Menghormati Perbedaan Puasa, Persatuan Umat Lebih Diutamakan

M Daud Yahya

Menghormati Perbedaan Puasa, Persatuan Umat Lebih Diutamakan

20 Juli 2012

Di Indonesia sejak pasca reformasi, ada kecenderungan baik ormas, kelompok, dsb, dalam masalah keagamaan untuk berdiri sendiri tanpa terikat dengan bentuk penyeragaman. Akan halnya perbedaan awal dan akhir puasa semakin marak pasca reformasi (di masa orde baru meski dalam batas tertentu ada perbedaan tapi tidak segencar seperti halnya pasca reformasi),  sehingga “demokrasi  liberal” semacam ini membuat umat nampaknya menganggap perbedaan suatu yang lumrah-lumrah saja, “membiarkan berbeda” begitulah kira-kira ungkapan yang sering terdengar.

Perbedaan tadi, diantaranya karena adanya beda metode/kriteria. Secara umum ada 3 metode dalam penentuan puasa, hari raya :

1. Hisab hakiki wujudul hilal, rukyah hilal bi satelit (hisab bi satelit),  ini mirip dengan penentuan bulan biasa semisal tanggal 1 rabiul awwal berdasarkan kalender, sehingga tetap (fixed) maka dari jauh-jauh haripun sudah diketahui kapan puasa, kapan hari raya sehingga persiapan matang tanpa sibuk dengan bunyi teks melihat bulan.  Bandingkan saja dengan umat lain yang tanpa ribut-ribut sudah tahu jauh-jauh hari kapan Waisak, kapan Natal, kapan Nyepi, semuanya beres lancar. Di zaman modern sesuatu yang bersifat pasti sangat diperlukan semisal kapan pesawat berangkat, kapan program televisi tayang semuanya bersifat pasti tanggalnya. Kalau bangsa lain sudah sampai ke bulan, bisa bikin pesawat ulang alik, bisa bikin pesawat superjet supersonik kecepatan cahaya, kita dalam menentukan tanggal saja susahnya minta ampun. Metode ini didasarkan pada QS Yunus 5 li ta’lamuu ‘adas siniina wal hisaab, QS. Ar Rahman 5, Yasin 39-40, hadits shahih bukhari dan hadist-hadits  lainnya. Umat Islam diharapkan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Kata dalam hadits : shuumuu li ru’yatihi/puasalah karena melihat bulan, ditafsiri dengan puasalah dengan melihat bulan berdasarkan penglihatan ilmu pengetahuan (hisab, astronomi), kenapa melihat dengan ilmu pengetahuan? Karena umat Nabi Muhammad saw zaman sekarang kontemporer ini  sudah tidak ummi lagi seperti di zaman masa sangat lampau, di masa Rasulullah saw, keadaan kondisi masa lampau sangat bisa dimaklumi. Selain itu ada kata dalam satu hadits yakni faqduruulah/maka kira-kirakanlah/maka hisablah, hadits rukyah dipahami tidak pada bunyi teks tapi pada semangat teks yang tidak bertentangan dan sejalan saja dengan dalil Alquran yakni  QS Yunus 5, QS Ar Rahman 5, Yasin 39-40,  sehingga relevan dengan kemajuan dunia sains teknologi sampai kiamat.  Dalam sudut pandang Bahasa Arab, bahwa kata rukyah mempunyai  makna ganda/musytarak, setidaknya kata rukyah mengandung 3 makna : 1. melihat dengan kasat mata. 2. berpendapat. 3. memperkirakan, menghitung/menghisab. Sehingga rukyahpun dimaknai dengan mengambil makna yang ke-3 (memperkirakan, menghitung/menghisab), maka Hisab berarti rukyah bil’ilmi (melihat dengan ilmu pengetahuan/hisab).  Caranya memakai ilmu fisika astronomi dengan ketentuan adanya ijtima/konjungsi yakni matahari, bumi, dan bulan berada pada garis lurus atau ijtima/konjungsi. Konjungsi ini disepakati hampir semua kalender asronomi sebagai pertanda datangnya awal bulan baru.  Di saat matahari terbenam dan ternyata bulan sudah berada di atas ufuk/ titik nol derajat, berada diatas ufuk meski belum 2 derajat sekalipun, meski berawan sehingga bulan tak bisa dilihat tapi bulan pasti ada sebagai penanda datangnya bulan baru, lebih jauh  bulan pasti ada dan dapat dilihat  dengan memakai alat canggih teknologi sistem satelit meski derajatnya rendah belum 2 derajat/rukyat hilal bi satelit, dengan satelit juga bisa melakukan hisab awal bulan dengan akurat, adapun cara canggih yang lebih mudah bisa  melalui teleskop Hubble.  Kecanggihan teknologi modern  menghasilkan hasil hisab sangat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Secara logika, kalau pada saat terbenam matahari, posisi hilal sudah ada diatas ufuk meski belum 2 derajat, tetapi bukankah setelah beberapa menit kemudian, setelah beberapa jam kemudian semisal jam 8, jam 11 malam posisi hilal keadaannya sudah sangat tinggi, sudah di atas 2 derajat bahkan bisa lebih dari itu, maka bisa dipastikan bahwa besok adalah puasa, besok adalah idul fitri, apalagi sebelumnya sudah ada terjadi  ijtimak konjungsi sebagai pertanda awal bulan baru,  kenapa harus menunggu besok lusa sebagai awal bulan, sebab kalau menunggu besok lusa tentu posisi hilal sudah sangat tinggi sekali.   Cara mudah untuk membuktikan kapan tanggal 1 ramadhan adalah dengan pembuktian terbalik bahwa biasanya bulan purnama dimulai malam tanggal 13, 14, dan puncaknya malam 15, untuk membuktikan  kapan malam tanggal 16 adalah  bahwa bulan sudah menepis bentuk purnamanya, sehingga diketahuilah kapan malam 15, lalu hitunglah ke depan sebanyak 15 hari maka itulah tanggal 1 ramadhan yang benar. Cara seperti ini sudah bisa dihitung dengan akurat oleh hisab atau teknologi satelit. Pola pembuktian seperti ini sejalan saja dengan ayat alquran QS Yasin 39 : wal qamara qaddarnaahu manaazila hatta ‘aadakal ‘urjuunil qadiim.  Selain itu, pada dasarnya puasa dan imsak satu paket, tapi nampaknya umat Islam dalam menentukan imsak tidak memakai petunjuk alquran (kuluuu wasyrabuu hatta yatabayyanal  khaitul abyadh minal khaitil aswad minal fajri)  dan hadits tentang sekitar 50 ayat, dsb, tapi memakai hisab maka imsak dengan memakai hisab tidak bisa dikatakan bid’ah.

2. Rukyatul hilal, rukyat bilfi’li/melihat bulan. Secara bahasa rukyat berarti melihat dengan kasat mata. Bagi yang benar-benar konsisten dengan bunyi teks ini maka tidak boleh memakai teleskop tapi mesti memakai kasat mata   saja. Kalau tak terlihat bulan maka digenapkan Sya’ban 30 hari.  Dalam perhitungan astronomi maka kalau melihat dengan kasat mata  bahwa  hilal hanya bisa dilihat kalau mempunyai ketinggian 6-8-10 derajat, suatu angka yang cukup tinggi. Pewacanaan tentang rukyah hilal merupakan dalil bahwa Nabi Muhammad saw memang seorang ummi, dengan demikian akan berdampak pada kepercayaan bahwa Alquran memang otentik wahyu Allah swt dan bukan hasil karangan pemikiran seorang manusia biasa Nabi Muhammad saw. Ini pula salah satu sebab kenapa rukyah hilal cukup gaung dipegang oleh sebagian kalangan umat Islam. Bukan perkara modern atau tidak modern tapi sebagai dalil  atau  sarana sokongan terhadap keotentikan wahyu Alquran. Selain itu bahwa  semua gejala alam terjadi tergantung pada Yang Maha Kuasa. Banyak pendapat sokongan ulama terhadap  ru’yat, termasuk sokongan dari 4 imam madzhab yakni Syafi’i, Hanbali, Malik, Abu Hanifah.

Lepas dari konteks hal diatas, bahwa ada juga kelompok yang mengkaitkan fenomena ru’yatul hilal dengan negara Islam,  yakni khilafah. Dalam hal ini maka dipakailah ru’yah, lebih tepatnya ru’yah global. Bahwa kalau ada salah satu negara Islam sudah ada yang melihat bulan, maka dianggap berlakulah bagi negara-negara bagian Islam lainnya. Tugas khalifahlah yang mengumumkan melihat bulan sebagai pertanda awal puasa, awal idul fitri secara serentak di seluruh wilayah negara Islam khilafah. Ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa gaung fenomena ru’yatul hilal terus dipertahankan, karena ada aspek politis didalamnya terkait negara Islam khilafah, yang dipimpin oleh seorang khalifah sebagai Ulil  Amri  negara Islam  khilafah.

3. Imkanur rukyah/gabungan hisab dan rukyat, merupakan metode yang memakai setengah hisab hakiki  wujudul hilal dan setengah rukyatul hilal karena  imkanurrukyah berarti ada kemungkinan bulan bisa dilihat dan ada kemungkinan bulan tidak bisa dilihat pada saat 2 derajat, sebab yang sangat mungkin bulan bisa dilihat/rukyah  adalah manakala 6 derajat, dst.   Metode ini tetap/setengah  konsisten dengan makna rukyah hilal/melihat bulan tapi “tidak konsisten” dengan caranya yakni dengan memakai alat teleskop, tetapi diawali dengan hisab terlebih dahulu, yang mana dalam perhitungan astronomi kalau hilal masih dibawah 2 derajat maka sulit terlihat/samar-samar/cahayanya masih redup, bisa ada gangguan/ghumma seperti cuaca yang tidak cerah, adanya uap dan awal tebal sehingga hilal tak terlihat jelas secara kasat mata. Adanya rukyatul hilal adalah untuk membuktikan suatu teori apakah hilal terlihat dalam pengertian apakah sudah diatas 2 derajat/terlihat atau masih dibawah 2 derajat/tidak terlihat. Secara ilmiah suatu teori disebut sangat valid, haqqul yakin  kalau antara teori/perhitungan hisab terbukti benar dengan bukti emperis, diklarifikasi dengan fakta nyata. Sebab bisa jadi secara teori/perhitungan hisab sudah ada hitungannya tapi kalau ada fenomena alam yang sangat luar biasa terjadi maka perhitungan hisab bisa menjadi meleset menjadi tidak benar karena teori/perhitungan hisab tidak terbukti, tidak terklarifikasi secara emperis, fakta nyata. Bukankah selama ini tidak semua fenomena alam bisa diketahui sebelumnya oleh para ilmuwan semisal kapan terjadi gempa yang sering tidak diketahui secara akurat kapan terjadinya. Dalam prakteknya nampaknya majelis istbat tetap pedoman pada hasil hisab yang dengan kecanggihan teknologi modern bisa dibilang sangat akurat sekali perhitungannya,  sebab selama ini semua pengakuan tentang adanya suatu kelompok yang mengaku melihat bulan dibawah 2 derajat tidak diakui oleh majelis istbat. Ini menunjukkan hasil hisabpun  cukup menempati posisi yang strategis. Hal ini berbeda dengan Arab Saudi yang meskipun hasil hisab sangat akurat tapi bisa dimentahkan oleh hasil sumpah ru’yat.

Selain itu bisa ditambahkan metode lain yang kurang masyhur misalnya oleh pengikut tarekat Naqsabandiyah yakni metode hisab Munjid yang disebut-sebut berasal dari Mekkah, dibuat ulama besar dan telah digunakan secara tutun temurun. Caranya penentuan awal Ramadhan dilakukan dengan menghitung 360 hari dari awal Ramadhan tahun lalu, di mana dalam setiap bulannya hanya terdapat 29 dan 30 hari. Selain itu jamaah tarekat Naqsabandiyah, juga melakukan rukyatul hilal bilfi’li dengan kasat mata  tanpa alat bantu pada tanggal 8, 15, 22, dan 29  Sya’ban.
Tapi sulit juga dimungkiri meski perbedaan adalah lumrah, tetapi secara psikologi, umat nampaknya tetap menginginkan dan sangat rindu sekali adanya persatuan umat, mengingat awal puasa dan hari raya merupakan ibadah jama’iyyah (ibadah bersama-sama) bukan termasuk ibadah fardiyyah (ibadah individu), hal ini lebih krusial semisal dalam penentuan sepuluh malam terakhir karena di saat satu kelompok menganggap sudah malam ganjil sementara kelompok yang lain masih malam genap, lalu kapan malam lailatul qadar ?, ini membingungkan karena bagaimana  mungkin terjadi lailatul qadar sebanyak 2 kali pada satu wilayah hukum negara yang sama, begitu pula  di saat ada yang sudah lebaran sementara yang lain masih puasa, bukankah puasa di hari lebaran adalah haram? Justru itulah ibadah yang masuk kategori ibadah jama’iyyah (bersama-sama) seyogyanya juga dilakukan secara bersama-sama. Salah satu makna ibadah Ramadhan adalah sarana untuk mempersatukan umat.
Dalam tradisi fikih memang ada beberapa dalil serta pendapat yang seyogyanya dalam menyangkut masyarakat luas maka otoritas pemerintah yang diambil, oleh karena dalam kaedah ushul fikih disebutkan hukmul haakim raf’ul khilaaf (keputusan hakim menghilangkan segala bentuk perbedaan). Sementara yang membolehkan memakai pendapatnya sendiri semisal kesaksian melihat hilalnya ditolak pemerintah yakni fa man syahida minkumus syahra falyashumsu, ayat ini dijadikan landasan memakai pendapatnya sendiri yang berbeda dgn pemerintah, tapi secara sembunyi. Dalam prakteknya bahwa kalimat ikut pemerintah hanya pepesan omong kosong, sebab banyak ormas yang ikut pemerintah dengan syarat kalau pendapat pemerintah sama dengan pendapat ormas, tapi giliran pendapat pemerintah ternyata berbeda dengan pendapat ormas, maka ormaspun tidak ikut pemerintah. Jadi, semua orang Islam mesti bersikap toleran terhadap perbedaan yang sering kali terjadi.

Dalam konteks Indonesia akarnya dari perbedaan metode penetapan/kriteria awal bulan baru terkait awal puasa, hari raya, oleh karena penyamaan persepsi antar ormas inilah yang perlu dilakukan secara intensif melalui dialog supaya perbedaan ini tidak berlanjut lama, intinya pemerintah mesti menghormati pendapat ormas dan ormas menghormati kesepakatan bersama dgn pemerintah berdasarkan kriteria yang telah dibangun bersama sehingga tidak ada yang merasa kalah, merasa menang, tapi semuanya merasa sama-sama menang, dan memakai kalender bersama yang telah disepakati secara bersama. Tetapi seandainya penyamaan persepsi tentang kriteria awal bulan baru terkait puasa, hari raya sulit dilakukan, maka tugas pemerintah agar  umat  tetap bisa bersatu dengan  memberikan maklumat penghormatan toleransi kepada masyarakat pada kelompok yang berbeda. Selain itu, patut pemerintah mempertimbangkan penggunaan alat satelit dalam melakukan ru’yatul hilal/atau yang lebih mudah melalui teleskop Hubble, patut mempertimbangkan itsbat  dengan secara memakai sistem kalender Hijriah secara bersama-sama yang merupakan kalender bersama yang sudah disepakati semua ormas Islam yang ada di Indonesia beserta pemerintah, dengan adanya ru’yat hampir saja umat Islam sulit memiliki kalender Islam sendiri, karena tanggalnya tidak pasti.  Dalam konteks negara Indonesia yang sangat majemuk,  pluralitas suku,  pluralitas bahasa, pluralitas agama, pluralitas pemahaman,  pluralitas golongan, maka pemerintah mesti bersikap berposisi netral, tidak memihak pada satu golongan saja,  tapi pemerintah mesti bersikap berposisi netral sebagai negawaran sejati, mengayomi  terhadap semua ormas Islam yang ada dan diakui di Indonesia, bukankah beribadah sesuai pilihan kecenderungan masing-masing terasa lebih sreg, lebih pas, lebih nyaman ketimbang ikut pemerintah tapi kurang nyaman, bukankah perbedaan adalah sebagai  rahmat bagi semua orang.  Umat Islam pada kenyataannya memang  ada yang rasional, ada yang setengah rasional dan yang setengah tradisional, ada yang tradisional.  Dan semuanya itu bisa saling mendekat, bisa saling kompromi. Yang terpenting adalah  bagaimana persatuan umat lebih diutamakan, apapun caranya (baik bersama-sama maupun toleransi dalam perbedaan). Wallaahu A’lam.

Artikel terkait  Juli 2013:

JAKARTA, BPOST – Muhammadiyah dan Syarikat Islam Indonesia (SII) sudah menetapkan Idulfitri 1434 H pada Kamis (8/8) mendatang. Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu rukyatul hilal (melihat bulan) sementara pemerintah menanti hasil sidang itsbat yang diadakan Rabu (7/8).

Kekhawatiran perbedaan lebaran pun muncul, apalagi awal Ramadan 1434 H juga berbeda. Kecemasan itu ditepis WakilMenag NasharudinUmar. Dia mengatakan ada indikasi Idulfitri digelar serentak oleh umat Islam di Indonesia.

Menurut dia di Jakarta, kemarin, berdasarkan ijtimak awal Syawal, berdasar perhitungan hisab jatuh pada Rabu (7/8) pagi atau siang. “Ini artinya pada sore hari saat dilaksanakannya rukyat dan sidang itsbat, tinggi hilal sudah lebih dari 2,3 derajat. Sudah bisa dilihat,” ujar Nasharudin.

Dengan potensi hilal bisa dilihat pada Rabu sore, kemungkinan Idulfitri jatuh pada Kamis. Penentuan itu sesuai ketetapan Muhammadiyah. “Karena pemerintah puasanya 29 hari sedangkan Muhammadiyah 30 hari, jadi bisa jadi Lebaran kali ini serentak,” tegas Nasharudin.

DirekturJenderal BimbinganMasyarakat Islam KemenagAbdulDjamil menambahkan, sidang itsbat akan diikuti seluruh ormas Islam. Muhammadiyah juga tetap diundang meski beberapa waktu lalu ketua umum ormas itu, Din Syamsudin mengatakan tidak akan mengikuti sidang itsbat. “Semua diundang untuk menentukan hari raya. Alhamdulillah kalau serentak,” ucap Djamil.

Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas juga menyatakan ada kesempatan lebih besar Lebaran secara serentak dalam kurun selama 10 tahun ke depan, dari 1433 H hingga 1440 H.

Pasalnya, dari tahun lalu hingga beberapa tahun ke depan, konjungsi bumi dan bulan untuk 1 Syawal sering kali terjadi lebih awal sehingga pada saat sore hari derajat wujudul hilal sudah melebihi dua derajat.

“Sesuai kesepakatan, ketika sudah mencapai dua derajat  hilal bisa terlihat. Yang pasti lebih banyak sama dan sedikit perbedaannya. Persamaan itu terlihat sejak 2012. Bukan karena perubahan standar metodologi, baik hisab maupun rukyat tetapi lebih karena alam yang memungkinkan ijtimak Syawal terjadi lebih awal,” kata dia.

Yunahar mengusulkan, untuk menjaga kewibawaan pemerintah dan ormas Islam, sebaiknya sidang itsbat dilakukan tertutup. Kebijakan ini pernah ditempuh empat tahun lalu.

Ia menilai hal ini perlu agar perdebatan antarpimpinan ormas dalam itsbat tidak disikapi berbeda oleh umat.

“Sebagian umat Islam belum siap melihat perdebatan pimpinan ormas. Dan, ini bisa disikapi tidak baik bagi mereka yang belum bisa menerima perbedaan pandangan. Setelah didapat hasilnya, baru diumumkan secara terbuka,” ujarnya. (reo/tbn)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s