, fisik-psikis, kebenaran Ilahiah-kebenaran insaniah-absolut-relatif- profan-nisbi, dunia-akhirat), religius humanis, persamaan, keutamaan, pendidikan seumur hidup, rahmat semesta, subtantif nilai universal, terbuka nan kritis, mengakar, pengetahuan modern, reflektif multi disiplin, reflektif inter-disipliner, holistik komprehensif integratif, interdependensi-sensitivitas-sintesis-koheren-koeksistensi, mutual simbiostik-elaborasi interkonektif komplementer. Wa Allaahu A’lam.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memahami Takdir (Qadhar dan Qadha)

By M Daud Yahya

MEMAHAMI TAKDIR (QADHAR dan QADHA). Secara bahasa, kata qaddara-yuqaddiru berarti mengqadarkan, mengira-ngira, merencanakan (masih berupa perencanaan/rancangan/ancang-pancang), menggariskan, menentukan, mengukur/ukuran, menetapkan. Allah sudah menetapkan, menakdirkan, menggariskan nasib seseorang melalui aturan-aturan-Nya, yakni melalui sunnatullah, sunnatullah tak pernah berubah/wa lan tajida li sunnatillaahi tabdiilaa, sebagai perbandingan ada pula ayat yang berbunyi innallaaha laa yughayyiru maa bi qaumin hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim. Terlepas apakah azali atau tidak, berubah atau tidak (untuk hal ini hanya Allah yang lebih Maha Tahu, Allah tidak terikat dengan siapapun, tidak terikat dengan perbuatan-Nya sendiri, terserah Allah, bisa ya dan bisa tidak, ada ijtihad ulama mengenai takdir
mu’allaq (bisa kita namakan dengan istilah takdir sunnatullah), yakni takdir yang tergantung pada usaha ikhtiar kebebasan memilih manusia, seperti kalau mau sukses belajar maka rajinlah belajar, secara perspektif metafisika tergantung sepenuhnya kepada Allah (ijbary ,keterpaksaan) tapi secara etik praktis rasional dunia nyata manusia bebas memilih perbuatan (free will, ikhtiyary), selanjutnya takdir mubram (bisa kita namakan dengan istilah takdir ghairu sunnatillah),yakni takdir yang pasti dan tidak bisa dihindari manusia, karena tidak tergantung pada usaha ikhtiar kebebasan memilih manusia, seperti manusia tak bisa menentukan untuk memilih dilahirkan di negara mana saat masih bayi, kapan terjadinya kiamat, dsb, qadar pentakdiran ciptaan sudah ditentukan oleh Allah, ada ayat yang berbunyi yamhullahu maa yasyaa u wa yustbitu wa ‘indahuu ummul kitaab. Takdir sesuatu yang rumit karena terkait dengan kebebasan manusia, sebab akibat sunnatullah, tanggung jawab dan kehendak Tuhan, siapa subjek pelaku, berusaha berikhtiar, pengaruh formal akademik dan pengaruh riil dalam kehidupan nyata, kebaikan usaha baik sukses atau gagal akan dinilai Allah, tauhid, azali, berubah atau tidak, daya akal qalbu untuk memilih, keterbatasan manusia dan kemampuannya dalam serba keterbatasan, mubram dan mu’allaq, hidayah, kehendak, kekuasaan, kemampuan, potensi daya dan perbuatan, keputusan Allah dan manusia, balasan surga dan neraka, dsb. Takdir pada dasarnya bagian dari rukun iman yang termasuk bagian dari rahasia Allah yang kita tak dapat mengetahuinya,tugas kita bagaimana menjalaninya seperti air mengalir dengan cara berdo’a dan berusaha berikhtiar dengan maksimal sekuat tenaga, hasilnya serahkan pada Allah), maka kita bebas memilih takdir sebab akibat melalui kebebasan memilih aturan-aturan-Nya yang terbaik bagi kita, kita bebas berpindah dari pilihan aturan takdir yang satu ke pilihan aturan takdir yang lain, kita bebas memilih berbagai alternatif pilihan aturan takdir yang tersedia dengan memilih yang terbaik buat kita. Namun semua aturan-Nya tak bisa lepas dari Allah yang kekuasaan-Nya Maha Meliputi segala sesuatu, segala perbuatan. Apa yang baik menurut ukuran kita, belum tentu baik menurut Allah/menurut ukuran kebenaran pada sisi Allah. Apa yang baik menurut ukuran kebenaran pada sisi Allah, maka sudah pasti baik bagi semua makhluk ciptaan-Nya, baik hal tersebut bisa diterima secara rasional maupun tidak/sulit diterima secara rasional menurut ukuran kebenaran manusia. Jadi, kebenaran di mata Allah itu mutlak, sementara kebenaran di mata manusia itu relatif.
Selaku orang beriman, maka mesti selalu berprasangka baik terhadap perbuatan Allah/berpikir positif (husnuz zhan) akan terhadap segala sesuatu, bahwa mesti ada hikmah maslahahnya bagi kita dibalik semua perbuatan Allah, baik diketahui secara cepat maupun lambat dalam beberapa waktu. Do’a, ikhlas, amal sholeh, sedekah, usaha ikhtiar secara keras serta tawakkal, menjadi perantara agar pilihan takdir dari kebebasan memilih manusia sesuai dengan kehendak Allah Yang Maha Berkehendak/kun fa yakuun, yang hasilnya bisa sesuai persis dengan kehendak kita, dan kalau hasilnya tidak sesuai persis dengan kehendak kita maka diganti oleh Allah dengan yang mirip-mirip, sebagai penghapus dosa, sebagai penolak bencana, atau hasilnya ditunda oleh Allah di akhirat nanti. Apapun hasilnya itulah ketetapan Allah yang terbaik buat kita, sebab Allah lebih Maha Tahu akan kebutuhan kita dan lebih Maha Tahu terhadap apa yang terbaik buat kita. Iqbal mengungkapkan untuk memilih takdir terbaik, sebelum Allah menjatuhkan, menggariskan, menetapkan takdir-Nya/menetapkan qadha-Nya, qadha berarti memutuskan, melaksanakan keputusan akhir penyelesaian sempurna. Takdir azali, baiknya takdir itu dipegang setelah terjadi, bukan sebelum terjadi supaya tak melempem lemah semangat. Selalu optimis tawakkal menyerahkan keputusan akhir kepada Allah, husnuz zhan bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik buat kita, sabar kalau gagal dan syukur kalau sukses, akan memberikan semangat hidup yang tahan banting dalam menjalani kehidupan ini. Wa Allaahu A’lam.
 
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

The Birth of The Prophet Muhammad (PBUH) Celebration

The Birth of The Prophet Muhammad (PBUH) Celebration
By M Daud Yahya

Blessed month of Rabi’ul Awal is upon us. Congratulation for all Muslims. It’s the month when our beloved Prophet Muhammad (pbuh/peace be upon Him) was born.The Prophet Muhammad (pbuh) is the last and greatest of all the Prophets. May Allah increase our love for our Prophet. Aameen.

The commemoration of the Prophet Muhammad (pbuh) is a form of religion culture, that no command and no prohibition, injunction done during no shirk, element not contrary to urf syar’i, not contrary to the common bormat of nash of the quran and hadith.

Why a commemoration became necessary? As humans anyone ever wrong, sure not escaped from mistakes, for human resources have subconscious, sometimes that can make human remiss. So that, be necessary a commemoration, in order the neglects,the mistakes, could increase to be realized in nature, growing self-awareness, self critically consciousness, even there, increased to the highest human consciousness as “fitrah ilaahiyyah”.

In history, before Muhammad was chosen by God as a Prophet, he was known as the most trustworthy and honest person, and because he never behaved treacherously, or cheated he was known among his people as al- ameen (the trustworthy). People would entrust him with their valuables when they wanted to travel. He was also known as as-Sadiq (the truthful).

At the age of forty, the Prophet (pbuh) received divine revelation while at that cave, as A’ishah (may God be pleased with her), explains: The first thing that God’s Messenger received while in the Cave of Hira Makkah were good visions (as revelations in dreams). Every time he had a dream it would come true and as clear as the split of the dawn. While he was in the cave of Hira the Angel Gabriel came to him and commanded to read.

It’s known that the recognition of the Prophet Muhammad (pbuh)’ success not only by the scientists Islamic scholar, but also by some people scientists western scholar ( although there were also scientists western scholar not sympathetic, pitched refuse even prophetic). Indicator used, that the Prophet (pbuh) not just succeed as a religious leader, but also as a world leader.
The Prophet (pbuh) has the prophetic intelligence.

The commemoration of the birth of the Prophet Muhammad (pbuh) indeed not only a ceremonial, extravagance, less impact on social, social justice, economy, education, etc. Not only contains glory shalawat alone ( although it is also necessary because there were Allah’s commandments), but also how we can take the spirit of battle, exemplary, teachings application, as threads history, apostolical mission continuity of makaarimal akhlaak and rahmatan lil ‘aalamiin.

The Muslims of the early days although limited in number, had very strong faith and belief in Allah and His Prophet (pbuh). They maintained this faith, regaradless of the consequences. The Muslims were always united under the leadership of the Holy Prophet (pbuh). The Muslims displayed the most amazing qualities of courage, discipline and patience in the face of this persecution.

Hopefully we can get hints and guidances, according to appropriate capacity of ourselves, aameen. Although imperfect, perhaps hard impossible perfect, but at least the thing most importance that’s we have spirit. Aameen Yaa Rabbal ‘Aalamiin. Wa Allaahu A’lam.
1

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Mensyukuri Nikmat Allah SWT

Mensyukuri Nikmat Allah SWT
by M Daud Yahya

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12).
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS.27:73).
Sebagai ni’mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,“ (QS.54:35).

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah merenung, bagaimana betapa banyaknya rezki lahir batin yang kita terima dari Allah swt. Berapa banyak sudah tiupan napas udara yang kita hirup, berapa banyak langkah kaki yang kita gunakan untuk berjalan, berapa banyak energi otak yang kita pakai, dsb. Sungguh banyak sekali nikmat Allah swt yang kita terima, sehingga saking banyaknya, kita pun tak sanggup untuk bisa menghitungnya (wa in ta’udduu ni’matallaahi la tuhshuuha). Sungguh prilaku yang kelewat batas, kalau kita tak pandai mensyukuri semua nikmat tersebut.

Lalu bagaimana cara kita bersyukur kepada Allah swt, terhadap semua nikmat yang kita terima ?. Berikut tahapan-tahapan cara bersyukur kepada Allah swt :

1. Bil ‘Ilmi : Dengan ilmu, bahwa mengetahui, menyadari terlebih dahulu bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah swt.

2. Bil Haal : Dengan keadaan, bahwa nikmat yang kita terima dari Allah swt tersebut melalui perantara orang lain, namun hakikatnya Allah swt jualah yang memberinya, Allah swt Sang Maha Pemberi. Meski demikian, terhadap perantarapun juga seyogyanya kita pandai berterima kasih. Ada hadits Nabi saw : Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah swt. Jadi hakikat kita berterima kasih kepada manusia, pada dasarnya kita juga sedang melakukan syukur kepada Allah swt. Hadits lain : Barang siapa yang tak bersyukur pada (nikmat) yang sedikit, maka ia tak pandai bersyukur pada (nikmat) yang banyak. Logikanya, kalau kita pandai bersyukur pada nikmat yang sedikit, mafhum muwafaqahnya tentu lebih bisa bersyukur lagi pada nikmat yang banyak, sedikit saja bersyukur, apalagi banyak. Menjadi orang yang pandai bersyukur baik punya nikmat sedikit maupun punya nikmat yang banyak. Tetapi di saat pada nikmat yang sedikit tak pandai bersyukur, maka pada nikmat yang banyak pun tak pandai bersyukur. Jangan mengeluh, menyalahkan bahkan mengatakan Tuhan tidak adil, tapi terimalah semua pemberian Allah swt, Insya Allah nikmat akan ditambah oleh-Nya. Mendapatkan pemberian nkmat dari Allah swt yang sedikit, jika disyukuri dan dirasa cukup, itu lebih baik daripada banyak tetapi masih menganggapnya selalu kekurangan. Sehingga tidaklah berfaidah limpahan nikmat dan banyaknya harta bagi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah swt. Bukanlah kekayaan itu terletak pada kaya harta, tetapi kaya sesungguhnya itu terletak pada kaya jiwa, yaitu jiwa yang selalu qana’ah dan menerima dengan lapang dada setiap pemberian Allah swt kepadanya, tetapi syukur-syukur kalau kita bisa kaya harta/qana’ah lahir dan bisa kaya jiwa/qana’ah batin secara sekaligus. Marilah meraih keberkahan rezki dengan syukur qana’ah. Kekayaan dan kecukupan hidup, hendaknya tidak menjadi kendala seseorang untuk bertakwa, karena nikmat banyak sesungguhnya juga sekaligus sebagai ujian apakah bersyukur atau tidak (haadzaa min fadhli rabbii liyabluwanii a asykuru am akfuru). Harus yakin, bahwa iman dan takwa merupakan nikmat dan karunia Allah swt semata, yang patut untuk disyukuri. Oleh karena, mudah-mudahan kita selalu pandai bersyukur atas semua nikmat Allah swt yang diberikan, dititipkan pada kita, aamiin.

3. Bil Arkaan, Dengan anggota tubuh, bersyukur dengan anggota tubuh ini ada 3 cara :

1. Dengan hati/bil qalbi : caranya dengan bertafakkur kepada Allah swt, pandangan mata batin bahwa Allah swt lah Sang Maha Pemberi nikmat tersebut. Bersifat qana’ah, dalam urusan dunia melihat ke bawah (tapi tidak ekstrim) dan dalam urusan agama melihat ke atas. Sebagai perbandingan bahwa orang sufi dalam keadaan senang dan tak senang sekalipun selalu mengucap Alhamdulillah, karena aspek yang tak menyenanglan pun dianggap sebagai cara kasih sayang Allah swt untuk bisa meningkatkan iman taqwanya. Sungguh rahmat kasih sayang Allah swt lebih luas dari “murka”-Nya. Selalu berpikir positif (husnuz zhan) terhadap semua nikmat Allah swt, karena nikmat pada dasarnya adalah sebagai ujian, apakah pandai bersyukur atau tidak. Orang sering ingat Allah swt di saat susah yang juga sebagai ujian, tapi sering lupa kepada Allah swt di saat di uji dengan nikmat kesenangan. Dalam perspektif neo sufisme ada istilah sufi berdasi, pandai bersyukur di saat di uji dengan nikmat kesenangan.

2. Dengan Lidah/bil lisaan, Caranya dengan memuji Allah swt/mengucap Alhamdulillah, pujian pada nikmat dikembalikan lagi kepada Allah swt, bertasbih, dan zikir lainnya, tahadduts bin ni’mah, sujud syukur.

3. Dengan perbuatan/bil fi’li : menggunakan nikmat tersebut sesuai keinginan Sang Maha Pemberi, dimanifestasikan, direalisasikan untuk intensitas amal kebajikan yang semakin meningkat, seperti sedekah, berbagi, sosial, pemberdayaan (empowerment), infak, zakat, pembangunan mesjid, madrasah, pesantren, dsb, dan digunakan untuk semua amal kebajikan lainnya.

Semoga Allah swt selalu melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita semuanya, untuk pandai bersyukur, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa Allahu A’lam.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Interpretasi Terhadap Beberapa Wacana Kontemporer (Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme)

Interpretasi Terhadap Beberapa Wacana Kontemporer (Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme)
by M Daud Yahya

Seiring perkembangan zaman yang terbuka, ada beberapa wacana kontemporer yang mengemuka. Kita sulit lepas dari pergumulan pemikiran dunia, dari tantangan global bahwa fakta menunjukkan pengikut terbesar didunia setelah kristen (karena digabung antara protestan dan katolik, andai keduanya dipisah maka menjadi agak kecil dan Islam yang pertama) dan Islam adalah kelompok yang tidak percaya lagi terhadap agama, karena menganggap agama tidak rasional dan agama sebagai sumber konflik, kelompok ini jumlahnya lebih dari satu milyar manusia di dunia ini (kelompok terbesar ketiga).  Bagaimana bersikap tanpa tercerabut dari akar ajaran Islam, tanpa tercerabut dari persepsi khas Islam suatu kawasan, tanpa tercerabut dari persepsi khas akar falsafah jati diri suatu bangsa dan negara.
I. Liberalisme :
Epistemologi Liberalisme Islam : 1. Rasional, bahwa sebagian ajaran bisa diterima secara nalar logika. 2. Kontekstual, bahwa ada sebagian ajaran yang memahaminya dengan cara melihat latar belakang konteks sejarah suatu nash. 3. Subtantif, pada sebagian ajaran dengan melihat inti, pokok agama, semangat moral teks bukan pada bunyi teks itu sendiri.
Perlu hermeneutika, ada hubungan antara Pengarang (Tuhan), teks, dan pembaca. Semisal bahwa Tuhan bersifat tak terbatas selaku Pengarang, sementara bunyi teks terbatas, meski teks adalah sebagai media Tuhan, tapi peristiwa kebutuhan manusia tak terbatas selaku pembaca, al nushus mutahaniyah wal waqaa’i ghairu mutahaniyah. Maka di saat membatasi tafsir teks terbatas dengan makna tunggal maka berarti membatasi Tuhan yang bersifat tak terbatas, dinamakan otoriter kesewenangan tafsir. Ada pendekatan filsafat dan tasawuf dalam tafsir yang memungkinkan banyak tafsir, makna yang terdalam, makna yang dibalik teks. Kata wa Allaahu A’lam punya nuansa hermeneutika. Saat mengklaim paling benar sendirian, maka pada dasarnya merupakan bentuk kesombongan intelektual, perlu relativisme ( tapi yang moderat), yakni adanya pengakuan bukan tafsir tunggal tapi banyak tafsir. Sebab di saat peristiwa tak terbatas, maka di saat tafsir terbatas pada tafsir tunggal,  maka patut dilihat apakah tafsir tunggal bisa memecahkan problem manusia yang berbeda, baik beda kawasan, beda kebutuhan, beda budaya, dsb.
Sudut pandang mengenai Islam :
1. Islam merupakan agama yang diturunkan dari langit secara sempurna, apa yang terdapat dalam khususnya alquran merupakan otoritas Tuhan, sehingga apa yang tertulis secara literlek dalam alquran merupakan wujud orisinalitas dari kehendak Tuhan itu sendiri. Aspek kesempurnaan dan orisinalitas kehendak Tuhan ini menyebabkan Islam dianggap akan selalu sesuai zaman dan tempat tanpa ada modifikasi, dan akan selalu abadi dipakai sampai akhir zaman, tanziilun min rabbil ‘aalamiin, wa innahuu latanziilun min rabbil ‘aalamiiin.2. Islam merupakan respon terhadap budaya Arab abad pertengahan, tidak berada dalam ruang hampa budaya, atau setidaknya aspek perhatian terhadap unsur budaya ini bagaimanapun bentuk keadaannya tak bisa lepas sama sekali dari budaya/membikin produk budaya baru yang berbeda terkait budaya lama meski tetap berbasis wahyu (tapi ada pendapat yang ekstrem bahwa sebagai produk budaya Arab), laisa kamistlihi syai’un wa huwas samii’ul bashiir, innahu laqur aanun kariimun fii kitaabin maknuunin, innaa ja’alnaahu qur aanan ‘arabiyyan.Konsekuensi dari hal tadi menyebabkan pola arus pemikiran yang juga berbeda, yakni :1.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui pemahaman dan aplikasi ajaran secara tekstual murni, rigid, sakral, bersifat tetap, semisal jenggut, potong tangan, rajam, qishas, dsb, yang diyakini akan sesuai dengan zaman apapun dan diyakini akan sesuai dengan semua tempat dimanapun. Syari’at merupakan manifestasi dan jalan menuju Allah, sesuai petunjuk alquran dan hadits, aspek literlek dianggap gambaran yang paling sesuai dengan kehendak Tuhan itu sendiri, hal ini sulit dilakukan manakala syari’at hanya dianggap sebagai respon terhadap budaya bangsa arab pada abad pertengahan dalam usaha Nabi berhadapan dengan realitas yang ada.2.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui pemisahan antara aspek unsur budaya yang dianggap partikuler dengan unsur semangat moral murni agama. Ada evolusi yang mengarah pada pesan umum universalitas ajaran Islam, yang bersifat pokok mendasar, dengan unsur partikuler yang rinci. Partikuler rinci bisa disesuaikan dengan zaman dan tempat yang berbeda, sesuai persepsi dialogis masyarakat (bahkan memasukkan unsur HAM, dsb). Saat agama mengajarkan keadilan, persamaan, musyawarah, dsb, tetapi pada saat yang bersamaan ada beberapa buah ajaran yang “nampaknya” diskriminasi, maka hal ini mesti dilihat dalam konteks budaya sosio historis pada saat masa lampau turunnya ajaran, sehingga diharapkan tidak salah pandang terhadap ajaran agamanya. Ajaran yang orisinal adalah yang berada “dibenak” Tuhan, yang umum universal, pokok mendasar, sementara yang partikuler budaya Arab sebagai realitas ajaran yang memang harus dihadapi pada saat itu sebagai bentuk “penyesuaian”.3.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui memakai sebagian unsur masa lalu yang masih bisa dipakai dan tidak memakai sebagian unsur masa lalu, semisal tidak memakai jenggut, potong tangan, rajam, qishas, dsb, dengan melihat aspek moral prinsip hukum, hikmah dan filosofis suatu hukum/maqashidus syari’ah bukan pada materi hukum/bukan pada legal formal syari’atnya, melihat sosio historisnya, tapi masih menyetujui pemakaian jilbab. Ada kerangka dialogis terhadap tradisionalitas dan modernitas. Antara orisinalitas ajaran dengan zaman yang selalu berkembang. Al muhaafadzah ‘alal qadiimish shaalih wal akhdzu bil jadiiril ashlah.Diakui bahwa ada semangat evolusi yang dibawa ajaran Islam, yang merubah beberapa budaya Arab pada saat itu, supaya sesuai, supaya ajaran bisa diterima masyarakat Arab dan tidak berdampak psikologis pada masyarakat Arab pada saat itu, semisal perempuan yang dulunya tidak dapat warisan sama sekali, berubah menjadi dapat warisan meski 1 : 2, ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan dibikin budaya tapi justru memproduk budaya baru,sehingga menjadi magnet daya tarik tersendiri bagi wanita dan masyarakat Arab lampau untuk memeluk agama Islam, membawa evolusi yang diangap sangat maju pada masa itu (namun zaman sekarang ada unsur persepsi sosial semisal adanya hiilah seperti hibah, adanya ishlah setelah dilakukan sesuai pembagian faraidh terlebih dahulu, sehingga memungkinkan pembagian 1:1).Ini menunjukkan bahwa interpretasi ulama/cendekia terhadap teks pada dasarnya adalah secara fakta kenyataannya bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, maka tidak ada monopoli tafsir kehendak Tuhan, tapi saling bertoleransi, saling bersahabat, saling bekerjasama antara sesama umat Islam sendiri, dan tidak saling berkelahi, saling bertengkar antara sesama umat Islam yang bisa menghabiskan, mengganggu energi umat Islam untuk maju bersama membangun produktivitas dirinya, otoritas penafsir biasanya dipengaruhi internal yang bersangkutan dan pengaruh eksternal, asal tidak menggugat keabsahan teks sumber alquran dan hadits itu sendiri sebagai sumber hukum, kalau hal ini dilakukan maka dianggap keliru. Terkait khususnya alquran, maka sulit diterima alquran merupakan karangan Nabi Muhammad saw, hal ini bisa dilihat ada beberapa argumentasi yang bisa dikemukakan, antara lain : ada ayat yang memakai khitab anta seperti wa maa arsalnaaka, kata ka (kamu) dalam ayat ini merujuk kepada Nabi Muhammad saw, ayat lain yas aluunaka, kata ka (kamu) dalam ayat ini merujuk kepada Nabi Muhammad saw, ada ayat yang justru menegur Nabi saw seperti ‘abasa wa tawallaa, bahkan ada ayat yang mengancam Nabi saw kalau sampai berani membikin ayat sendiri, salah satu makna dari kata ummi adalah bahwa Nabi Muhammad saw tak pandai baca tulis hitung sehingga tak bisa bikin ayat, adanya mu’jizat alquran sebagai bukti alquran bukan karangan Nabi Muhammad saw, seperti adanya ayat-ayat bernuansa sains yang baru bisa dibuktikan setelah 15 abad kemudian semisal teori big bang, teori continental, dll, Nabi Muhammad saw jelas tentu saja tidak bisa bicara sains pada masa 15 abad lampau saat masih zaman onta, adanya berita ghaib dari alquran yang bisa dibuktikan beberapa waktu kemudian seperti kasus emperium Romawi, adanya keunikan khusus angka alquran seperti angka 19 dalam basmalah, ini antara lain kalau kita pelajari alquran secara benar sebagai bukti bahwa alquran bukanlah karangan Nabi Muhammad saw. Selain itu patut dikemukakan, dianalisis, bahwa Nabi Muhammad saw dalam riwayat sering menyetor, mendiktekan hapalan bacaan alqurannya kepada malaikat Jibril as.II. Pluralisme :
Kalau ditilik beberapa pendapat tentang pluralisme agama, bisa dilihat lebih mengacu pada sisi dalam, batiniah, inner dimension, trancendent unity, esoteric, relatively absolute, absolutely absolute, peleburan pemikiran ekslusif menjadi global theology, global ethic. Para pengkritik mengungkapkan bahwa ini akan berbahaya bagi kelangsungan beragama, penghapusan agama, penghapusan identitas, berbahaya bagi syari’at dan aqidah, karena aspek ritual praktek akan dikesampingkan, sehingga bisa memunculkan aliran yang dianggap sesat, bisa pindah agama (konversi agama) secara bebas leluasa, kebolehan wanita muslimah nikah dengan pria non Islam, munculnya aliran agama baru seperti hanya aliran New Age, yang merupakan aliran agama baru berupa kumpulan esoteris dari Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Perlu sikap kritis, tidak begitu saja menerima tanpa kritis, maka pluralisme agama bisa dilihat bahwa syari’at dan aqidah bisa berbeda secara lahiriah sebagai keyakinan, pengakuan eksistensi suatu agama, tapi secara batiniah bisa dilihat, boleh jadi merupakan jalan-jalan, jiwa -jiwa pasrah berserah diri yang bisa sampai menuju Tuhan Sang Maha Mutlak, Sang Maha Sumber dan Maha Tempat Kembalinya segala sesuatu. Allah lah yang akan menjadi Hakim Yang Maha Adil bagi semua kelompok jalan, jiwa-jiwa di hari kiamat kelak. Toleransi terhadap hal yang berbeda, kerjasama terhadap hal yang mempunyai titik temu, titik sama, tidak memaksa, tidak merasa benar sendirian (bersikap terbuka, moderat, kompromistis dialogis kritis, saling pengaruh mempengaruhi dalam suasana masyarakat dunia yang satu), civil society, civil religion, demokratis. Setara sejajar dalam kebebasan beragama (lakum diinukum wa liya diin, laa ikraaha fid diin, fastabiqul khairaat, lita’aarafuu, ta’aalau ilaa kalimatin sawaa).III. Sekularisme :

Keuntungan negara bersikap netral, bahwa tidak ada agama yang menjadi anak emas, tidak memaksakan suatu keyakinan kepercayaan kepada kelompok yang berbeda keyakinan kepercayaan. Tetapi manakala netral dalam pengertian bahwa negara steril dari unsur agama sama sekali, bahkan terhadap nilai moral, subtansi sekalipun, maka juga tidak baik. Negara tentu bisa saja dimasuki oleh unsur agama, tapi negara bersikap netral, dengan mengayomi keseluruhan agama-agama yang ada dalam suatu negara. Selain itu negara juga terus melakukan upaya pembangunan modernisasi. Bukan negara agama dan bukan negara sekuler, dinamakan Islam kultural. Tetapi ada juga kelompok yang menganggap bahwa negara tidak netral, tapi diterapkan Islam ideologi yang bersifat subtansi  (salah satu pertimbangannya adalah dengan melihat pergumulan kesadaran sejarah yang lama dan alot saat pembentukan NKRI, sebagai bentuk kompromi ideologi) dan semua agama tetap diayomi, dilindungi dan punya hak sama selaku aplikasi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dinamakan Islam subtansi.  Wa Allaahu A’lam.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menyongsong Abad Kebangkitan Islam (Refleksi Tahun Baru Hijrah)

Menyongsong Abad Kebangkitan Islam

(Refleksi Tahun Baru Hijrah)

by  M Daud Yahya

Waktu terus bergulir, zaman beredar, bumi terus berputar, siang malam berganti, arah jarum jam terus berjalan tanpa berbalik arah, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, masa pun berjalan, detik demi detik berlalu, tak terasa sampai lagi kita pada sinar mentari fajar surya perayaan tahun baru Islam.

Tahun baru Islam memang tak semeriah perayaan tahun baru masehi, yang dirayakan dengan suasana gegap gempita, suasana meriah, hingar bingar, berpesta pora. Lagipula terlalu berlebihan, tidak lazim kalau tahun baru Islam dirayakan dengan berhura-hura, seperti bunyi petasan, kebut-kebutan, mejeng pergaulan muda mudi, gaya gaul, jaim (jaga image), mercon, kembang api, terompet, dsb.

Perayaan tahun baru Islam bisa merupakan bentuk daripada budaya syiar Islam, tradisi agama (religion culture), ada ayat alquran yang berbunyi : wa man yuadzdzim sya ‘aairallaahi fa innahaa min taqwal quluub.

Semoga semua kekhilafan dalam kurun setahun lampau bisa terampuni. Semoga semua aktivitas amal sholeh, ibadah sisi kebajikan kita dalam kurun setahun lampau bisa diterima. Mensyukuri nikmat umur, berubah ke arah yang lebih baik, lebih sopan, lebih bermakna lagi di masa tahun yang akan datang, aamiin.

Sebagai titik penting perkembangan Islam dalam sejarah peradabannya, maka umat Islam menyambut tahun baru hijrah akan lebih elok kalau diisi dengan kegiatan Islami yang semarak. Penuh kesadaran sebagai media untuk merenung diri/introspeksi (muhasabah) terhadap sikap dan prilaku selama setahun lampau adalah merupakan keniscayaan, apa yang dirasa kurang bisa diperbaiki, apa yang bagus bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Tahun baru Islam sebagai wahana memperbaiki diri untuk berkemajuan, berharap selalu diberikan bimbingan dan hidayah Allah agar mental dan perbuatan bisa lebih baik, punya langkah positif pada masa yang akan datang. Sebagai wahana kesadaran diri (self awareness) dalam menatap, memperbaharui masa depan dengan penuh harapan baru, optimisme baru, semangat baru, what’s next…

Aktualisasi khazanah Islam lampau klasik berupa nilai hijrah dalam konteks kontemporer, dalam konteks ke-Indonesiaan, bahwa berkaca dari sejarah, maka kita bisa mengaktualkan konsep piagam madinah sebagai salah satu hasil hijrah dalam civil society/madani (egaliter, beradab, mandiri, demokratis). Berhijrahnya bangsa Indonesia ke berkemajuan lahir dan batin. Kata Madinah sendiri bermakna kota, beradab, berarti maju dan beradab lahir dan batin.

Dalam menyambut momentum tahun baru hijrah ini patut kita renungkan, aplikasikan dalam kehidupan empiris umat Islam suatu sabda Nabi saw, yakni : Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, itulah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama saja dengan kemarin, itu adalah orang yang rugi. Siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarinnya, maka ia adalah orang yang terlaknat. (HR. Hakim).

Semangat hijrah adalah semangat perubahan. Niat yang bagus dalam berhijrah adalah karena Allah. Berhijrah menuju ridho Allah. Hirah berarti berpindah. Berpindah dari tidak taat kepada taat, dari lalai khilaf ke iman taqwa, dari kegelapan ke terang benderang, dari lemah ke bermutu dan unggul, dari ketergantungan ke kemandirian, dari yang tidak baik ke arah yang lebih baik, dari perasaan galau ke perasaan bahagia (Btw, emangnya ada…. he..he..), dari kebodohan dan kemiskinan serta keterbelakangan ke berilmu pengetahuan dan berkesejahteraan serta berkemajuan, dari kemunduran ke kebangkitan.

Abad 15 hijriah seringkali disebut sebagai abad embrio titik pijak kebangkitan Islam (the revival of Islam). Hal ini ditilik dari analisis fakta sejarah peradaban Islam, bahwa ada siklus selama 7 abad Islam mengalami masa kejayaan, semisal jaya dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan umum dan selanjutnya selama 7 abad lagi mengalami masa kemunduran, dengan demikian abad ke-15 hijriah merupakan starting point dari siklus kebangkitan tersebut.

Suasana sosio kultural masa 7 abad kejayaan Islam yang lampau tentu berbeda dengan masa sekarang ini. Kalau masa lampau ada dikenal darul Islam, darul ahd, bahkan darul harbi. Hal tersebut kalau ditilik dari perspektif masa lampau maka barangkali “lumrah”, karena aspek budaya sektarianisme, sukuisme, etnis (religion-etnic), suasana alam, dsb, yang sangat menonjol sekali pada masa itu, dan hal tersebut terjadi di semua kawasan dunia, tidak hanya di kawasan Islam saja. Karena hal tersebut terjadi di semua kawasan dunia, maka tidak ilmiah, tidak adil, kalau hal tersebut hanya disematkan pada umat Islam saja. Hal tersebut lebih daripada suatu ciri dari suatu peradaban sosio kultural internal-eksternal pada zaman masing-masing, yang terjadi pada semua kelompok kawasan dunia.

Kalau dulu adu otot, sekarang adu otak, adu iptek, adu informasi, adu penelitian, adu ekonomi, adu jasa, barang, tenaga, modal, adu pendidikan, depensif bukan opensif (lihat penafsiran dalam tafsir Al Manar, M. Abduh, M. Rashid Ridha), adu hukum-politis, kesadaran diri, mendahulukan semangat berkorban harta daripada jiwa, adu moral, adu kemajuan dan peradaban, dsb. Zaman sekarang tentu tidak ada satu agama, satu ideologi, satu bangsa yang bisa hidup sendirian, tanpa hidup bekerjasama dengan agama, ideologi, bangsa lainnya. Menutup diri dari bekerjasama dengan orang lain berarti kehilangan kesempatan untuk maju dan dengan tanpa harus kehilangan identitas jati diri sendiri, meski dalam batas tertentu bersikap terbuka, moderat, kompromistis dialogis nan kritis terhadap hikmah positif yang berasal dari manapun. Oleh karena yang pas, maka umat Islam bisa menjadi produsen utama bukan sekedar konsumen, jadi (ism) fa’il utama bukan sekedar maf’ul bih, menjadi subyek utama bukan sekedar obyek.

Islam sendiri bermakna/diambil dari akar kata salaam/silmun (perdamaian/kedamaian), saliim/salima (keselamatan/selamat), sullam/sullaam (tangga keselamatan), salmun (kesejahteraan), aslama (tunduk, pasrah berserah diri (submission), kata Islaam sendiri merupakan ism mashdar dari kata aslama, dalam alquran kata islaam/aslama ada yang terhubung langsung dengan kata diin/institusi agama, adapula kata islaam/aslama yang tak terhubung dengan kata diin/institusi agama (orang yang pasrah, esensi jiwa dan diri yang berserah diri dalam interaksi dengan yang Maha Mutlak disebut muslim), maka Nabi saw pernah bersabda : afsyus salaam ‘alaa man arafta wa ‘alaa wan lam ta’rif…. wa ath’imuth tha’aam (sebarkanlah salam/perdamaian terhadap orang yang engkau kenal dan terhadap orang yang belum engkau kenal …dan berilah (orang miskin) makanan. Salah satu misi kerasulan selain menyempurnakan akhlak mulia, yakni rahmatan lil ‘aalamiin. Rahmat berarti kasih sayang yang disebarkan pada seluruh umat Islam, seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan, jin, lingkungan hidup, bahkan sampai kasih sayang di akhirat, dsb. Maka kebangkitan Islam serta berkemajuan modernnya, seyogyanya dilandasi pula dengan berperadaban Islam yang ramah, yang menyejukkan, umat yang satu (ummah waahidah), toleran, kerjasama, setara sejajar dalam kebebasan beragama (lakum diinukum wa liya diin, laa ikraaha fid diin, fastabiqul khairaat, li ta’aarafuu, ta’aalau ilaa kalimatin sawaa), konteks dengan zaman yang selalu berkembang, konteks dengan perkembangan persepsi Islam suatu kawasan, damai, persahabatan, persaudaraan kemanusiaan universal. Wallaahu A’lam.

Selamat Tahun Baru Islam Dalam Setiap Waktu

Melakukan introspeksi, evaluasi, refleksi perenungan diri, muhasabah, planning ke depan, perbaikan diri, kebermaknaan hidup, dsb, seyogyanya tidak mesti menunggu hari moment tertentu, tapi semua hal tersebut bisa dilakukan pada setiap detik, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dsb, tanpa harus menunggu hari moment penting terlebih dahulu. Tetapi bahwa menyambut moment penting skala besar, yang punya nilai khusus, nilai penting, memang perlu menyambutnya secara khusus pula, semisal menyambut peringatan hari tahun baru Islam. Selamat melakukan tahun baru Islam dalam setiap waktu.

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menghormati Perbedaan Puasa, Persatuan Umat Lebih Diutamakan

M Daud Yahya

Menghormati Perbedaan Puasa, Persatuan Umat Lebih Diutamakan

20 Juli 2012

Di Indonesia sejak pasca reformasi, ada kecenderungan baik ormas, kelompok, dsb, dalam masalah keagamaan untuk berdiri sendiri tanpa terikat dengan bentuk penyeragaman. Akan halnya perbedaan awal dan akhir puasa semakin marak pasca reformasi (di masa orde baru meski dalam batas tertentu ada perbedaan tapi tidak segencar seperti halnya pasca reformasi),  sehingga “demokrasi  liberal” semacam ini membuat umat nampaknya menganggap perbedaan suatu yang lumrah-lumrah saja, “membiarkan berbeda” begitulah kira-kira ungkapan yang sering terdengar.

Perbedaan tadi, diantaranya karena adanya beda metode/kriteria. Secara umum ada 3 metode dalam penentuan puasa, hari raya :

1. Hisab hakiki wujudul hilal, rukyah hilal bi satelit (hisab bi satelit),  ini mirip dengan penentuan bulan biasa semisal tanggal 1 rabiul awwal berdasarkan kalender, sehingga tetap (fixed) maka dari jauh-jauh haripun sudah diketahui kapan puasa, kapan hari raya sehingga persiapan matang tanpa sibuk dengan bunyi teks melihat bulan.  Bandingkan saja dengan umat lain yang tanpa ribut-ribut sudah tahu jauh-jauh hari kapan Waisak, kapan Natal, kapan Nyepi, semuanya beres lancar. Di zaman modern sesuatu yang bersifat pasti sangat diperlukan semisal kapan pesawat berangkat, kapan program televisi tayang semuanya bersifat pasti tanggalnya. Kalau bangsa lain sudah sampai ke bulan, bisa bikin pesawat ulang alik, bisa bikin pesawat superjet supersonik kecepatan cahaya, kita dalam menentukan tanggal saja susahnya minta ampun. Metode ini didasarkan pada QS Yunus 5 li ta’lamuu ‘adas siniina wal hisaab, QS. Ar Rahman 5, Yasin 39-40, hadits shahih bukhari dan hadist-hadits  lainnya. Umat Islam diharapkan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Kata dalam hadits : shuumuu li ru’yatihi/puasalah karena melihat bulan, ditafsiri dengan puasalah dengan melihat bulan berdasarkan penglihatan ilmu pengetahuan (hisab, astronomi), kenapa melihat dengan ilmu pengetahuan? Karena umat Nabi Muhammad saw zaman sekarang kontemporer ini  sudah tidak ummi lagi seperti di zaman masa sangat lampau, di masa Rasulullah saw, keadaan kondisi masa lampau sangat bisa dimaklumi. Selain itu ada kata dalam satu hadits yakni faqduruulah/maka kira-kirakanlah/maka hisablah, hadits rukyah dipahami tidak pada bunyi teks tapi pada semangat teks yang tidak bertentangan dan sejalan saja dengan dalil Alquran yakni  QS Yunus 5, QS Ar Rahman 5, Yasin 39-40,  sehingga relevan dengan kemajuan dunia sains teknologi sampai kiamat.  Dalam sudut pandang Bahasa Arab, bahwa kata rukyah mempunyai  makna ganda/musytarak, setidaknya kata rukyah mengandung 3 makna : 1. melihat dengan kasat mata. 2. berpendapat. 3. memperkirakan, menghitung/menghisab. Sehingga rukyahpun dimaknai dengan mengambil makna yang ke-3 (memperkirakan, menghitung/menghisab), maka Hisab berarti rukyah bil’ilmi (melihat dengan ilmu pengetahuan/hisab).  Caranya memakai ilmu fisika astronomi dengan ketentuan adanya ijtima/konjungsi yakni matahari, bumi, dan bulan berada pada garis lurus atau ijtima/konjungsi. Konjungsi ini disepakati hampir semua kalender asronomi sebagai pertanda datangnya awal bulan baru.  Di saat matahari terbenam dan ternyata bulan sudah berada di atas ufuk/ titik nol derajat, berada diatas ufuk meski belum 2 derajat sekalipun, meski berawan sehingga bulan tak bisa dilihat tapi bulan pasti ada sebagai penanda datangnya bulan baru, lebih jauh  bulan pasti ada dan dapat dilihat  dengan memakai alat canggih teknologi sistem satelit meski derajatnya rendah belum 2 derajat/rukyat hilal bi satelit, dengan satelit juga bisa melakukan hisab awal bulan dengan akurat, adapun cara canggih yang lebih mudah bisa  melalui teleskop Hubble.  Kecanggihan teknologi modern  menghasilkan hasil hisab sangat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Secara logika, kalau pada saat terbenam matahari, posisi hilal sudah ada diatas ufuk meski belum 2 derajat, tetapi bukankah setelah beberapa menit kemudian, setelah beberapa jam kemudian semisal jam 8, jam 11 malam posisi hilal keadaannya sudah sangat tinggi, sudah di atas 2 derajat bahkan bisa lebih dari itu, maka bisa dipastikan bahwa besok adalah puasa, besok adalah idul fitri, apalagi sebelumnya sudah ada terjadi  ijtimak konjungsi sebagai pertanda awal bulan baru,  kenapa harus menunggu besok lusa sebagai awal bulan, sebab kalau menunggu besok lusa tentu posisi hilal sudah sangat tinggi sekali.   Cara mudah untuk membuktikan kapan tanggal 1 ramadhan adalah dengan pembuktian terbalik bahwa biasanya bulan purnama dimulai malam tanggal 13, 14, dan puncaknya malam 15, untuk membuktikan  kapan malam tanggal 16 adalah  bahwa bulan sudah menepis bentuk purnamanya, sehingga diketahuilah kapan malam 15, lalu hitunglah ke depan sebanyak 15 hari maka itulah tanggal 1 ramadhan yang benar. Cara seperti ini sudah bisa dihitung dengan akurat oleh hisab atau teknologi satelit. Pola pembuktian seperti ini sejalan saja dengan ayat alquran QS Yasin 39 : wal qamara qaddarnaahu manaazila hatta ‘aadakal ‘urjuunil qadiim.  Selain itu, pada dasarnya puasa dan imsak satu paket, tapi nampaknya umat Islam dalam menentukan imsak tidak memakai petunjuk alquran (kuluuu wasyrabuu hatta yatabayyanal  khaitul abyadh minal khaitil aswad minal fajri)  dan hadits tentang sekitar 50 ayat, dsb, tapi memakai hisab maka imsak dengan memakai hisab tidak bisa dikatakan bid’ah.

2. Rukyatul hilal, rukyat bilfi’li/melihat bulan. Secara bahasa rukyat berarti melihat dengan kasat mata. Bagi yang benar-benar konsisten dengan bunyi teks ini maka tidak boleh memakai teleskop tapi mesti memakai kasat mata   saja. Kalau tak terlihat bulan maka digenapkan Sya’ban 30 hari.  Dalam perhitungan astronomi maka kalau melihat dengan kasat mata  bahwa  hilal hanya bisa dilihat kalau mempunyai ketinggian 6-8-10 derajat, suatu angka yang cukup tinggi. Pewacanaan tentang rukyah hilal merupakan dalil bahwa Nabi Muhammad saw memang seorang ummi, dengan demikian akan berdampak pada kepercayaan bahwa Alquran memang otentik wahyu Allah swt dan bukan hasil karangan pemikiran seorang manusia biasa Nabi Muhammad saw. Ini pula salah satu sebab kenapa rukyah hilal cukup gaung dipegang oleh sebagian kalangan umat Islam. Bukan perkara modern atau tidak modern tapi sebagai dalil  atau  sarana sokongan terhadap keotentikan wahyu Alquran. Selain itu bahwa  semua gejala alam terjadi tergantung pada Yang Maha Kuasa. Banyak pendapat sokongan ulama terhadap  ru’yat, termasuk sokongan dari 4 imam madzhab yakni Syafi’i, Hanbali, Malik, Abu Hanifah.

Lepas dari konteks hal diatas, bahwa ada juga kelompok yang mengkaitkan fenomena ru’yatul hilal dengan negara Islam,  yakni khilafah. Dalam hal ini maka dipakailah ru’yah, lebih tepatnya ru’yah global. Bahwa kalau ada salah satu negara Islam sudah ada yang melihat bulan, maka dianggap berlakulah bagi negara-negara bagian Islam lainnya. Tugas khalifahlah yang mengumumkan melihat bulan sebagai pertanda awal puasa, awal idul fitri secara serentak di seluruh wilayah negara Islam khilafah. Ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa gaung fenomena ru’yatul hilal terus dipertahankan, karena ada aspek politis didalamnya terkait negara Islam khilafah, yang dipimpin oleh seorang khalifah sebagai Ulil  Amri  negara Islam  khilafah.

3. Imkanur rukyah/gabungan hisab dan rukyat, merupakan metode yang memakai setengah hisab hakiki  wujudul hilal dan setengah rukyatul hilal karena  imkanurrukyah berarti ada kemungkinan bulan bisa dilihat dan ada kemungkinan bulan tidak bisa dilihat pada saat 2 derajat, sebab yang sangat mungkin bulan bisa dilihat/rukyah  adalah manakala 6 derajat, dst.   Metode ini tetap/setengah  konsisten dengan makna rukyah hilal/melihat bulan tapi “tidak konsisten” dengan caranya yakni dengan memakai alat teleskop, tetapi diawali dengan hisab terlebih dahulu, yang mana dalam perhitungan astronomi kalau hilal masih dibawah 2 derajat maka sulit terlihat/samar-samar/cahayanya masih redup, bisa ada gangguan/ghumma seperti cuaca yang tidak cerah, adanya uap dan awal tebal sehingga hilal tak terlihat jelas secara kasat mata. Adanya rukyatul hilal adalah untuk membuktikan suatu teori apakah hilal terlihat dalam pengertian apakah sudah diatas 2 derajat/terlihat atau masih dibawah 2 derajat/tidak terlihat. Secara ilmiah suatu teori disebut sangat valid, haqqul yakin  kalau antara teori/perhitungan hisab terbukti benar dengan bukti emperis, diklarifikasi dengan fakta nyata. Sebab bisa jadi secara teori/perhitungan hisab sudah ada hitungannya tapi kalau ada fenomena alam yang sangat luar biasa terjadi maka perhitungan hisab bisa menjadi meleset menjadi tidak benar karena teori/perhitungan hisab tidak terbukti, tidak terklarifikasi secara emperis, fakta nyata. Bukankah selama ini tidak semua fenomena alam bisa diketahui sebelumnya oleh para ilmuwan semisal kapan terjadi gempa yang sering tidak diketahui secara akurat kapan terjadinya. Dalam prakteknya nampaknya majelis istbat tetap pedoman pada hasil hisab yang dengan kecanggihan teknologi modern bisa dibilang sangat akurat sekali perhitungannya,  sebab selama ini semua pengakuan tentang adanya suatu kelompok yang mengaku melihat bulan dibawah 2 derajat tidak diakui oleh majelis istbat. Ini menunjukkan hasil hisabpun  cukup menempati posisi yang strategis. Hal ini berbeda dengan Arab Saudi yang meskipun hasil hisab sangat akurat tapi bisa dimentahkan oleh hasil sumpah ru’yat.

Selain itu bisa ditambahkan metode lain yang kurang masyhur misalnya oleh pengikut tarekat Naqsabandiyah yakni metode hisab Munjid yang disebut-sebut berasal dari Mekkah, dibuat ulama besar dan telah digunakan secara tutun temurun. Caranya penentuan awal Ramadhan dilakukan dengan menghitung 360 hari dari awal Ramadhan tahun lalu, di mana dalam setiap bulannya hanya terdapat 29 dan 30 hari. Selain itu jamaah tarekat Naqsabandiyah, juga melakukan rukyatul hilal bilfi’li dengan kasat mata  tanpa alat bantu pada tanggal 8, 15, 22, dan 29  Sya’ban.
Tapi sulit juga dimungkiri meski perbedaan adalah lumrah, tetapi secara psikologi, umat nampaknya tetap menginginkan dan sangat rindu sekali adanya persatuan umat, mengingat awal puasa dan hari raya merupakan ibadah jama’iyyah (ibadah bersama-sama) bukan termasuk ibadah fardiyyah (ibadah individu), hal ini lebih krusial semisal dalam penentuan sepuluh malam terakhir karena di saat satu kelompok menganggap sudah malam ganjil sementara kelompok yang lain masih malam genap, lalu kapan malam lailatul qadar ?, ini membingungkan karena bagaimana  mungkin terjadi lailatul qadar sebanyak 2 kali pada satu wilayah hukum negara yang sama, begitu pula  di saat ada yang sudah lebaran sementara yang lain masih puasa, bukankah puasa di hari lebaran adalah haram? Justru itulah ibadah yang masuk kategori ibadah jama’iyyah (bersama-sama) seyogyanya juga dilakukan secara bersama-sama. Salah satu makna ibadah Ramadhan adalah sarana untuk mempersatukan umat.
Dalam tradisi fikih memang ada beberapa dalil serta pendapat yang seyogyanya dalam menyangkut masyarakat luas maka otoritas pemerintah yang diambil, oleh karena dalam kaedah ushul fikih disebutkan hukmul haakim raf’ul khilaaf (keputusan hakim menghilangkan segala bentuk perbedaan). Sementara yang membolehkan memakai pendapatnya sendiri semisal kesaksian melihat hilalnya ditolak pemerintah yakni fa man syahida minkumus syahra falyashumsu, ayat ini dijadikan landasan memakai pendapatnya sendiri yang berbeda dgn pemerintah, tapi secara sembunyi. Dalam prakteknya bahwa kalimat ikut pemerintah hanya pepesan omong kosong, sebab banyak ormas yang ikut pemerintah dengan syarat kalau pendapat pemerintah sama dengan pendapat ormas, tapi giliran pendapat pemerintah ternyata berbeda dengan pendapat ormas, maka ormaspun tidak ikut pemerintah. Jadi, semua orang Islam mesti bersikap toleran terhadap perbedaan yang sering kali terjadi.

Dalam konteks Indonesia akarnya dari perbedaan metode penetapan/kriteria awal bulan baru terkait awal puasa, hari raya, oleh karena penyamaan persepsi antar ormas inilah yang perlu dilakukan secara intensif melalui dialog supaya perbedaan ini tidak berlanjut lama, intinya pemerintah mesti menghormati pendapat ormas dan ormas menghormati kesepakatan bersama dgn pemerintah berdasarkan kriteria yang telah dibangun bersama sehingga tidak ada yang merasa kalah, merasa menang, tapi semuanya merasa sama-sama menang, dan memakai kalender bersama yang telah disepakati secara bersama. Tetapi seandainya penyamaan persepsi tentang kriteria awal bulan baru terkait puasa, hari raya sulit dilakukan, maka tugas pemerintah agar  umat  tetap bisa bersatu dengan  memberikan maklumat penghormatan toleransi kepada masyarakat pada kelompok yang berbeda. Selain itu, patut pemerintah mempertimbangkan penggunaan alat satelit dalam melakukan ru’yatul hilal/atau yang lebih mudah melalui teleskop Hubble, patut mempertimbangkan itsbat  dengan secara memakai sistem kalender Hijriah secara bersama-sama yang merupakan kalender bersama yang sudah disepakati semua ormas Islam yang ada di Indonesia beserta pemerintah, dengan adanya ru’yat hampir saja umat Islam sulit memiliki kalender Islam sendiri, karena tanggalnya tidak pasti.  Dalam konteks negara Indonesia yang sangat majemuk,  pluralitas suku,  pluralitas bahasa, pluralitas agama, pluralitas pemahaman,  pluralitas golongan, maka pemerintah mesti bersikap berposisi netral, tidak memihak pada satu golongan saja,  tapi pemerintah mesti bersikap berposisi netral sebagai negawaran sejati, mengayomi  terhadap semua ormas Islam yang ada dan diakui di Indonesia, bukankah beribadah sesuai pilihan kecenderungan masing-masing terasa lebih sreg, lebih pas, lebih nyaman ketimbang ikut pemerintah tapi kurang nyaman, bukankah perbedaan adalah sebagai  rahmat bagi semua orang.  Umat Islam pada kenyataannya memang  ada yang rasional, ada yang setengah rasional dan yang setengah tradisional, ada yang tradisional.  Dan semuanya itu bisa saling mendekat, bisa saling kompromi. Yang terpenting adalah  bagaimana persatuan umat lebih diutamakan, apapun caranya (baik bersama-sama maupun toleransi dalam perbedaan). Wallaahu A’lam.

Artikel terkait  Juli 2013:

JAKARTA, BPOST – Muhammadiyah dan Syarikat Islam Indonesia (SII) sudah menetapkan Idulfitri 1434 H pada Kamis (8/8) mendatang. Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu rukyatul hilal (melihat bulan) sementara pemerintah menanti hasil sidang itsbat yang diadakan Rabu (7/8).

Kekhawatiran perbedaan lebaran pun muncul, apalagi awal Ramadan 1434 H juga berbeda. Kecemasan itu ditepis WakilMenag NasharudinUmar. Dia mengatakan ada indikasi Idulfitri digelar serentak oleh umat Islam di Indonesia.

Menurut dia di Jakarta, kemarin, berdasarkan ijtimak awal Syawal, berdasar perhitungan hisab jatuh pada Rabu (7/8) pagi atau siang. “Ini artinya pada sore hari saat dilaksanakannya rukyat dan sidang itsbat, tinggi hilal sudah lebih dari 2,3 derajat. Sudah bisa dilihat,” ujar Nasharudin.

Dengan potensi hilal bisa dilihat pada Rabu sore, kemungkinan Idulfitri jatuh pada Kamis. Penentuan itu sesuai ketetapan Muhammadiyah. “Karena pemerintah puasanya 29 hari sedangkan Muhammadiyah 30 hari, jadi bisa jadi Lebaran kali ini serentak,” tegas Nasharudin.

DirekturJenderal BimbinganMasyarakat Islam KemenagAbdulDjamil menambahkan, sidang itsbat akan diikuti seluruh ormas Islam. Muhammadiyah juga tetap diundang meski beberapa waktu lalu ketua umum ormas itu, Din Syamsudin mengatakan tidak akan mengikuti sidang itsbat. “Semua diundang untuk menentukan hari raya. Alhamdulillah kalau serentak,” ucap Djamil.

Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas juga menyatakan ada kesempatan lebih besar Lebaran secara serentak dalam kurun selama 10 tahun ke depan, dari 1433 H hingga 1440 H.

Pasalnya, dari tahun lalu hingga beberapa tahun ke depan, konjungsi bumi dan bulan untuk 1 Syawal sering kali terjadi lebih awal sehingga pada saat sore hari derajat wujudul hilal sudah melebihi dua derajat.

“Sesuai kesepakatan, ketika sudah mencapai dua derajat  hilal bisa terlihat. Yang pasti lebih banyak sama dan sedikit perbedaannya. Persamaan itu terlihat sejak 2012. Bukan karena perubahan standar metodologi, baik hisab maupun rukyat tetapi lebih karena alam yang memungkinkan ijtimak Syawal terjadi lebih awal,” kata dia.

Yunahar mengusulkan, untuk menjaga kewibawaan pemerintah dan ormas Islam, sebaiknya sidang itsbat dilakukan tertutup. Kebijakan ini pernah ditempuh empat tahun lalu.

Ia menilai hal ini perlu agar perdebatan antarpimpinan ormas dalam itsbat tidak disikapi berbeda oleh umat.

“Sebagian umat Islam belum siap melihat perdebatan pimpinan ormas. Dan, ini bisa disikapi tidak baik bagi mereka yang belum bisa menerima perbedaan pandangan. Setelah didapat hasilnya, baru diumumkan secara terbuka,” ujarnya. (reo/tbn)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar