Islamisasi Iptek dan Subyek Pelakunya

Islamisasi Iptek dan Subyek Pelakunya By M.DaudYah

14 02 2010

Islamisasi Iptek Dan Subyek Pelakunya By M. DaudYah

Wacana islamisasi iptek pada dasarnya adalah sebuah perdebatan, bagi yang tak setuju bahwa hal tersebut hanyalah respon daripada rasa mindernya umat Islam terhadap kemajuan barat, begitupunpun islamisasi iptek tak perlu dilakukan karena
yang penting adalah bagaimana subyek pelakunya, dst. Menurut mereka apalagi barat sendiri sebenarnya dahulunya juga mengambil kemajuan iptek dari umat Islam di masa kejayaannya, hanya saja dalam perkembangannya ada proses sekuralisasi, dst.Memang harus diakui bahwa barat di saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang iptek mengalahkan umat Islam dan hampir saja tak terkejar oleh umat Islam yang sedang mengalami masa kemunduran meski mulai bangkit dengan agak sedikit lamban.
Secara umum umat Islam terbagi tiga dalam menyikapi iptek barat. Pertama, yang anti sama sekali karena iptek adalah sekuler dan berasal dari orang kafir, misalnya kelompok Taliban Afganistan yang mengharamkan televisi, komputer, radio, internet, hanya disayangkan kelompok ini tidak pandai membikin iptek tandingan sehingga terkesan terkebelakang. Disamping itu termasuk kategori ini yakni dari kalangan tasawuf klasik/konservatif (bukan tasawuf modern)yang menganggap ilmu dunia tidak/kurang penting, pengaruh tasawuf yang cenderung uzlah zuhud melahirkan kategori fardhu ain dan fardhu kifayah, hasil fikih seperti ini akibat pengaruh pemikiran tasawuf konservatif(bukan tasawuf modern) yang cenderung kurang suka ilmu dunia, meski demikian pendapat bahwa ilmu dunia sebagai fardu kifayah adalah masih untung dan masih lebih maju karena ada juga ulama tasawuf yang mengharamkan belajar ilmu umum karena dianggap membahayakan keimanan kepada Tuhan karena bisa syirik kalau menganggap ada dua pencipta, meski hal ini boleh jadi benar kalau ditinjau dari situasi kondisi saat pendapat ini lahir dimana pada saat itu filsafat saat mendominasi dan ilmu agama mulai tergeser, adanya pendapat ilmu dunia kurang penting barangkali untuk menggairahkan/menghidupkan kembali/ihya ilmu agama yang mulai tergeser.Kasus ihya mirip dengan adanya kritikan terhadap UIN dimana ilmu umum mendominasi dan tergesernya ilmu agama, meski sebenarnya UIN juga telah melakukan integrasi ilmu agama dan umum, adanya integrasi maka menjadikan ilmu agama dan umum pada dasarnya juga ilmu agama secara hakiki (keberadaan UIN sebagai upaya mendukung /mendorong ke arah terciptanya Islam Kaffah, pola integrasi merupakan bentuk perlawanan terhadap sekularisme).Orang zaman sekarang berbalik 180% derajat bahwa umat Islam zaman sekarang seakan-akan menganggap ilmu dunia sebagai ilmu fardu ain dan sebaliknya ilmu agama dianggap sebagai fardhu kifayah,masyarakatnampaknya sudah berpikir bagaimana habis belajar bisa mudah kerja,masyarakat menganggap bahwa dasar agama yang diberikan ditingkat pendidikan dasar mulai TK,SD/MTs,SMA/Aliyah sudah dianggap cukup jadi untuk selanjutnya adalah kuliah dimana bisa mudah kerja habis kuliah,disamping itu bahwa IAIN juga banyak kehilangan bibit input yang berasal dari Aliyah karena lulusan Aliyah banyak juga yang masuk PTU,hal ini di satu sisi menguntungkan yakni bisa memobilisasi umat Islam secara vertikal lebih banyak tapi IAIN akan kehilangan input yang seharusnya mereka masuk IAIN tapi sebaliknya masuk PTU sehingga yang masuk ke IAIN menjadi berkurang hal ini tak sebanding dengan jumlah lulusan SMA yang masuk IAIN yang relatif sedikit ketimbang lulusan Aliyah yang masuk ke PTU sehingga merugikan kuantitas input yang masuk ke IAIN. DI IAIN/UIN sendiri kecenderungan masyarakat memilih prodi umum itu ada, hal ini bisa dilihat bagaimana prodi umum menjadi pilihan utama/”fardu ain” dan prodi agama menjadi pilihan nomor sepatu/”fardhu kifayah”, jadi nampaknya anggapan bahwa orang Islam tidak suka ilmu umum pada zaman sekarang ini nampaknya pendapat tersebut kurang benar (meski barangkali masih ada segelintir 2-3 orang yang masih berpikir konservatif bahwa ilmu dunia tak penting)karena yang terjadi justru sebaliknya bahwa ilmu agama menjadi prodi yang tergusur sepi peminat dan sebaliknya prodi umum menjadi pilihan utama banyak sekali peminatnya. Apakah ini salah? Sebenarnya tidak salah juga karena yang belajar ilmu agama secara takhassus jumlahnya tidak perlu banyak-banyak tapi cukup sebagian saja (tha’ifatun liyatafaqqahuu fid diin).Yang salah justru kalau umat Islam semuanya belajar agama lalu ilmu dunia dianggap tidak penting,terlalu uzlah zuhud yang kebablasan sehingga menganggap ilmu dunia tidak penting sehingga umat Islam mundur terkebelakang kalah bersaing dengan kemajuan barat yang menganggap dunia sangat penting/sekulerisme sebagaimana terjadi dalam sejarah Islam kita,meski demikian pendapat bahwa ilmu agama fardhu ain adalah relevan agar prodi agama tidak hilang/dihapus,bukankah orang yang belajar agama patut disayangi dan bukan dimusuhi? Karena mereka sudah mulai masuk kategori makhluk langka yang mesti dilindungi dari kemusnahan dizaman modern ini dimana hampir saja semua orang tak berminat diprodi tersebut, disamping kurikulum prodi umum dilakukan intregrasi dengan agama sehingga secara hakiki pada dasarnya menjadi ilmu agama juga (thalabul ilmi fariidhatun).Lalu apakah pendapat bahwa ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah tidak relevan? Ternyata pendapat tersebut sangat relevan dan bahkan diadopsi oleh kurikulum pendidikan nasional kita yakni bahwa struktur kurikulum yang dipakai di Indonesia adalah bahwa yang menjadi mata kuliah dasar/mata pelajaran fardhu ain adalah apa yang disebut dengan mata kuliah dasar/matapelajaran dasar diantaranya bahwa ilmu agama wajib dipelajari dalam semua tingkat satuan pendidikan mulai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi (kita bersyukur juga bahwa ilmu umum dasar seperti berhitung,membaca,menulis dan sebagainya menjadi ilmu fardhu ain mata pelajaran dasar pada tingkat pendidikan dasar dalam kurikulum nasional kita), pada satuan pendidikan tinggi di IAIN/UIN/PTU/Swasta dikenal mata kuliah dasar salah satunya wajib memuat kajian agama, selanjutnya adalah fardhu kifayah berupa mata kuliah keahlian dan pilihan,mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih mata kuliah sesuai minat bakatnya,mahasiswa yang misalnya memilih prodi matematika maka yang bersangkutan tidak berdosa kalau tidak belajar ilmu mesin kereta api yang ada pada prodi fakultas teknik,sebaliknya mahasiswa yang belajar ilmu mesin kereta api di prodi fakultas teknik tidak berdosa kalau tidak belajar ilmu matematika di prodi matematika,jadi mahasiswa bebas memilih alternatif pilihan dan tidak terkena berdosa.Relevansi selanjutnya yakni untuk mengantisipasi golongan kristen yang berupaya keras agar mata kuliah dasar ilmu agama/mata pelajaran dasar ilmu agama agar dihapus dari mata kuliah dasar/mata pelajaran dasar dalam semua kurikulum nasional kita,hal ini yang perlu diantisipasi dan diwaspadai.Kedua, yang menganggap iptek barat hal yang bersifat kemanusiaan biasa dan tak ada sangkut pautnya dengan agama, dengan kata lain netral bebas nilai (free value, neutral value, bersifat mubah biasa tak ada unsur tauhid agama, unsur dakwah dsb, manusia dibebaskan untuk memilih yang baik atau memilih yang tidak baik. Kebolehan memilih yang baik dan memilih yang tidak baik terkait dengan upaya mendorong peningkatan produktivitas pertumbuhan ekonomi, hal ini mirip dengan bank konvensional dimana untuk peningkatan produktivitas maka duit boleh diputar untuk hal yang tidak baik disamping untuk hal yang baik, berbeda dengan bank syari’ah yang tidak membolehkan uang diputar untuk hal yang tidak baik, bahwa bank syari’ah hanya membolehkan uang diputar untuk tujuan yang baik saja. Ini perbedaan prinsip antara bank konvensional dengan bank syari’ah (disamping riba, akad).Ketiga, yang menerima iptek barat asal dilakukan Islamisasi (islam membolehkan mengambil hikmah darimanapun ia berasal, karena hikmah dianggap barang yang hilang), bahwa iptek tidak netral bebas nilai tapi sudah punya potensi fitrah hanif tauhidik yang cenderung pada
pada kebaikan, pada kebenaran.Oleh karena ada stressing titik penekanan bahwa iptek mesti digunakan untuk kebaikan, kebenaran. Manusia tidak dibebaskan sepenuhnya tapi manusia bebas sebebasnya untuk memilih yang terbaik (Hal tersebut dinamakan dengan ikhtiar yakni memilih yang terbaik , kata ikhtiar merupakan mashdar dari kata ikhtaara/memilih yang terbaik (khair), memilih yang tak baik karena kebebasan bukan dinamakan ikhtiar).Terlepas dari hal tersebut gaung wacana islamisasi tersebut sampai kini masih berjalan. Untuk lebih memahami bagaimana bentuk dari islamisasi tersebut, maka sebelumnya kita perlu melihat bagaimana iptek dalam perspektif barat karena dari sanalah kita bisa melihat aspek islamisasi tersebut yang meliputi ontologi, epistemologi, aksiologi dan subyek pelakunya. Berikut akan digambarkan bagaimana perbandingan iptek barat dan islamisasi iptek Islam.
Perspektif Barat :
1. Secara ontologi, bahwa kebenaran ilmu hanya bersumber dari sesuatu yang bersifat emperik, rasional, positifistik hal yang bersifat metafisik bukan dalam wilayah keilmuan.

Perspektif Islamisasi :
Secara ontologi, bahwa kebenaran ilmu bukan hanya berasal dari sesuatu yang bersifat emperik, logik, obyektif, indrawi, rasional, positifistik tapi mengakui adanya unsur campur tangan Allah SWT dalam proses hukum alam, dalam pergerakan molekul atom, segala sesuatu tidak terjadi dengan secara kebetulan saja.
Adanya campur tangan Allah misalnya secara normatif dalam ayat Alquran disebutkan ‘Allamal Insana Ma Lam Ya’Lam (Dia Allah mengajarkan manusia apa yang tidak manusia ketahui).

Persfektif Barat :
2.Secara epistemologi, bahwa dalam hal pencapaian kebenaran suatu pengetahuan maka dilakukan secara rasional, logis, obyektif, emperik, positifistik tidak ada unsur Tuhan.

Persfektif Islamisasi :
Secara epistemologi, bahwa dalam hal pencapaian kebenaran suatu pengetahuan maka dilakukan rasional, logis, obyektif, emperik, positifistik dan mengakui adanya campur tangan Tuhan.Disini bisa dikemukakan bagaimana bentuknya :
1. Bahwa dalam pencapaian pengetahuan dillakukan dengan kekuatan kalbu dan akal disamping indrawi, hal seperti inilah yang di Alquran disebut makhluk ulul albab (zikir dan fikir/ikhtiar).
2. Melakukan kritikan terhadap teori barat yang tak sesuai Islam dan mengambil teori yang sesuai Islam.
3. Membuat disiplin ilmu tersendiri yang diambil murni orisinil dari khazanah keilmuan Islam, hal seperti inilah yang paling diinginkan oleh pengusung Islamisasi, contoh konkritnya seperti ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu core murni umat Islam atau yang paling ideal ialah umat Islam bikin iptek sendiri baik melalui alih teknologi dan terafdhal membikin penemuan iptek sendiri dengan kerangka ontologi, epistemologi, aksiologi berdasar tauhid Islam, ini model yang paling ideal sebagaimana pernah terjadi di masa zaman keemasan Islam.
4. Cara yang sangat sederhana, yakni tetap mengambil iptek barat yang sudah ada namun melakukan integrasi ilmu agama dan umum, memberikan nilai-nilai Islam, Alquran hadits, ijtihad ulama pakar pendidikan Islam dsb. Hanya saja patut dianalis bahwa kebenaran agama adalah adalah absulut dan kebenaran sains adalah relatif dan cenderung selalu berubah meskipun ada juga kebenaran sains yang dianggap sudah final dan biasanya tidak bertentangan dan sangat sejalan dengan Alquran. Oleh karena itu cara yang tidak berisiko adalah dengan memberikan nilai-nilai Islam, etika moral, tauhid spiritualitas dalam iptek barat yang dituangkan dalam model kurikulum integrasi tersendiri.
5. Cara yang juga sangat sederhana, yakni tetap mengambil iptek barat apa adanya/melakukan transfer teknologi barat apa adanya tanpa pemberian nilai-nilai Islam (kalau toch ada maka dengan kadar yang relatif sangat sedikit dan seyogyanya bahwa ilmu agamalah seperti halnya tafsir yang semestinya berfungsi sebagai sumber ontologi yang lalu dikaitkan dengan iptek dan bukannya sebaliknya bahwa iptek yang dikaitkan dijustifikasi dengan tafsir), sehingga diharapkan profesional benar-benar ahli seperti barat apa adanya. Sementara aspek pemberian nilai adalah ada pada pelaku yang diberikan nilai-nilai agama. Para pelaku yang sudah diberi nilai agama dan mempunyai dasar agama yang kuat maka diharapkan dirinya sendiri bisa mengkorelasikan atau mengintegrasikan antara iptek dan nilai agama berdasarkan kemampuan dirinya sendiri, yakni terintregasi lewat pribadinya sendiri. Tokoh yang bisa dinilai mempunyai tipe seperti ini misalnya Dadang Hawari, Harun Nasution, SBY, BJ Habibie dan masih banyak yang lainnya.
Dalam pelaksanaannya bisa dari konkret ke abstrak atau juga dari abstrak ke konkrit.
Allah SWT mengajar manusia melalui sumber-sumber belajar, dalam Alquran disebutkan ‘Alladzi Allama Bil Qalam (Yang Mengajar manusia dengan Pena), Qalam/Pena berarti sumber dan sarana belajar, yang termasuk kategori qalam/pena pada zaman sekarang ini misalnya internet, komputer, buku, perpustakaan, guru, dosen, majalah, koran, teman, multidimensi 3 D dan sebagainya. Jadi disini manusia mesti aktif punya etos menggali mencari ilmu pengetahuan.
Memang dalam hal ini tidak semua orang barat menganggap iptek anti Tuhan misalnya Albert Einsten mengungkapkan bahwa ilmu tanpa agama adalah lumpuh (sience without religion is blame)agama tanpa ilmu adalah buta (religion without sience is blind), tapi ini hanya pendapat segelintir orang barat yang bisa dihitung dengan jari. Begitupun sebagai bahan analisis bahwa dalam teologi Islam sendiri ternyata ada juga perbedaan pendapat apakah Tuhan ikut terlibat dalam segala hal atau hanya atas hasil kerja manusia (qadariyah), bagaimana pula tentang pemahaman Asy’ariyah, Jabbariyah tentang hal tersebut. Pertanyaan lain apakah Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang besar saja atau Tuhan juga mengetahui hal-hal yang kecil. Pertanyaan lain misalnya Apakah Tuhan hanya bersifat sangat jauh dari manusia transenden ataukah Tuhan selain transenden tapi juga sangat dekat emanen dengan manusia lebih dekat dari urat nadinya, kalau urat nadi itu sendiri berada dalam tubuh manusia lalu bagaimana,Dia lah Allah Yang Maha Hadir (Ompnipresent), dalam hadits ada dialog Nabi SAW dengan sahabatnya :”Dimanakah Allah itu? Dibumikah atau dilangitkah?” “Didalam qalbu hamba-Nya yang beriman”, jawab Nabi SAW, dalam hadits qudsi disebutkan bahwa kalbu terdiri dari beberapa lapisan dan lapisan paling inti yang terdapat dalam kalbu ialah sirr dan di dalam sirr itulah ada Aku (Allah), (Apakah hal tersebut merupakan God Spotnya Versi Islam? Entah), qalbu dapat ditafsirkan sebagai pusat orbit, sebagai wadah pusat kesadaran tertinggi (supra kesadaran Ilahiyah) dimana Tuhan menyertai orang beriman (qalbun salim), qalbu “tidak” ditempati oleh Tuhan ketika cermin cahaya qalbu kotor, penuh dosa (al ilmu nuurun wa nuurullahi la yuhda lil ashi),kering hampa karena kurang ibadah/zikir, penuh berdebu dosa tanpa kebajikan, cermin cahaya qalbu sangat kotor sehingga berkarat hitam pekat sehingga menjadikan/membuat cermin cahaya spiritualitas qalbu tak berpijar (qalbun maridh,qalbun mayyit), orang seperti ini bisa dikatakan sebagai “hewan” dengan bentuk rupa manusia (bahkan lebih sesat dari hewan)karena sudah kehilangan sisi kemanusiaannya, sisi ke-Tuhanannya contohnya dalam dunia psikologi dikenal istilah psikopat yakni manusia tanpa/kehilangan hati nurani, mati rasa. Berada pada tingkat asfala safilin yang hina tidak berada pada tingkat kesempurnaan (fi ahsani taqwim) dimana ia menjumpai semua yang telah ia saksikan secara lahir dalam dirinya karena sangat dekat dengan Tuhan.Ketika cahaya spritualitas qalbu membingkai manusia maka logislah Tuhan menjadikan qalbunya sebagai tempat sejatinya, cahaya spritualitas keimanan qalbu adalah cahaya pembersih dan penguat manusia sehingga dengan kebersihan kesucian kefitriannya ini ia mampu membangun pikiran dan sikap prilaku yang berkolaborasi/penampakkan/ mazdhar dengan sifat-sifat/asma-asma/asmaul husna Tuhan ( Khalifatullah, Abdullah untuk kemakmuran bumi, hubungan vertikal dan horizontal, kepentingan dakwah dan bermanfaat bagi agama/kehidupan, rahmat alam semesta, kebahagiaan dunia dan akhirat) yang diantaranya menghendaki sarat akan/sarat dengan nilai-nilai kesucian, keadilan, kebersihan, keindahan, ketenangan (kebahagiaan) jiwa/ketenangan (kebahagiaan) batin/ketenangan (kebahagiaan) hati, kebenaran, kebaikan. Tuhan juga sangat dekat dengan alam yakni emanen bahkan Alquran menyebut bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Awwal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Nampak (al Zhahir), Yang Maha Batin (Al Batin) dan Dia Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, sejauh mana kedekatan Tuhan dengan makhluk? Hanya Allah yang Maha Tahu, apakah kedekatan Tuhan sejauh sampai bisa bersatu seperti halnya bersatunya campuran kopi, atau bersatunya campuran gado-gado? Hanya Allah yang Maha Tahu, bagaimanakah dengan ruh ? Apakah ruh itu sesuatu yang terpisah dari jasmani? Ataukah ruh itu sesuatu yang bersatu dengan jasmani kecuali kalau mati(wa nafakhtu fiihi min ruhii)? Alquran bahkan juga menyebut bahwa Allah SWT adalah Maha Meliputi segala sesuatu, sehingga Alquran juga menyebut kemanapun kita menghadap maka disanalah wajah Allah SWT,Alquran menyebut bahwa segala sesuatu itu binasa (halikun) kecuali wajah/zat-Nya, Alquran menyebut bahwa semua orang adalah fana sedang yang kekal abadi (baqa) hanya wajah/zat Tuhanmu (yaitu Allah hai Muhammad) yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, Alquran menyebut Dia (Allah) beserta kamu dimanapun kamu berada. Pemaknaan Maha Meliputi segala sesuatu adalah beragam sehingga ada yang mengatakan bahwa yang meliputi segala sesuatu (baik manusia, alam semesta dsb)hanyalah sifat Allah yakni sifat Ilmu Allah (sifat,af’al, asma), sedangkan yang lain memaknai bahwa yang meliputi segala sesuatu ini selain sifat, af’al,asma juga zat Allah, sehingga yang menjadi pertanyaan sangat mendasar adalah apakah sifat,af’al,asma itu terpisah dengan zat atau sebaliknya bahwa sifat,af’al,asma itu sesuatu yang tak terpisah dari zat Allah sebagaimana ada dalam perdebatan teologi selama ini (hanya saja menurut ahli sunnah wal jama’ah bahwa sifat Tuhan adalah sesuatu yang bersatu tak terpisah dari zat Tuhan,meski sifat dan zat berbeda, lebih lagi sifat Tuhan berbeda dengan sifat makhluk meski menyerupai bahwa Tuhan mempunyai sifat mirif makhluk misalnya Maha Mendengar tapi mendengarnya Tuhan berbeda dengan mendengarnya makhluk, diyakini bahwa Tuhan Maha Mendengar tapi bagaimana cara mendengarnya diserahkan sepenuhnya bahwa Tuhan yang lebih tahu, tapi yang jelas bahwa ahli sunnah wal jama’ah menganggap bahwa sifat Tuhan adalah sesuatu yang bersatu tak terpisah dari zat Tuhan)lalu konsep ini adalah sebagian kecil dari sebab timbulnya konsep wahdatus syuhud yakni fana ul fana/fana fillah/baqa fillah/liqa Allah/ma’rifatullah bahwa fana perbuatan hamba (makhluk) yang majazi pada perbuatan Allah, fananya asma hamba (makhluk) yang majazi pada asma Allah, fananya sifat hamba (makhluk) yang majazi pada sifat Allah dan akhirnya fananya zat hamba (makhluk) yang majazi pada Wujud zat Allah,tiada yang dilihat (syuhud/ru’yah) kecuali Allah, dari Allah, dengan Allah, untuk Allah, bahwa unsur usaha ihktiar syari’ah sudah bersifat otomatis (automatically, inheren tanpa dipikirkan tanpa dinding tabir hijab, taqarrub yang kasyaf tanpa tabir hijab pendinding dengan Tuhan seakan-akan seperti bertemu melihat langsung dengan Tuhan, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan daya dan kekuatan Allah, hadist menyebut muutuu qabla an tamuutuu (matilah/fanaul fanalah kamu sebelum kamu mati. Menarik bahwa Tuhan bisa bertajalli dengan gunung, firmannya:falamma tajalla rabbuhu liljabali ja’alahu dakka/ketika Tuhannya (Tuhan Nabi Musa) bertajalli kepada gunung maka menjadikannya hancur berkeping, mafhum muwafaqahnya kalau Tuhan dengan gunung saja bisa bertajalli maka lebih-lebih lagi dengan Rasul, para wali, shiddiqien, muqarrabin. Ada salah satu tafsir yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hancurnya gunung adalah fana ul fananya gunung akibat tajallinya Tuhan). Dalam terkait hal ini ada hadist qudsi yang sering dipakai yakni bahwa : Aku (Allah) adalah khazanah/perbendaharaan yang tersembunyi lalu Aku berkeinginan agar dikenal maka Aku ciptakan makhluk agar dia mengenal-Ku/ma’rifat kepada-Ku,Dzin Nun al Misry mengatakan : araftu rabbii bi rabbii (aku mengenal Tuhanku karena anugerah Tuhanku),hal ini menunjukkan bahwa ma’rifatullah berdasarkan atas anugerah semata dari Tuhan meski ada pengecualian bahwa orang bisa ditarik (jadzab) oleh Tuhan kepada-Nya. Firman Allah : wa ma khalaktul jinna wal insa illa liya’buduuni, salah satu penafsiran dari kata li ya’buduuni ialah li ya’rifuuni yakni agar mereka mengenal-Ku/ma’rifat. Oleh karena itu wajar Allah berfirman : “Dan bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah maka Allah akan mengajarkan kamu”, ayat ini menunjukkan bahwa taqwa akan menyebabkan Allah mengajarkan suatu ilmu yang tidak diberikan pada semua orang yakni ilmu ma’rifat, ilmu ma’rifat didapat secara langsung dari Allah (yakni ilmu laduni, Alquran mengatakan : min ladunka)tapi ilmu tersebut hanya diberikan/dianugerahkan kepada orang yang dekat dengan-Nya, orang yang taqwa kepada-Nya dari hamba-Nya, makna mafhum mukhalafahnya kalau orang tidak bertaqwa maka sulit sampai pada ma’rifat,sulit punya zauq ma’rifat kalau tak bertaqwa sebaliknya makna mafhum muwafaqahnya bahwa dengan taqwa maka mudah sampai pada ma’rifat semakin taqwa maka semakin mudah ma’rifat sebaliknya semakin tidak taqwa maka semakin sulit tak mudah sampai pada ma’rifat, meski pada dasarnya mengenal Allah secara hakiki selama di dunia ini nampaknya mustahil , mustahil kita berkata bahwa Allah adalah seperti ini seperti itu (para Nabi khususnya Nabi Muhammad, aulia, shiddiien,muqarrabin hanya sampai pada zauq ke-Esaan zat Tuhan/tauhid zat tapi mereka mustahil sampai pada mengenal hakikat zat yang Maha Absolut hakiki yang berada pada kategori laisa kamitslihi syai’un hanya Allah-lah yang tahu hakikat wujud Dia sebenarnya, firman-Nya : wa yuhadzdzirullaahu nafsahu (Allah mencegah kamu sekalian untuk mengenal hakikat zat Dirinya yang hakiki, la tudrikuhul abshar; (Dia (Allah) tak bisa dicapai oleh penglihatan, wa ma uutiiitum minal ilmi illla qaliilaa, tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit) dan bahkan menimbulkan hal yang sangat kontroversial dalam pemikiran Islam dan diduga pengaruh Neo Platonisme/Emanasi/Faidh/Pelimpahan atau mitos yakni wahdatul wujud. Wahdatul wujud (faham kesatuan/baca: ketauhidan wujud Tuhan dan makhluk, Tuhan sebagai satu-satunya wujud hakiki/Tauhid wujud) pada dasarnya berbicara pada dataran konsep tasybih dan tanzih, tasybih yakni penyerupaan makhluk, wa huwas sami’ul bashir,disini Allah mirip dengan makhluk yakni Mendengar dan Melihat, dekat emanen, konsep tanzih yakni Maha Suci Allah dari sama dengan makhluk, laisa ka mistlihi syai’in, transenden, istilahnya Huwa La Huwa (Dia tapi bukan Dia), alam adalah cermin Tuhan tapi tak sempurna , cermin Tuhan yang sempurna adalah manusia yakni Nabi Adam sampai yang paling sempurna yakni Nabi Muhammad Saw, selanjutnya akan diteruskan oleh insan kamil berupa para wali, shiddiqien, muqarabin sampai sekarang ini, mereka inilah (dari Nabi sampai muqarrabin) yang disebut kalangan wahdatul wujud sebagai cermin Tuhan atau insan kamil/manusia citra Ilahi (disinilah timbul kontroversi karena Hakikat Nur Muhammad yang dianggap qadim karena bagian dari Tuhan dianggap menempati manusia insan kamil mulai Nabi Adam sampai yang paling sempurna Nabi Muhammad Saw secara sangat ekstrem dikatakan bahwa antara Tuhan, Adam dan Nabi Muhammad saw adalah sesuatu yang bersatu mirip-mirip dengan kasus Nabi Isa lalu penempatan Tuhan tersebut dilanjutkan dengan para wali, shidiqien, muqarrabin. Terkait ini maka timbul pemahaman akan adanya suatu kejadian dluar kebiasaan, berada diluar enegi kemampuan manusia, misalnya mu’jizat, karamat, ma’unah. Mu’jizat terjadi manakala unsur ke-Tuhanan sangat tinggi sehingga yang terjadi dan berfungsi bukan energi manusia tapi energi Tuhan seperti halnya Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati,Nabi Muhammad saw yang bisa isra mi’raj hanya dalam waktu singkat, ini tentu yang berfungsi adalah energi Tuhan bukan energi manusia maka wajar kalau berada diluar kekuatan manusia, berada diluar hukum sebab akibat kausalitas/berada di luar sunnatulllah biasa, begitu juga dengan karamah misalnya yang terjadi pada pada wali songo dimana yang berfungsi adalah energi Tuhan sehingga terkesan aneh. Terkait dengan hal di atas pula terjadi apa yang disebut dengan wahdatul adyan/kesatuan agama/pluralisme agama, bahwa orang menghadap ka’bah, salib, patung, lembu pada lahirnya hanya simbol saja tapi pada dasarnya untuk menghadap yang subtansi Maha Gaib, andai menghadap ka’bah diniatkan untuk menyembah ka’bah maka dianggap salah, bahwa konsep zat sifat af’al/dan Konsep hubungan Nabi Adam, Nabi Muhammad saw dan Tuhan bahkan para wali, shiddiqien, muqarrabin mirip dengan konsep
Nabi Isa. Meski Ibnu Arabi kenyataannya juga mendukung syariat Nabi Muhammad saw sekaligus percaya akan agama cinta, hanya yang unik dia menganggap bahwa menghadap ka’bah bukan bagian dari syarat sahnya shalat. Bagi yang percaya akan adanya pluralisme agama maka ia juga percaya terhadap Nur Muhammad, bagi yang tak percaya Nur Muhammad maka tak percaya juga pada pluralisme agama, karena konsep Nur Muhammad melahirkan konsep pluralisme agama ). Salah satu ajaran wahdatul wujud yang sangat terkenal yakni tentang Nur Muhammad, konsep Nur Muhammad sendiri mirip dengan konsep Akal Pertama dalam dunia filsafat berupa materi awal, begitupun kalau dalam Nur Muhammad ada martabat tujuh maka dalam filsafat ada dari Akal Pertama sampai Akal Sepuluh (dalam Alquran berakal/ya’qilu adalah salah satu fungsi dari qalb,berakal tidak pernah dalam bentuk kata benda ism (aqlun)tapi selalu dalam kata bentuk kata kerja fi’il dimana manusia berakal/ya’qilu dengan qalbunya, maka kata benda/ism aqlun, qalbun, dan Tuhan adalah sesuatu yang sangat berkaitan erat sekali. Ada hal yang menarik yakni mengenai kasus sujudnya malaikat kepada Nabi Adam, bukankah yang berhak disujudi hanya Allah? apakah malaikat syirik lalu iblis masuk sorga? Oleh karena sujudnya malaikat menunjukkan adanya unsur ketuhanan yang sangat nyata kuat dalam diri Nabi Adam, begitupun dengan kasus Nabi Isa dimana unsur ketuhahannya sangat kuat dan unsur kemanusiaannya sedikit atau hilang sehingga oleh sebagian sekte kristen dianggap satu dari Tuhan yang tiga.Agama Islam sendiri menyebut Nabi Isa sebagai Rasul, kalimullah/firman Allah, dan ruhullah/ruh Allah, begitupun dengan Nabi Muhammad saw yang pernah berdo’a yang potongannya yakni : waj’alnii nuuran/dan jadikan aku cahaya, bukankah nur/cahaya itu adalah salah satu dari nama Tuhan yang terbaik/ asmaul husna?) , problematika diawali karena Hakikat Nur Muhammad dianggap Qadim, konsep Nur Muhammad diperdebatkan karena haditsnya sangat kontoversial, ada yang menganggap lemah dha’if bahkan palsu maudhu’i meski ada yang menilai shahih atau minimal hasan ligairihi. Keadaan hadits mengenai Nur Muhammad yang diperselisihkan ulama inilah juga menjadi sebab mengapa Nur Muhammad yang merupakan ajaran dari wahdatul wujud mengundang kontroversi di kalangan pemikir dan masyarakat muslim sampai kini.Allah sendiri sebagai Cahaya langit dan bumi (Allahu Nurus samawati war Ardh, kalau kita qias/ibaratkan secara kecil-kecilan dengan matahari, maka matahari sebagai Pusat sementara cahaya sebagai pancarannya yakni “matahari” dalam i’tibar makna, cahaya bukan matahari, tapi cahaya tak bisa lepas dari matahari (?) sebaliknya matahari bukanlah cahaya , adanya cahaya menunjukkan adanya matahari, tak ada cahaya maka menunjukkan tak ada matahari sebaliknya keberadaan cahaya tergantung pada keberadaan matahari, tak ada matahari maka tak ada cahaya, dalam kisah disebutkan Nabi Ibrahim pernah keseleo paham yakni menganggap matahari bulan sebagai Tuhan lalu akhirnya menemukan Tuhan yang sebenarnya Al Haqq. Alquran menyebut: nuurun ‘ala nuurin yakni Cahaya diatas Cahaya yaitu Cahaya yang berlapis-lapis, apakah cahaya yang berlapis-lapis ini sama dengan konsep martabat tujuh dalam Nur Muhammad atau Akal Pertama sampai Akal Kesepuluh dalam teori filsafat? Entahlah, Wallahu A’lam. Yang jelas bahwa cahaya Allah akan menempati/dihidayahkan kepada qalbu yang bersih dan dekat dengan Allah). Ibnu Arabi sendiri dianggap ucapan pendapatnya bersifat plin plan karena pada satu sisi ia mengatakan bahwa antara Tuhan dan makhluk adalah sama tapi secara bersamaan di sisi lain ia mengatakan bahwa antara Tuhan dan makhluk adalah berbeda, perkataan Ibnu arabi yang bersifat plin plan memakai standar ganda inilah yang menimbulkan kontoversi yang berkepanjangan bahkan lebih dari dua abad sejak kemunculan istilah wahdatul wujud (istilah wahdatul wujud bukan dari Ibnu Arabi tapi dari pengkiritiknya yakni Ibnu Taimiyah meski Ibnu Taimiyah sendiri diakhir hayatnya mirip dengan Imam al Ghazali yakni cenderung ke tasawuf juga pada akhirnya, pada akhir hayatnya), para pemikir Islam yang mengkitik konsep wahdatul wujud barangkali karena untuk menjaga aqidah ummat karena kalau salah bisa tersesat, suatu alasan yang cukup masuk akal, bagi yang setuju barangkali karena melihat pandangan konsep Ibnu Arabi secara utuh keseluruhan tidak parsial sepotong, tapi yang jelas dan pasti bahwa konsep wahdatul wujud adalah berbeda dengan konsep Panteisme Barat, bahwa panteisme menganggap bahwa alam sebagai Tuhan itu sendiri sehingga alam kekal, dunia kekal yang melahirkan sekuralisme posivistik, emperis. Kalau orang bekerja keras dengan niat tujuan untuk mencari uang maka pada dasarnya orang tersebut juga sedang niat tujuan untuk mencari Tuhan karena uang = Tuhan dalam persfektif panteisme. Kalau panteisme tidak mengakui adanya Tuhan, tidak mengakui ketergantungan alam terhadap Tuhan tapi wahdatul wujud justru mengakui Tuhan sebagai Khalik yakni wujud alam tergantung terhadap adanya wujud Tuhan. Meski wahdatul wujud kontoversial tapi ajarannya seperti konsep Nur Muhammad masih berkembang dipelajari sampai saat ini sebut saja misalnya di Aceh, Kalimantan Selatan, sebagian Jawa dan Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan daerah lainnya bahkan di berbagai kawasan Asia Tenggara dan sebagian kawasan negara muslim lainnya. Pertanyaan lain seperti halnya sebuah lagu Group Bimbo bertitel “Tuhan” dalam satu baitnya berbunyi ” aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau dekat”, ini nampaknya sejalan dengan ayat alquran “maka ingatlah (zikirlah) kamu sekalian kepada-Ku maka Aku akan mengingat kamu dan bersyukurlah kamu sekalian kepadaKu dan janganlah kamu sekalian berbuat kufur kepada-KU (mengingkari nikmat Tuhan/keberadaan Tuhan)”, seakan kalau kita mengklik tombol/password Tuhan (baca : zikir) maka kita akan wushul sampai, online dengan Tuhan karena Tuhan juga online dengan kita, sebaliknya kalau kita tidak mengklik tombol/password Tuhan (baca : zikir) maka kitapun tidak wushul sampai, online dengan Tuhan (meskipun ajaran sebagian teologi mengajarkan bahwa tak ada sesuatupun yang terjadi lepas dari peran Tuhan. Disamping itu bahwa selain kita online dengan Tuhan kita mesti juga inline yakni jihad terbesar/mujahadah melawan hawa nafsu yang menyuruh untuk berbuat kejahatan (an nafs al ammarah bis su’i)sehingga an nafs al ammarah bis su’i bisa ditundukkan patuh berada dibawah kendali syariat/akal (diikat oleh akal) bahkan yang bagus bagaimana nafsu bisa mendapat rahmat Allah/nafs marhamah (nafs marhamah terbagi menjadi : nafs mutmainnah, nafs musawwalah, nafs lawwamah, nafs mulhimah, nafs radhiyah, nafs mardhiyah, nafs kamilah), inline yakni beredar di lintasan garis orbit kehidupan yakni berada dalam garis aturan Tuhan (syariat), online yang inline atau inline yang online maka inilah sebenarnya hakekat sebenar-benar taqwa lahir batin, yakni haqqa tuqatih?)Hal tersebut kalau semakin lama maka merupakan riyadhah/latihan kebajikan ilmu dan amal sempurna lahir batin yang buahnya yakni pada akhirnya akan membentuk karakter/moral yang mendarah daging, rasa diawasi Tuhan (muraqabah), takut akan siksa (mu’atabah, khauf), sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan (as syukur) dan harap ganjaran dan ridha Tuhan (ar-raja’), dilakukan atas dasar mahabbah (rasa cinta kepada Tuhan dan mengharap kecintaan Tuhan, sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta maka terasa ringan tidak berat,mahabbbah tidak menduakan Tuhan, cinta kembar, cinta ganda, mencintai yang lain daripada Allah bisa syirik maka tidak boleh cinta kembar seperti cinta dunia sekaligus cinta Tuhan, cinta Tuhan mesti diletakkan diatas segala-galanya sehingga yang dicinta bukan barang nikmat pemberian-Nya tapi yang dicinta adalah Sang Maha Pemberi nikmatnya. Kata pepatah lebih baik menyukai apa yang dikerjakan daripada mengerjakan apa yang disukai. ) disertai supra kesadaran tertinggi ilahiyah. Hal-hal seperti inilah yang juga merupakan bagian dari perdebatan teologis yang ikut mewarnai wacana islamisasi khususnya aspek ontologi, epistemologi.

Persfektif Barat :
3. Secara aksiologi, bahwa dalam hal penggunaan iptek hanya digunakan untuk manusia, bahkan ada ungkapan yang lebih sempit maknanya misalnya ilmu untuk ilmu, seni untuk seni contoh kecil misalnya seseorang bebas melakukan pornoaksi karena semata atas dasar asas kemanusiaan/Hak Asasi Manusia, karena alasan kebebasan berekspresi, semata atas nama “seni” untuk seni yang tak terkait etika agama, seni mesti dipisahkan dari agama atau agama tak boleh masuk ke wilayah seni sehingga pornoaksi menjadi boleh dilakukan di masyarakat karena seni tak ada sangkut paut sama sekali terkait etika agama(sekularisasi seni/liberalisasi seni,)dan terkadang kalau dalam kebablasan untuk menghancurkan umat manusia, ini kalau kebablasan. Dan tak ada unsur untuk mengetahui dan mengabdi pada Sang Pencipta.

Persfektif Islamisasi :
Secara aksiologi, bahwa pengetahuan dimanfaatkan sebesarnya untuk pengabdian pada Tuhan dan mengenalnya, kepada kemaslahatan umat manusia, diri sendiri, kepada lingkungan.

Persfektif Barat :
4. Subyek Pelakunya. Sebaik-baik peraturan maka tak akan berarti apa-apa kalau orang yang menggunakannya tak baik, yakni melanggarnya.Yang ideal tentu peraturannya baik lalu didukung oleh penggunanya yang juga baik sebaliknya yang tak ideal yakni peraturannya yang tidak baik ditambah dengan subyek pelakunya yang juga tak baik. Kalau kita melihat aspek ontologi, epistemologi islamisasi diatas maka pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak netral bebas nilai tapi sudah mengandung potensi fitrah bertauhid hanif condong cenderung pada kebaikan, kebenaran. Jadi iptek sama dengan manusia yang tidak netral seperti gelas kosong sebagaimana pemikiran barat apalagi manusia mengandung dosa warisan sebagaimana ajaran kristen tapi ia sudah berisi mengandung potensi/ mempunyai fitrah bertauhid hanif condong pada kebajikan, intinya iptek tidak netral tapi cenderung pada kebajikan fitrah hanif, cenderung pada kebenaran tauhid karena iptek juga ciptaan berasal dari Allah SWT Yang Maha Kuasa Maha Benar Maha Suci bahkan Alquran mengatakan : Allahu lladzii fatharas samawati wal ardh (Allahlah yang menciptakan/fathara langit dan bumi), di sini penciptaan langit dan bumi memakai kata fathara yakni fitrah. Iptek yang sudah punya potensi fitrah hanif cenderung pada nilai kebaikan, kebenaran, tauhid lalu didukung oleh manusia pengguna yang juga baik yang memanfaatkan potensi fitrah hanif pada dirinya secara maksimal untuk kebaikan, kebenaran, tauhid maka membikin dunia damai, tapi kalau sebaliknya maka……. seperti kata sebuah iklan di televisi apa kata dunia?!.Berbeda dengan iptek barat sekuler bahwa iptek netral bebas nilai (free value, neutral value).Hanya saja terkadang dalam keseharian unsur tauhid hanif dari iptek tidak disebut tapi hanya urusan hati/urusan batin maka sering pula terdengar “iptek netral bebas nilai”, misalnya saja internet tentu internet adalah “netral” sebab dalam internet ada unsur positifnya tapi ada unsur negatifnya, kedua unsur positif negatif ini nampaknya bisa bergandengan tangan berkawan berdampingan bertetangga bisa hidup berada dalam satu tempat rumah yang bernama internet jadi iptek dalam hal ini adalah “netral”. Lalu dimana islamisasinya? Islamisasinya tentu berada pada subyek pelaku pengguna internet, kalau pengguna menggunakan internet untuk kebaikan, menggunakan untuk pengabdian pada Tuhan sebagai asal muasal iptek yakni mengembalikan iptek kepada asal muasalnya yakni Tuhan maka dia telah melakukan islamisasi (menarik bahwa menteri Informasi Komunikasi M. Nuh pada saat menyerahkan beberapa perangkat internet kepada sejumlah pesantren, bahwa internet yang diserahkan sudah disterilkan dan diblokir dari situs-situs yang tak baik) sebaliknya kalau dia menggunakan internet untuk hal negatif tentu bukan islamisasi namanya tapi sekularisasi liberalisasi iptek. Oleh karena itu subyek pelaku perlu diislamkan diarahkan diberi nilai positif agar menggunakan internet untuk kebaikan. Disini islamisasi terletak pada prilaku aksiologi positif pelakunya. Pelaku perlu diislamkan supaya jangan sampai terjadi seperti di barat dimana gara-gara kemajuan iptek lalu kafir terhadap keberadaan Tuhan, mereka menyebut Tuhan telah mati (The God Is Dead) dan lalu mempertuhankan komputer, mempertuhankan lptek, mempertuhankan internet dan kafir tarhadap keberadaan Allah SWT, dalam hal situasi seperti inilah Islamisasi iptek mendapat celah yang sangat baik sekali. Dalam kasus lain bisa saja sesuatu pengetahuan yang nampaknya baik tapi pada saat aksiologi pelakunya kurang baik maka menjadi tidak islamisasi, misalnya pengetahuan Alquran Hadits digunakan untuk penyokong partai tertentu meski Alquran Hadits tersebut tak ada sama sekali hubungannya dengan partai, atau misalnya Imam Al Ghazali mencela ilmu agama digunakan untuk mencapai atau mencari uang kekayaan, bisa berubah menjadi madzmumah, (yang dimaksud di sini adalah bahwa uang tetap perlu hanya saja jangan dijadikan tujuan utama, tujuan utama keridhoaan Allah sementara uang hanya alat bukan tujuan dan hanya buah dari keridhoaan Allah di dunia, uang mesti dilihat sebagai upah gaji karunia dari Allah, mengharap ridha Allah dan dapat penghasilan karunia Allah 10 juta tentu lebih baik daripada tidak ikhlas dan dapat penghasilan hanya 1 juta, ikhlas merupakan amal dengan niat cara untuk taqarrub dengan Allah dan motivasinya bukan motivasi keduniaaan tapi motivasi kejayaan akhirat yang kata ulama kalau motivasinya adalah motivasi kejayaan akhirat yang kekal maka kebahagiaan dunia mesti dapat, mesti ikut ibaratnya kalau menanam padi maka pasti tumbuh rumput tapi sebaliknya kalau motivasinya adalah motivasi dunia maka kebahagiaan akhirat yang kekal tak akan dapat ibaratnya kalau menanam rumput belum tentu akan tumbuh padi, ikhlas merupakan sikap tak mau memperlihatkan amal pada orang lain karena amalnya ingin minta puji/riya/syirik khofi/syirik ashgar, ingin memperdengarkan amalnya pada orang lain/sum’ah tapi kalau memperlihatkan amal atau memperdengarkan amal dengan tujuan sebagai suri tauladan maka boleh saja kalau toch ada yang memuji maka pujian itu dikembalikan kepada Allah, firman- Allah :wa quli’maluu fa sayarallhu wa rasuluuluhu wal mu’minuun (dan beramallah kamu sekalian maka Allah dan Rasul-Nya akan melihatnya begitu juga kaum mu’minin. Ayat lain :wa amma bini’mati rabbika fahaddits).Ikhlas mahabbah berbentuk ingin surga takut neraka, berbentuk tak mengharap apa-apapun, dan bentuk kerinduan sehingga fana saat tajalli Tuhan yang dirindui, Ikhlas sebagai syarat utama diterimanya suatu amal sementara syarat rukun fiqh hanya sebagai syarat sahnya suatu amal, kalau tak ikhlas bisa dikatan bahwa amalnya akan ditolak Allah. Selebihnya bahwa ikhlas sangat diperlukan dalam dakwah yakni bahwa yang bersangkutan mempunyai temperatur batin etos kerja yang stabil dalam semua keadaan baik dikasih banyak ataupun sedikit yang penting dalam suatu dakwah bahwa banyak atau sedikit maka Alhamdulillah ‘ala kulli halin dipuji tidak sombong dan pandai mengembalikan pujian tersebut ke Tuhan dimaki tidak minder hina dan pandai mengembalikan bahwa makian sebagai ujian dakwah dari Tuhan karena yang menjadi tujuan bukan keridhaan manusia tapi Allah Ghayatuna sehingga temperatur batin etos kerjanya akan stabil yang menurut Yusuf Qardhawi bahwa ikhlas adalah bagian dari potensi kekuatan agama Islam , ikhlas sendiri ternyata bertingkat-tingkat, meski dalam dunia dakwah ataupun dalam dunia pendidikan kita dalam kenyataannya sulit menghindari dari upah orang lain/gaji Tuhan yang konon disebabkan karena dalam batas tertentu murid adalah wajar berterima kasih dan memberikan penghargaan penghormatan terhadap otoritas keilmuan seseorang, adalah tidak wajar kalau guru untuk keperluan sehari-hari saja semisal makan harus berutang ke sana kemari ini tentu tidak manusiawi tidak Islami, tetapi kalau kita bicara secara ideal maka dalam konsep Islam bahwa yang bertanggung jawab dalam pendidikan termasuk pembiayaan adalah negara, negaralah yang mestinya bertanggung jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini nampaknya kita juga malu dengan barat, bayangkan saja gaji untuk guru besar pemerintah negara barat ngasih gaji sekitar 50-60 juta dalam setiap bulannya, belum lagi untuk dana kegiatan riset penelitian yang jumlahnya beratus-ratus milyar dalam setiap tahun, mereka nampaknya sangat menghargai proses keilmuan, bandingkan dengan kita di Indonesia, hanya saja bagi kita orang Islam supaya tak sombong ,tak lupa diri dan pandai bersyukur maka duit mesti dilihat sebagai upah karunia dari Sang Maha Pemberi Rezki, dari Sang Maha Kaya Allah swt. Allah swt berfirman dalam Alquran in ajriya illa alallhi rabbil alamin yakni sesungguhnya aku mendapat upah hanya berasal dari Allah Tuhan semesta alam, ) , adapun peringatan Imam Al Ghazali ini menunjukkan bahwa yang penting adalah bagaimana niat lurus dan penggunaan aksiologinya supaya bagus dan bernilai tidak hanya dunia tapi juga akhirat. Jauh sebelumnya Rasulullah pernah mewanti-wanti yang intinya bahwa ada amalan akhirat yang akhirnya menjadi amalan dunia sebaliknya ada amalan dunia menjadi amalan akhirat, jadi tergantung niat dan penggunaannya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Kalau subyek pelaku menggunakan untuk niat kebaikan inilah islamisasi ilmu (baik islamisasi iptek maupun islamisasi ilmu agama). Hal yang sangat ideal ialah kalau umat Islam sendiri yang menemukan iptek baik melalui alih teknologi, terafdhal umat Islam menemukan dan membikin iptek sendiri berdasarkan murni temuannya sendiri dengan ontologi, epistemologi, aksiologi, serta para penggunanya yang berdasarkan pada tauhid Islam sebagaimana pernah terjadi di masa zaman keemasan Islam (Teo-Antropo Sentris/Khalifatullah Abdullah, Taqwa Lahir Batin/Taqwa Syari’at, Tarikat, Hakikat,Ma,rifat Haqqa Tuqatihi/Sebenar-Benar Taqwa), pola ini yang paling ideal, bangunan keilmuan Islam ibarat sebuah pohon yakni akarnya adalah tauhid,batang pohonnya integrasi antara kalbu, akal dan emperis konkrit, integrasi antara agama dan umum, ranting daunnya membawa manfaat keteduhan yang sebesar-besar bagi kemashatan seluruh manusia, rahmatan lil alamin dan didukung oleh pengguna pohon yang juga bagus dalam rangka membangun peradaban Islam yang bertauhid, ibadah, beretika akhlak, terbuka dengan hikmah darimanapun ia berasal tak peduli agama dan bangsanya yang baik diambil yang tak baik ditolak, inovatif terafdhal membikin keilmuan dari core murni khazanah keilmuan Islam sendiri,al muhafazah alal qadiimis sholeh wal akhdzu bil jadiidil ashlah, universal rahmatan lil alamin. Oleh karena itu dalam Alquran sangat jelas disebutkan iqra bismi rabbika ( bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu) sebagai ayat pertama dalam Islam, ayat ini menunjukkan bahwa hasil bacaan pada Alquran (agama), ayat kauniyah alam semesta (iptek, makro) dan ayat pada diri sendiri (mikro) adalah mesti digunakan untuk sebesar-besar kemaslahatan umat manusia dalam rangka pengabdian pada Tuhan, tidak kafir terhadap keberadaan Tuhan dan mengenal Sang Pencipta, Allah SWT (bismi rabbika).Jam 3.00, tanggal 12-4-2009. Wallahu A’lam.

« »

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s