Islam Nusantara – Studi Islam Kawasan

Islam Nusantara-Studi Islam Kawasan oleh M Daud Yahya pada 03 November 2010 jam 17:17

Islam Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan  dikenal sebagai islam moderat, ini sejalan dengan normatif alquran yakni ummathan wasathan. Islam yang masuk ke Indonesia yakni Islam sunni aswaja moderat. Dalam perspektif teologi, tasawuf, fiqh misalnya ada paham aswaja asy’ari, ghazali, syafi’i yang dikenal sebagai berpaham moderat sunni, dalam perkembangannya paham moderat sunni tadi terjadi lagi sinkretisme/penyesuian dengan lokal Indonesia maka ada lagi istilah fiqh Indonesia.

Pada dasarnya aswaja terbagi 4,  yakni pertama aswaja menurut hadist maa anaa ‘alaihi wa ashhaabii,  maka hampir semua kelompok mengklaim sebagai aswaja,  baik muhammadiyah yang melakukan interprestasi secara modernis, maupun NU melalui tradisionalis pendekatan madzhab atau aliran yang lainnya seperti salafi,  juga aswaja dalam pengertian hadits maa anaa ‘alaihi wa ashhaabii, lawan dari aswaja yang mencontoh Nabi saw yakni ahli bid’ah yang tidak mencontoh Nabi saw, selanjutnya aswaja kedua diantara tokohnya yakni Hasan alBasri sebagai orang yang menghindari persengketaan politik atau bersikap netral antara Mu’awiyah dan Ali dan netral memilih ar-ruju” ilal qur’an, jadi dari persoalan politik ke teologi, dan lalu aswaja ketiga sebagai madzhab teologi yang oleh pengikutnya disebut juga pembela pengikut ahli sunnah yakni teologi asy’ari yang membedakan dengan teologi syi’ah, khawarij, mu’tazilah. Selanjutnya aswaja keempat yang tren di Indonesia yakni sebagai cara berpikir memahami alquran hadist melalui madzhab yang sudah dikenal sebagai madzhab tawassuth, tasamuh, tawazun, i’tidal. Dalam bidang teologi, tasawuf, fiqh misalnya ada paham aswaja asy’ari/al maturidi, ghazali/junaid al baghdadi, syafi’i/ salah satu dari 4 madzhab, semuanya itu  dikenal sebagai berpaham moderat sunni, dalam perkembangannya paham moderat sunni tadi terjadi lagi sinkretisme/penyesuian dengan lokal Indonesia maka ada lagi istilah fiqh Indonesia.

Aswaja Indonesia punya ciri lainnya yakni fleksibel akomodatif krompomistis (“abu-abu liberal”) terhadap budaya lokal, Pancasila, bahkan saking akomodatif kompromitisnya pernah kompromi terhadap nasakom Sukarno. Sikap tawassuth, tasamuh, nahi munkar, tawazun, i’tidal juga menjadi sikap dalam bermasyarakat. Bermadzhab dan sering memakai  keputusan bahsul masa’il, ada  kelompok yang  tidak bermadzhab dan  memakai keputusan pedoman organisasi. Aswaja diklaim sebagai satu-satunya kelompok yang selamat dan benar dari 72 golongan lainnya yang tidak benar dan tidak selamat ke surga sebagaimana isyarat Nabi saw (Meski demikian sebagai perbandingan bahwa ada hadits lain yang mengemukakan bahwa 72 golongan akan selamat ke surga, hanya satu golongan saja yang ke neraka yakni kalangan zindik. Kalau hadits ini bisa diterima maka pada dasarnya hampir semua kelompok Islam apapun adalah benar selamat dan akan masuk ke surga, kecuali kalangan zindik).  Di Indonesia ada aswaja ormas non ideologi politik/fikrah bukan harakah seperti NU, Muhammadiyah dan ada juga yang bernuansa ideologi politik Islam/harakah.

Dalam perspektif pendekatan pemahaman interpretasi maka aswaja ada 3 macam yakni pertama, aswaja dengan pendekatan literlik skripturalis yang mendahulukan nash dari akal logika dan menolak takwil akal logika khususnya dalam asma wa shifat, contohnya salafus sholeh,

tapi ada disebut ijtihad yang tidak biasa misalnya saja ijtihad sahabat Umar ibn Khattab yang oleh sebagian kalangan dianggap ada yang bersifat rasional tapi oleh sebagian kalangan prilaku Umar ibn Khattab tidak keluar dari nash. Nabi saw sendiri memberi hierarki petunjuk yakni alquran, baru hadits (biasanya memahaminya juga dengan cara ijtihad), baru ijtihad/pemakaian rasio akal, inilah konsep peradaban Islam yang sesungguhnya sebagaimana di zaman Nabi saw dan para sahabatnya, gabungan teks dan rasio akal, dengan hierarki alquran dulu, baru hadist, baru ijtihad rasio akal, oleh karena adalah pendapat konyol manakala Islam hanyalah peradaban teks belaka karena pendapat tadi tidak didasari oleh fakta historis.

Selanjutnya kedua, aswaja yang setengah literlik skripturalis dan setengah konteks, bisa  menerima nash dan masih mendahulukan nash dari takwil logika akal tapi bisa juga menerima penggunaan takwil logika akal, contohnya teologi asy’ari, NU, Muhammadiyah. Selanjutnya ketiga, yang tergolong kelompok abu-abu karena sering didebat dibantah yakni aswaja dengan pendekatan takwil logika akal, tidak menolak nash tapi mau menerima nash  kalau masuk akal. Yang pokok selama ketiganya tetap menjadikan alquran dan sunnah sebagai sumber pegangan pokok maka bisa saja dimaklumi, tetapi manakala ternyata mengandalkan takwil logika akal serta menggugat keabsahan alquran (semisal tuduhan masuknya unsur kreativitas  manusia sehingga terjadi masuknya ayat-ayat setan/satanic versis, adanya penolakan terhadap ayat yang berada di Madinah/ayat madaniyah, dsb. Dalam perspektif teologi, bahwa salah satu doktrin penting agama kristen yakni tentang penyaliban Isa, bahwa doktrin bantahan alquran tentang penyaliban Isa hanya bisa dibantah manakala alquran adalah palsu) dan juga terhadap sunnah dan tidak menjadikannya sebagai sumber pegangan pokok maka tentu keliru dan bukan aswaja.

Secara umum aswaja/ahlus sunnah wal jama’ah bukanlah nama madzhab monopoli milik ormas tertentu saja secara disederhanakan, tapi ahlus sunnah wal jama’ah  adalah berarti metode berpikir siapa saja orang yang setia istiqamah menjalankan seluruh ajaran Islam sesuai dengan apa  yang pernah disabdakan, dicontohkan, dikerjakan, ditetapkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya/sunnah, yang  mengacu pada alquran yang dijadikan sebagai pedoman hidup dunia akhirat. Ahsanul quruun qarnii tsumma yaluunahum tsumma yaluunahum. Nabi saw memerintahkan agar umat Islam terhadap aswaja “menggigitnya dengan taring/gigi geraham”.

Dalam perspektif kontemporer,  ahlus sunnah wal jama’ah  bisa berarti civil society/ sistem sosial masyarakat sipil, egaliter, beradab/madani,   yang mengakomodasi  persamaan, pluralistik kontrak sosial, toleransi yang diberi atribut Islam berdasarkan sumber ajaran Islam, yang oleh cendekiawan muslim Indonesia diistilahkan dengan masyarakat madani yang punya akar ke masa masyarakat ideal Islam awal masa Nabi Muhammad saw dan sahabatnya berdasarkan kesepakatan sosial dalam piagam madinah. Masyarakat Madani merupakan masyarakat yang berperadaban, punya kesadaran hukum, punya kemandirian, keaktifan, punya kesempatan yang sama, kesetaraan, egaliter, punya kebajikan publik (public good), mengayomi kalangan minoritas, membangun untuk semua kalangan masyarakat tanpa perbedaan, punya gairah berusaha dalam ekonomi, kesejahteraan merata tidak ada kesenjangan, humanis religius transendental,  spiritual, iman taqwa.

Islam masuk ke Indonesia melalui jalan damai. Secara kultural,  para penyebar Islam seperti sufi atau wali sangat berjasa besar dalam penyebaran dakwah Islam melalui strategi kultural.Tasawuf yang lentur maka bisa mengakomodasi unsur kultural. Dalam perkembangannya maka ada akomodasi tradisi lokal yang diberi nuansa Islam, maka Islam banjar bisa berbeda dengan Islam surabaya, Islam yogyakarta, Islam bandung, Islam jakarta, Islam aceh, dengan Islam medan, dsb. Memang tidak semua orang setuju dengan Islam kultural misalnya ada yang menganggap Islam kultural sebagai bid’ah, khurafat, takhayyul, oleh karena itu perlu dilakukan tajdid pemurnian ajaran Islam dari ajaran tradisi yang bukan Islam yang tidak ada contohnya dalam agama (purifikasi, modernisasi/rasionalisasi ajaran Islam),  menurut mereka inilah aswaja yang sesungguhnya yakni mencontoh Nabi, yang tak mencontoh Nabi saw maka bukan aswaja tapi ahli bid’ah. Bagi kelompok ini ajaran yang bukan berasal secara orisinil dari Islam disinyalir penyebab mundurnya Islam, misalnya tradisi umat Islam yang menjadikan ayat alquran ada hanya dalam seremonial ritual budaya belaka, menjadikan ayat alquran untuk khasiat saja seperti kekebalan tubuh, menjadikan hanya kuburan tempat meminta/tawassul sehingga mengurangi rasa percaya diri, hanya mau membaca yasin saja sebagai kebiasaan rutin tanpa mau membaca ayat yang lain, (meski masih untung masih sempat mengaji yasin daripada tidak sama sekali. Tidak baca alquran sama sekali tentu jelek. Yang unik bahwa banyak cerita yang beredar di masyarakat tentang bukti khasiat yasin yang sering dibaca), lebih jauh apalagi mau memperdalam ayat lain tadi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyatanya sehari-hari sebagai salah satu penyebab kemunduran Islam (terkait yasin memang ada beberapa hadist yang termasuk kategori hadits fadhailul a’mal tapi secara bersamaan ada beberapa riwayat bahwa Nabi saw dan para sahabatnya seringkali mengkhatamkan alquran misal dalam 1, 2, 3 hari, 1 bulan, dsb dan bahkan mereka mengaplikasikan alquran dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga menjadi umat yang maju dan disegani pada saat itu), tapi ada juga yang radikal bahwa aswaja tidak melakukan bid’ah pada budaya lokal dan tidak pula melakukan  bid’ah pada budaya modern seperti demokrasi,  (salah satu “keunggulan” demokrasi yakni kebebasan berpikir/kebebasan pers/berbicara, berekpresi, beragama, kepemilikan, pemimpin dipilih, civil society), tapi bagi yang kontra ada istilah sekulerarisasi/desakralisasi dan inti Islam adalah akhlak (prinsip-prinsip umum akhlak universal) bukan sistem syari’at/fikihisme, oleh karena aswaja tak lepas dari persoalan budaya arab, maka aswaja bukan Islamisasi tapi arabisasi, tidak ada paksaan dalam pelaksanaan sistem syari’at Islam/agama laa ikraaha fid diin, semacam mau melepaskan diri dari budaya arab dan lalu mau memakai budaya yang lain selain budaya arab yakni budaya Indonesia dan barat, yang sakral hanya Tuhan, intinya pertarungan antara peradaban teks plus rasio  filsafat empiris ijtihad VS peradaban rasio filsafat empiris  murni (barat), barat pada dasarnya bukan atau berbeda dengan kristen, sebab kristen justru saat itu menjadi dogma agama yang mengekang  (selain itu yakni jumud taklid yang membabi buta sehingga melumpuhkan kreativitas berpikir umat Islam juga dianggap salah satu penyebab kemunduran Islam, meski jumud taklid terjadi karena penghormatan yang berlebihan pada syaikh,

kesibukan sehingga kurang waktu untuk belajar agama, sebagai pengakuan pada kelemahan diri sendiri dibidang agama/kitab kuning, rendahnya budaya akademik.Juga persepsi yang keliru terhadap makna takdir dan perbuatan manusia). Tapi bagi yang agak longgar bahwa Islam kultural bisa diterima manakala tidak ada pelanggaran agama yang disebut urf syar’i/’adat syar’iyyah misalnya peringatan maulid yang dalam pelaksanaannya secara umum bahwa ada yang hanya bersifat serimonial seperti  pembacaan qashidah barzanzi, ada yang menggabung antara serimonial pembacaan syair maulid dengan ceramah, dan ada juga juga peringatan maulid dengan mengadakan pendalaman tentang kehidupan Nabi saw dari berbagai aspeknya untuk menjadi suri tauladan melalui berbagai pengkajian mendalam seperti seminar, lokakarya, diskusi, penerbitan buku,dsb, ini tradisi syiar agama yang diperbolehkan karena tidak melanggar ketentuan syar’i sebab tidak ada perintah agama dan tidak ada pula larangan agama,dalilnya fa dzakkir fa innadz dzikraa tanfa’ul mu’miniin, wa man yu ‘adzdzim sya’aa irallaahi fa innahaa min taqwal quluub,  man sanna sunnatan hasanatan fa lahu ajruhaa wa ajru man ‘amila bihaa, menurut ulama berdasar dalil ini maka bisa jadi tradisi yang ada unsur kebajikan padanya seperti peringatan maulid, nuzulul quran, isra mi’raj, peringatan muharram tahun baru Islam akan mendapatkan pahala, tetapi manakala ada unsur pelanggaran agama seperti campur aduk dengan syirik,  maka tradisi menjadi dilarang yang disebut urf ghairu syar’i/’adat ghairu syar’iyyah. Tetapi dalam persfektif tradisi biasa yang bukan sudut pandang kacamata agama/persfektif sekuler maka tradisi dianggap boleh secara tradisi. Ini berlaku tradisi untuk tradisi, meski syirik sekalipun karena yang dipakai paradigma multikultur sekuler. Dianggap sebagai kearifan lokal (local wisdom) terkait bisnis wisata.

Islam adalah agama yang cocok bagi siapa saja, kapan saja, dimana saja. Islam cocok bagi timur tengah, cocok bagi barat, cocok bagi nusantara, Islam dimaknai dan diaplikasikan “membumi” sesuai “jahitan baju pemakainya”. Maka Islam nusantara bisa juga dilihat dari sudut pandang dialog antara pesan universalitas Islam dan pribumisasi dengan budaya lokal. Islam nusantara berarti juga bagaimana Islam dipahami dan diaplikasikan sesuai keperluan audiens orang Indonesia (hermeneutika). Dialog antara lokal Arab dan lokal Indonesia. Disini ada perdebatan apakah Islam mengakomodasi budaya arab sebagaimana Islam di Indonesia mengakomodasi budaya Indonesia, inilah pangkal perdebatan yang berkepanjangan antara berbagai kelompok sampai sekarang.

Islam nusantara bisa dilihat periodisasinya yang mempunyai ciri khas keunikan tersendiri pada setiap masanya, yakni 1. saat awal masuknya Islam ke Indonesia yang bercorak tasawuf, akomodasi budaya lokal. 2. saat masa kesultanan dimana terjadi adopsi bahwa kesultanan  mengadopsi syari’at Islam murni yang bersifat tekstual plus hukum adat. 3. saat masa penjajahan, di mana terjadi adopsi hukum barat bahwa belanda menerapkan hukum pidana barat, bahkan sampai sekarang. Di masa penjajahan ada teori Snock Horgronye yakni theory receptie bahwa hukum Islam bisa diterima kalau  sesuai dengan hukum adat. Sekarang ini  ada persaingan adopsi  ekleksitas antara hukum Islam, hukum adat dan hukum barat dalam pembentukan hukum nasional. Tapi dalam batas tertentu ada bisa terjadi kompromi dalam konteks maqashidus syari’ah/ghayah/prinsip umum tujuan hukum bukan pada materi hukum, sarana/wasilah hukum. 4. saat awal sebelum kemerdekaan dan awal masa kemerdekaan yang penuh gejolak politik antara Islam politik dan nasional sekuler. 5. masa orde baru berupa depolitisisasi/deradikalisasi, melahirkan asas tunggal Pancasila,  masa ijo royo royo antara umat Islam dan negara dengan hubungan yang saling menguntungkan tanpa kecurigaan, dengan “cairnya dikhotomi” antara Islam politik dan Islam nasionalis, berlanjut sampai era reformasi dan sampai sekarang ini, era reformasi saat krisis ekonomi melanda dengan demokrasi liberalnya mirip sebagaimana awal kemerdekaan zaman soekarno, sehingga seperti mengulang sejarah dengan bebasnya semua kelompok Islam baik radikal, moderat, liberal yang mewarnai mozaik Islam warna warni nusantara  di ruang publik. Secara umum adalah adanya fenomena kesadaran beragama yang mulai tinggi dan meningkat tanpa harus mengganti Pancasila.

Dalam perspektif relativisme tafsir,  bahwa aswaja sebagaimana pemahaman sahabat adalah relatif atau hanya salah saja dari berbagai tafsiran yang ada (tapi Nabi saw pernah mensinyalir bahwa kurun waktu  Nabi saw adalah yang terbaik sampai tabi’in dan tabi’t tabi’in adalah sebaik-baik abad pemahaman. Ini pula penyebab dan bisa dipahami kenapa ada kelompok yang begitu membela pemahaman dan pelaksanaan pada abad tadi sebagai bentuk terbaik dari dalam sejarah Islam sebagai satu-satunya syarat  kebangkitan Islam yang menjadi harga mati yang wajib didukung dengan dakwah dan jihad, dengan hanya ada 2 pilihan yakni menang atau mati syahid), maka ada istilah teks dan konteks, tersurat dan yang tersirat, ada semangat wordview revolusi/evolusi berfikir yang dibawa alquran sunnah. Islam adalah agama yang selalu relevan kapan saja, bagi siapa saja, dimana saja, di semua kawasan sebagai bentuk “pembelaan” terhadap alquran sunnah yang sesuai dengan perubahan zaman sehingga fungsional. Yang pokok selama masih menjadikan alquran sunnah sebagai pokok pegangan dan bukan malah menggugat keabsahan alquran sunnah, maka adalah benar. Tapi kalau menggugat tentu tidak benar dan sama saja hancurlah Islam. Jadi, ayat sunnahnya mesti sama tapi kalau tafsir beda maka boleh saja. Lalu bagaimana dengan sikap Nabi saw? Ternyata sikap Nabi saw pernah membenarkan sahabat yang menafsirkan secara teks dan pernah juga membenarkan sahabat yang menafsirkan secara konteks, jadi yang teks sehingga tidak ada pengabaian naskah teks secara ekstrim  seakan-akan naskah teks dibuang begitu saja secara sia-sia, dan yang konteks ternyata sama-sama dibenarkan Nabi saw, inilah makna ikhtilaafu ummatii rahmah. Maka Nabi saw adalah sangat toleran baik pada tekstual maupun kontekstual, maka umatnya yang tekstual bersikap toleran menghormati yang kontekstual, sebaliknya umatnya yang kontekstual bersikap toleran menghormati yang tekstual. Jadi kedua kelompok ini sama-sama bersikap toleran.  Ada kedewasaan berpikir untuk berbeda pendapat, biarlah membiarkan berbeda sesuai keyakinan pribadi masing-masingnya, biarlah ruang publik/public share atau publik opini/public opinion yang menentukan karena kedua pendapat ini kedua-keduanya sama-sama penting, keduanya sama-sama Islam yang saling mengisi, saling melengkapi bukan saling berkelahi, kalau saling berkelahi maka tidak benar. Hasil saling melengkapi, saling mengisi biasanya moderat yakni tidak terlalu teks dan tidak terlalu konteks, yakni dialog antara kemapanan dan kelenturan, antara otentitas tradisi dan modernitas, dialog antara mempertahankan masa lampau yang masih baik/relevan dan dengan melakukan penyesuaian pemikiran ke-Islaman dengan masa kontemporer kemodernan dan keindonesiaan, keglobalan.

Islam nusantara moderat dalam bidang politik, dengan  melakukan akomodasi kultural politik dengan mengakui pancasila,  maka tidak memaksakan politik Islam semacam kekhalifahan atau negara Islam, tapi politik Islam yang inklusif subtantif dengan mempertimbangkan kultural bangsa yang majemuk sehingga tidak radikal maupun liberal.Pada dasarnya baik kalangan radikal, moderat bahkan liberal sekalipun menerima dan mengaplikasikan syariat Islam perdata dalam kehidupan mereka sehari-hari, misalnya saja dalam tata cara nikah, tentu mereka semuanya melakukan nikah dengan cara syariat Islam perdata yang diatur oleh hukum positif negara/Peradilan Agama. Adanya UU zakat dan UU haji, maka ini adalah bentuk legal formal syari’at Islam oleh negara yang berlaku hanya bagi umat Islam, objektifikasi, unifikasi, kodifikasi  syari’at Islam menjadi hukum positif nasional seperti kasus UU tadi maka hampir tidak ada bedanya dengan piagam Jakarta. Menurut kalangan radikal kalau bank syari’ah mau laku, kalau pendidikan Islam mau laku dan maju, kalau pengadilan agama mau laku dipakai, maka terapkanlah piagam jakarta, maka bank syari’ah dan lembaga yang bernuansa Islam lainnya akan laku dan maju, dan hal ini juga terkait “keabadian” hukum karena adanya piagam jakarta yang berfungsi sebagai payung hukum yang sangat kuat (disamping pasal 29 UUD 1945) dari produk objektifikasi, unifikasi, kodifikasi  syari’at Islam yang menjadi hukum positif nasional. Dalam persfektif moderat, bahwa Indonesia bukan negara agama  dan bukan  negara sekuler (negara bukan-bukan), maka dalam konteks negara bangsa (nation state/ civil society)  bahwa syari’at Islam semisal bank syari’ah hanyalah sebuah pilihan bahkan bagi umat Islam sendiri yang mayoritas, maka umat Islam bisa memilih bank syari’ah dan bisa memilih bank konvensional. Tidak ada paksaan dalam syari’at Islam/agama laa ikraaha fid diin, maka kalau mau laku dan maju maka lembaga Islam harus bermutu, meminjam istilah AA Gym bahwa umat Islam harus menjadi sales yang baik bagi agamanya (beliau pernah tersandung “liberal” sebab melakukan ketentuan prilaku hukum yang kebetulan agak sulit diaplikasikan). Dalam bersikap terhadap penguasa maka dalam pemahaman aswaja moderat, yakni tidak bersikap frontal tapi akomodatif loyalitas kritis. Selain itu di Indonesia memang ada syari’at yang tidak diatur oleh negara dalam konteks syari’at yang bersifat privat seperti shalat, puasa, dsb, hal tersebut bisa dilakukan secara pribadi, keluarga, masyarakat.

Islam nusantara moderat dalam syariah memakai hukum perdata tapi dalam pidana mempertimbangkan kemajukan bangsa kecuali Aceh dengan otonomi khususnya.  Di Indonesia juga sering dilakukan dalam penyelesaian sengketa perdata maupun pidana melalui adat ishlah/perdamaian. Ada istilah halal bi halal suatu istilah yang tidak ditemukan dalam kamus arab manapun, tapi sering dimaknai sebagai saling menghalalkan, saling memaafkan, saling merelakan (badamai, barilaan. Banjar,pen.). Maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa waajib. Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu.

Islam nusantara moderat dalam mengatasi konflik peperangan maka tidak melalui cara konfrontasi tapi mengedepankan perundingan, jalan damai.  Perang dilakukan kecuali dalam keadaan sangat terpaksa.

Islam nusantara dengan prinsip moderat,  juga terlihat dalam metodologi berpikir,  bahwa menjaga tradisi lama yang masih bagus/relevan dan mengakomodasi hal baru yang lebih bagus/relevan, disini ada dialog antara tidak terlalu teks dan tidak terlalu konteks, disini ada dialog antara kemapanan dan kelenturan, sehingga dengan pemikiran modern semacam demokrasi, kesetaraan gender, sekuralisme, HAM, pluralisme, liberalisme, kapitalisme, rasionalisme, relativisme bisa diakomodasi dengan dimodifikasi tidak asal telan,  sehingga bisa moderat dan membawa kemaslahatan universal sesuai tujuan ajaran Islam. Di indonesia sendiri diketahui bahwa unsur kebebasan demokrasi bisa dinikmati secara teratur, kebebasan akademik secara teratur juga ada, para wanitanya juga bisa bebas bergerak secara teratur. Berbeda dengan kebanyakan di timur tengah yang tidak ada unsur kebebasan demokrasi, tidak bebas berbicara karena dibungkam, serba hitam putih fiqh oriented (tetapi dilakukan juga rukhsah, addharuurat tubiihul mahdzhuurat/addharuurat tanzilu manzilatad dharuurat, fa manidhthurra min ghairi baaghin wa laa ‘aadin fa laa itsma ‘alaihi), wanitanya juga tidak terlalu bebas bergerak karena tidak ada kesetaraan gender, tapi kalangan timur tengah juga mengkritik bahwa Indonesia bernuansa bebas bahkan terkadang kebablasan hedonis  permissif, akan  tetapi banyak punya hutang, akibat hutang segunung mengakibatkan kekayaan alam yang kaya raya melimpah ruah tidak bisa dinikmati. Maka pemerintah  terus berupaya meningkatkan mutu lembaga dan SDM Indonesia. Ada unsur ke-Islaman yang mengakomodasi kultural Indonesia secara moderat, ada unsur ke-Islaman yang mengakomodasi unsur isme-isme modern secara moderat begitupun terhadap perkembangan iptek modern, ada unsur ke-Islaman yang mengakomodasi unsur HAM internasional secara moderat, akomodasi unsur syari’ah secara moderat. Dalam perspektif moderat memang ada yang bersifat mutaghayyirat/bisa berubah dan ada yang bersifat tsawabit/tetap dan final seperti ibadah mahdah, dsb.

Sifat Islam adalah bervisi rahmatan lil ‘alamin, unggul (al- Islaamu ya’luu wa laa yu’laa ‘alaiih),  cocok (al Islaamu shoolihun li kulli zamaanin wa makaanin), hasanah fid dunya wal akhirat, abdullah khalifatullah, tunduk pada Allah baik bidang ekonomi, pendidikan, politik, budaya, dsb, tapi Islam juga bersifat terbuka, fleksibel/idea of progress terhadap hikmah dari manapun datangnya bahkan dari kafir sekalipun, dilakukan dengan prinsip adanya kemaslahatan, dilakukan secara moderat dan terpokok dilakukan spiritualisasi/tauhidisasi (bersifat rabbani).

Adapun untuk mengetahui warisan klasik Islam nusantara bisa melalui kajian filologi atau studi naskah Islam nusantara. Indonesia banyak mempunyai referensi tentang naskah klasik,  seperti kitab sabilal muhtadin, hidayatus salikin, tanwirul qulub, amal ma’rifah, marah labib/tafsir munir, tuhfatur raghibin, al muraqil al ubudiyah, dsb.

Islam nusantara moderat dalam pendidikan Islam,  bersikap dinamis dengan perubahan zaman modern sehingga melakukan modernisasi kelembagaan dan modernisasi pemikiran/pembaharuan,  tapi tetap tak menghilangkan sebagai jati diri Islam.

Keberadaan Islam Nusantara/Indonesia yang moderat gabungan dari ke-Islaman, ke-Indonesiaan, kemodernan, keilmuan, kesyari’ahan moderat, ke-HAM-an moderat, civil society moderat/madani, kultural, inklusif subtansif dan merupakan muslim terbesar di dunia yang tidak menolak demokrasi tapi menerapkan demokrasi dengan nilai Islam adalah satu kekhasan, keunikan tersendiri yang jarang ditemui di negara muslim lainnya. Maka Islam Indonesia bisa menjadi wadah model jembatan peradaban antara Islam dan barat, keharmonisan antar berbagai peradaban (harmony among civilizations), menuju perdamaian dunia.  Dalam tinjauan perspektif Alquran dikatakan : Laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah, wa lillaahil masyriq wal maghrib.

Dengan Islam moderat maka terjadi kebangkitan Islam secara elegan.  Adanya temuan mutakhir bahwa mekkah adalah pusat poros bumi,  maka ada istilah Mecca Mean Time/MMT yang setara dengan Greenwich Mean Time/GMT,  maka Mecca Mean Time bisa dianggap sebagai pertanda bersatunya kembali kebangkitan Islam. Adanya perbedaan penafsiran dan perbedaan penerapan ajaran Islam dalam mengikuti Alquran dan sunnah Nabi saw diberbagai kawasan yang berbeda adalah lumrah, wajar dan natural, faktanya diakui memang berbeda-beda antar daerah dan sulit dihindari, maka umat Islam bisa saling memahami/mutual understanding, saling bersatu, saling membantu, saling kerjasama. Wa Allahu A’lam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s