Interpretasi Terhadap Beberapa Wacana Kontemporer (Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme)

Interpretasi Terhadap Beberapa Wacana Kontemporer (Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme)
by M Daud Yahya

Seiring perkembangan zaman yang terbuka, ada beberapa wacana kontemporer yang mengemuka. Kita sulit lepas dari pergumulan pemikiran dunia, dari tantangan global bahwa fakta menunjukkan pengikut terbesar didunia setelah kristen (karena digabung antara protestan dan katolik, andai keduanya dipisah maka menjadi agak kecil dan Islam yang pertama) dan Islam adalah kelompok yang tidak percaya lagi terhadap agama, karena menganggap agama tidak rasional dan agama sebagai sumber konflik, kelompok ini jumlahnya lebih dari satu milyar manusia di dunia ini (kelompok terbesar ketiga).  Bagaimana bersikap tanpa tercerabut dari akar ajaran Islam, tanpa tercerabut dari persepsi khas Islam suatu kawasan, tanpa tercerabut dari persepsi khas akar falsafah jati diri suatu bangsa dan negara.
I. Liberalisme :
Epistemologi Liberalisme Islam : 1. Rasional, bahwa sebagian ajaran bisa diterima secara nalar logika. 2. Kontekstual, bahwa ada sebagian ajaran yang memahaminya dengan cara melihat latar belakang konteks sejarah suatu nash. 3. Subtantif, pada sebagian ajaran dengan melihat inti, pokok agama, semangat moral teks bukan pada bunyi teks itu sendiri.
Perlu hermeneutika, ada hubungan antara Pengarang (Tuhan), teks, dan pembaca. Semisal bahwa Tuhan bersifat tak terbatas selaku Pengarang, sementara bunyi teks terbatas, meski teks adalah sebagai media Tuhan, tapi peristiwa kebutuhan manusia tak terbatas selaku pembaca, al nushus mutahaniyah wal waqaa’i ghairu mutahaniyah. Maka di saat membatasi tafsir teks terbatas dengan makna tunggal maka berarti membatasi Tuhan yang bersifat tak terbatas, dinamakan otoriter kesewenangan tafsir. Ada pendekatan filsafat dan tasawuf dalam tafsir yang memungkinkan banyak tafsir, makna yang terdalam, makna yang dibalik teks. Kata wa Allaahu A’lam punya nuansa hermeneutika. Saat mengklaim paling benar sendirian, maka pada dasarnya merupakan bentuk kesombongan intelektual, perlu relativisme ( tapi yang moderat), yakni adanya pengakuan bukan tafsir tunggal tapi banyak tafsir. Sebab di saat peristiwa tak terbatas, maka di saat tafsir terbatas pada tafsir tunggal,  maka patut dilihat apakah tafsir tunggal bisa memecahkan problem manusia yang berbeda, baik beda kawasan, beda kebutuhan, beda budaya, dsb.
Sudut pandang mengenai Islam :
1. Islam merupakan agama yang diturunkan dari langit secara sempurna, apa yang terdapat dalam khususnya alquran merupakan otoritas Tuhan, sehingga apa yang tertulis secara literlek dalam alquran merupakan wujud orisinalitas dari kehendak Tuhan itu sendiri. Aspek kesempurnaan dan orisinalitas kehendak Tuhan ini menyebabkan Islam dianggap akan selalu sesuai zaman dan tempat tanpa ada modifikasi, dan akan selalu abadi dipakai sampai akhir zaman, tanziilun min rabbil ‘aalamiin, wa innahuu latanziilun min rabbil ‘aalamiiin.2. Islam merupakan respon terhadap budaya Arab abad pertengahan, tidak berada dalam ruang hampa budaya, atau setidaknya aspek perhatian terhadap unsur budaya ini bagaimanapun bentuk keadaannya tak bisa lepas sama sekali dari budaya/membikin produk budaya baru yang berbeda terkait budaya lama meski tetap berbasis wahyu (tapi ada pendapat yang ekstrem bahwa sebagai produk budaya Arab), laisa kamistlihi syai’un wa huwas samii’ul bashiir, innahu laqur aanun kariimun fii kitaabin maknuunin, innaa ja’alnaahu qur aanan ‘arabiyyan.Konsekuensi dari hal tadi menyebabkan pola arus pemikiran yang juga berbeda, yakni :1.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui pemahaman dan aplikasi ajaran secara tekstual murni, rigid, sakral, bersifat tetap, semisal jenggut, potong tangan, rajam, qishas, dsb, yang diyakini akan sesuai dengan zaman apapun dan diyakini akan sesuai dengan semua tempat dimanapun. Syari’at merupakan manifestasi dan jalan menuju Allah, sesuai petunjuk alquran dan hadits, aspek literlek dianggap gambaran yang paling sesuai dengan kehendak Tuhan itu sendiri, hal ini sulit dilakukan manakala syari’at hanya dianggap sebagai respon terhadap budaya bangsa arab pada abad pertengahan dalam usaha Nabi berhadapan dengan realitas yang ada.2.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui pemisahan antara aspek unsur budaya yang dianggap partikuler dengan unsur semangat moral murni agama. Ada evolusi yang mengarah pada pesan umum universalitas ajaran Islam, yang bersifat pokok mendasar, dengan unsur partikuler yang rinci. Partikuler rinci bisa disesuaikan dengan zaman dan tempat yang berbeda, sesuai persepsi dialogis masyarakat (bahkan memasukkan unsur HAM, dsb). Saat agama mengajarkan keadilan, persamaan, musyawarah, dsb, tetapi pada saat yang bersamaan ada beberapa buah ajaran yang “nampaknya” diskriminasi, maka hal ini mesti dilihat dalam konteks budaya sosio historis pada saat masa lampau turunnya ajaran, sehingga diharapkan tidak salah pandang terhadap ajaran agamanya. Ajaran yang orisinal adalah yang berada “dibenak” Tuhan, yang umum universal, pokok mendasar, sementara yang partikuler budaya Arab sebagai realitas ajaran yang memang harus dihadapi pada saat itu sebagai bentuk “penyesuaian”.3.Dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat semesta) dan shaalihun li kulli zamaanin wa makaanin (cocok/maslahat bagi umat manusia di semua waktu dan tempat), dalam kerangka pencapaian tujuan umum pokok agama (maqashidus syari’ah), maka dilakukan melalui memakai sebagian unsur masa lalu yang masih bisa dipakai dan tidak memakai sebagian unsur masa lalu, semisal tidak memakai jenggut, potong tangan, rajam, qishas, dsb, dengan melihat aspek moral prinsip hukum, hikmah dan filosofis suatu hukum/maqashidus syari’ah bukan pada materi hukum/bukan pada legal formal syari’atnya, melihat sosio historisnya, tapi masih menyetujui pemakaian jilbab. Ada kerangka dialogis terhadap tradisionalitas dan modernitas. Antara orisinalitas ajaran dengan zaman yang selalu berkembang. Al muhaafadzah ‘alal qadiimish shaalih wal akhdzu bil jadiiril ashlah.Diakui bahwa ada semangat evolusi yang dibawa ajaran Islam, yang merubah beberapa budaya Arab pada saat itu, supaya sesuai, supaya ajaran bisa diterima masyarakat Arab dan tidak berdampak psikologis pada masyarakat Arab pada saat itu, semisal perempuan yang dulunya tidak dapat warisan sama sekali, berubah menjadi dapat warisan meski 1 : 2, ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan dibikin budaya tapi justru memproduk budaya baru,sehingga menjadi magnet daya tarik tersendiri bagi wanita dan masyarakat Arab lampau untuk memeluk agama Islam, membawa evolusi yang diangap sangat maju pada masa itu (namun zaman sekarang ada unsur persepsi sosial semisal adanya hiilah seperti hibah, adanya ishlah setelah dilakukan sesuai pembagian faraidh terlebih dahulu, sehingga memungkinkan pembagian 1:1).Ini menunjukkan bahwa interpretasi ulama/cendekia terhadap teks pada dasarnya adalah secara fakta kenyataannya bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, maka tidak ada monopoli tafsir kehendak Tuhan, tapi saling bertoleransi, saling bersahabat, saling bekerjasama antara sesama umat Islam sendiri, dan tidak saling berkelahi, saling bertengkar antara sesama umat Islam yang bisa menghabiskan, mengganggu energi umat Islam untuk maju bersama membangun produktivitas dirinya, otoritas penafsir biasanya dipengaruhi internal yang bersangkutan dan pengaruh eksternal, asal tidak menggugat keabsahan teks sumber alquran dan hadits itu sendiri sebagai sumber hukum, kalau hal ini dilakukan maka dianggap keliru. Terkait khususnya alquran, maka sulit diterima alquran merupakan karangan Nabi Muhammad saw, hal ini bisa dilihat ada beberapa argumentasi yang bisa dikemukakan, antara lain : ada ayat yang memakai khitab anta seperti wa maa arsalnaaka, kata ka (kamu) dalam ayat ini merujuk kepada Nabi Muhammad saw, ayat lain yas aluunaka, kata ka (kamu) dalam ayat ini merujuk kepada Nabi Muhammad saw, ada ayat yang justru menegur Nabi saw seperti ‘abasa wa tawallaa, bahkan ada ayat yang mengancam Nabi saw kalau sampai berani membikin ayat sendiri, salah satu makna dari kata ummi adalah bahwa Nabi Muhammad saw tak pandai baca tulis hitung sehingga tak bisa bikin ayat, adanya mu’jizat alquran sebagai bukti alquran bukan karangan Nabi Muhammad saw, seperti adanya ayat-ayat bernuansa sains yang baru bisa dibuktikan setelah 15 abad kemudian semisal teori big bang, teori continental, dll, Nabi Muhammad saw jelas tentu saja tidak bisa bicara sains pada masa 15 abad lampau saat masih zaman onta, adanya berita ghaib dari alquran yang bisa dibuktikan beberapa waktu kemudian seperti kasus emperium Romawi, adanya keunikan khusus angka alquran seperti angka 19 dalam basmalah, ini antara lain kalau kita pelajari alquran secara benar sebagai bukti bahwa alquran bukanlah karangan Nabi Muhammad saw. Selain itu patut dikemukakan, dianalisis, bahwa Nabi Muhammad saw dalam riwayat sering menyetor, mendiktekan hapalan bacaan alqurannya kepada malaikat Jibril as.II. Pluralisme :
Kalau ditilik beberapa pendapat tentang pluralisme agama, bisa dilihat lebih mengacu pada sisi dalam, batiniah, inner dimension, trancendent unity, esoteric, relatively absolute, absolutely absolute, peleburan pemikiran ekslusif menjadi global theology, global ethic. Para pengkritik mengungkapkan bahwa ini akan berbahaya bagi kelangsungan beragama, penghapusan agama, penghapusan identitas, berbahaya bagi syari’at dan aqidah, karena aspek ritual praktek akan dikesampingkan, sehingga bisa memunculkan aliran yang dianggap sesat, bisa pindah agama (konversi agama) secara bebas leluasa, kebolehan wanita muslimah nikah dengan pria non Islam, munculnya aliran agama baru seperti hanya aliran New Age, yang merupakan aliran agama baru berupa kumpulan esoteris dari Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Perlu sikap kritis, tidak begitu saja menerima tanpa kritis, maka pluralisme agama bisa dilihat bahwa syari’at dan aqidah bisa berbeda secara lahiriah sebagai keyakinan, pengakuan eksistensi suatu agama, tapi secara batiniah bisa dilihat, boleh jadi merupakan jalan-jalan, jiwa -jiwa pasrah berserah diri yang bisa sampai menuju Tuhan Sang Maha Mutlak, Sang Maha Sumber dan Maha Tempat Kembalinya segala sesuatu. Allah lah yang akan menjadi Hakim Yang Maha Adil bagi semua kelompok jalan, jiwa-jiwa di hari kiamat kelak. Toleransi terhadap hal yang berbeda, kerjasama terhadap hal yang mempunyai titik temu, titik sama, tidak memaksa, tidak merasa benar sendirian (bersikap terbuka, moderat, kompromistis dialogis kritis, saling pengaruh mempengaruhi dalam suasana masyarakat dunia yang satu), civil society, civil religion, demokratis. Setara sejajar dalam kebebasan beragama (lakum diinukum wa liya diin, laa ikraaha fid diin, fastabiqul khairaat, lita’aarafuu, ta’aalau ilaa kalimatin sawaa).III. Sekularisme :

Keuntungan negara bersikap netral, bahwa tidak ada agama yang menjadi anak emas, tidak memaksakan suatu keyakinan kepercayaan kepada kelompok yang berbeda keyakinan kepercayaan. Tetapi manakala netral dalam pengertian bahwa negara steril dari unsur agama sama sekali, bahkan terhadap nilai moral, subtansi sekalipun, maka juga tidak baik. Negara tentu bisa saja dimasuki oleh unsur agama, tapi negara bersikap netral, dengan mengayomi keseluruhan agama-agama yang ada dalam suatu negara. Selain itu negara juga terus melakukan upaya pembangunan modernisasi. Bukan negara agama dan bukan negara sekuler, dinamakan Islam kultural. Tetapi ada juga kelompok yang menganggap bahwa negara tidak netral, tapi diterapkan Islam ideologi yang bersifat subtansi  (salah satu pertimbangannya adalah dengan melihat pergumulan kesadaran sejarah yang lama dan alot saat pembentukan NKRI, sebagai bentuk kompromi ideologi) dan semua agama tetap diayomi, dilindungi dan punya hak sama selaku aplikasi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dinamakan Islam subtansi.  Wa Allaahu A’lam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s