Menyongsong Abad Kebangkitan Islam (Refleksi Tahun Baru Hijrah)

Menyongsong Abad Kebangkitan Islam

(Refleksi Tahun Baru Hijrah)

by  M Daud Yahya

Waktu terus bergulir, zaman beredar, bumi terus berputar, siang malam berganti, arah jarum jam terus berjalan tanpa berbalik arah, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, masa pun berjalan, detik demi detik berlalu, tak terasa sampai lagi kita pada sinar mentari fajar surya perayaan tahun baru Islam.

Tahun baru Islam memang tak semeriah perayaan tahun baru masehi, yang dirayakan dengan suasana gegap gempita, suasana meriah, hingar bingar, berpesta pora. Lagipula terlalu berlebihan, tidak lazim kalau tahun baru Islam dirayakan dengan berhura-hura, seperti bunyi petasan, kebut-kebutan, mejeng pergaulan muda mudi, gaya gaul, jaim (jaga image), mercon, kembang api, terompet, dsb.

Perayaan tahun baru Islam bisa merupakan bentuk daripada budaya syiar Islam, tradisi agama (religion culture), ada ayat alquran yang berbunyi : wa man yuadzdzim sya ‘aairallaahi fa innahaa min taqwal quluub.

Semoga semua kekhilafan dalam kurun setahun lampau bisa terampuni. Semoga semua aktivitas amal sholeh, ibadah sisi kebajikan kita dalam kurun setahun lampau bisa diterima. Mensyukuri nikmat umur, berubah ke arah yang lebih baik, lebih sopan, lebih bermakna lagi di masa tahun yang akan datang, aamiin.

Sebagai titik penting perkembangan Islam dalam sejarah peradabannya, maka umat Islam menyambut tahun baru hijrah akan lebih elok kalau diisi dengan kegiatan Islami yang semarak. Penuh kesadaran sebagai media untuk merenung diri/introspeksi (muhasabah) terhadap sikap dan prilaku selama setahun lampau adalah merupakan keniscayaan, apa yang dirasa kurang bisa diperbaiki, apa yang bagus bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Tahun baru Islam sebagai wahana memperbaiki diri untuk berkemajuan, berharap selalu diberikan bimbingan dan hidayah Allah agar mental dan perbuatan bisa lebih baik, punya langkah positif pada masa yang akan datang. Sebagai wahana kesadaran diri (self awareness) dalam menatap, memperbaharui masa depan dengan penuh harapan baru, optimisme baru, semangat baru, what’s next…

Aktualisasi khazanah Islam lampau klasik berupa nilai hijrah dalam konteks kontemporer, dalam konteks ke-Indonesiaan, bahwa berkaca dari sejarah, maka kita bisa mengaktualkan konsep piagam madinah sebagai salah satu hasil hijrah dalam civil society/madani (egaliter, beradab, mandiri, demokratis). Berhijrahnya bangsa Indonesia ke berkemajuan lahir dan batin. Kata Madinah sendiri bermakna kota, beradab, berarti maju dan beradab lahir dan batin.

Dalam menyambut momentum tahun baru hijrah ini patut kita renungkan, aplikasikan dalam kehidupan empiris umat Islam suatu sabda Nabi saw, yakni : Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, itulah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama saja dengan kemarin, itu adalah orang yang rugi. Siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarinnya, maka ia adalah orang yang terlaknat. (HR. Hakim).

Semangat hijrah adalah semangat perubahan. Niat yang bagus dalam berhijrah adalah karena Allah. Berhijrah menuju ridho Allah. Hirah berarti berpindah. Berpindah dari tidak taat kepada taat, dari lalai khilaf ke iman taqwa, dari kegelapan ke terang benderang, dari lemah ke bermutu dan unggul, dari ketergantungan ke kemandirian, dari yang tidak baik ke arah yang lebih baik, dari perasaan galau ke perasaan bahagia (Btw, emangnya ada…. he..he..), dari kebodohan dan kemiskinan serta keterbelakangan ke berilmu pengetahuan dan berkesejahteraan serta berkemajuan, dari kemunduran ke kebangkitan.

Abad 15 hijriah seringkali disebut sebagai abad embrio titik pijak kebangkitan Islam (the revival of Islam). Hal ini ditilik dari analisis fakta sejarah peradaban Islam, bahwa ada siklus selama 7 abad Islam mengalami masa kejayaan, semisal jaya dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan umum dan selanjutnya selama 7 abad lagi mengalami masa kemunduran, dengan demikian abad ke-15 hijriah merupakan starting point dari siklus kebangkitan tersebut.

Suasana sosio kultural masa 7 abad kejayaan Islam yang lampau tentu berbeda dengan masa sekarang ini. Kalau masa lampau ada dikenal darul Islam, darul ahd, bahkan darul harbi. Hal tersebut kalau ditilik dari perspektif masa lampau maka barangkali “lumrah”, karena aspek budaya sektarianisme, sukuisme, etnis (religion-etnic), suasana alam, dsb, yang sangat menonjol sekali pada masa itu, dan hal tersebut terjadi di semua kawasan dunia, tidak hanya di kawasan Islam saja. Karena hal tersebut terjadi di semua kawasan dunia, maka tidak ilmiah, tidak adil, kalau hal tersebut hanya disematkan pada umat Islam saja. Hal tersebut lebih daripada suatu ciri dari suatu peradaban sosio kultural internal-eksternal pada zaman masing-masing, yang terjadi pada semua kelompok kawasan dunia.

Kalau dulu adu otot, sekarang adu otak, adu iptek, adu informasi, adu penelitian, adu ekonomi, adu jasa, barang, tenaga, modal, adu pendidikan, depensif bukan opensif (lihat penafsiran dalam tafsir Al Manar, M. Abduh, M. Rashid Ridha), adu hukum-politis, kesadaran diri, mendahulukan semangat berkorban harta daripada jiwa, adu moral, adu kemajuan dan peradaban, dsb. Zaman sekarang tentu tidak ada satu agama, satu ideologi, satu bangsa yang bisa hidup sendirian, tanpa hidup bekerjasama dengan agama, ideologi, bangsa lainnya. Menutup diri dari bekerjasama dengan orang lain berarti kehilangan kesempatan untuk maju dan dengan tanpa harus kehilangan identitas jati diri sendiri, meski dalam batas tertentu bersikap terbuka, moderat, kompromistis dialogis nan kritis terhadap hikmah positif yang berasal dari manapun. Oleh karena yang pas, maka umat Islam bisa menjadi produsen utama bukan sekedar konsumen, jadi (ism) fa’il utama bukan sekedar maf’ul bih, menjadi subyek utama bukan sekedar obyek.

Islam sendiri bermakna/diambil dari akar kata salaam/silmun (perdamaian/kedamaian), saliim/salima (keselamatan/selamat), sullam/sullaam (tangga keselamatan), salmun (kesejahteraan), aslama (tunduk, pasrah berserah diri (submission), kata Islaam sendiri merupakan ism mashdar dari kata aslama, dalam alquran kata islaam/aslama ada yang terhubung langsung dengan kata diin/institusi agama, adapula kata islaam/aslama yang tak terhubung dengan kata diin/institusi agama (orang yang pasrah, esensi jiwa dan diri yang berserah diri dalam interaksi dengan yang Maha Mutlak disebut muslim), maka Nabi saw pernah bersabda : afsyus salaam ‘alaa man arafta wa ‘alaa wan lam ta’rif…. wa ath’imuth tha’aam (sebarkanlah salam/perdamaian terhadap orang yang engkau kenal dan terhadap orang yang belum engkau kenal …dan berilah (orang miskin) makanan. Salah satu misi kerasulan selain menyempurnakan akhlak mulia, yakni rahmatan lil ‘aalamiin. Rahmat berarti kasih sayang yang disebarkan pada seluruh umat Islam, seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan, jin, lingkungan hidup, bahkan sampai kasih sayang di akhirat, dsb. Maka kebangkitan Islam serta berkemajuan modernnya, seyogyanya dilandasi pula dengan berperadaban Islam yang ramah, yang menyejukkan, umat yang satu (ummah waahidah), toleran, kerjasama, setara sejajar dalam kebebasan beragama (lakum diinukum wa liya diin, laa ikraaha fid diin, fastabiqul khairaat, li ta’aarafuu, ta’aalau ilaa kalimatin sawaa), konteks dengan zaman yang selalu berkembang, konteks dengan perkembangan persepsi Islam suatu kawasan, damai, persahabatan, persaudaraan kemanusiaan universal. Wallaahu A’lam.

Selamat Tahun Baru Islam Dalam Setiap Waktu

Melakukan introspeksi, evaluasi, refleksi perenungan diri, muhasabah, planning ke depan, perbaikan diri, kebermaknaan hidup, dsb, seyogyanya tidak mesti menunggu hari moment tertentu, tapi semua hal tersebut bisa dilakukan pada setiap detik, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dsb, tanpa harus menunggu hari moment penting terlebih dahulu. Tetapi bahwa menyambut moment penting skala besar, yang punya nilai khusus, nilai penting, memang perlu menyambutnya secara khusus pula, semisal menyambut peringatan hari tahun baru Islam. Selamat melakukan tahun baru Islam dalam setiap waktu.

 

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s