Konsep Epistemologi Integrasi By M Daud Yahya

KONSEP EPISTEMOLOGI INTEGRASI
by M Daud Yahya
Konsep Epistemologi Integrasi. Konsep Epistemologis Metodologis Integrasi : 1. ‘Ilmul Yaqin = rasional, objektif- positif, logis, burhani, kasbi, dialogis-diskusi, komparatif, argumen, sistemik, hipotesis, penalaran logika deduktif, penalaran logika ilmiah, bisa diuji/evaluatif, skeptis moderat/relatif/kritis-analisis, konseptual akademik/teoritis, interpretasi, valid, terukur. 2. ‘Ainul Yaqin = bisa diindra/indrawi, empiris, bukti konkrit, burhani, kasbi, trial and error, verifikasi, penalaran logika induktif, penalaran logika formal, observasi, probabilitas, kontekstual, konseptual operasional, aplikatif, eksperimen. 3. Haqqul Yaqin = wahyu, tauhid, intuisi, khabar shadiq (true report), ru’yah shadiqah (true dream), ‘irfany, ma’rifah, laduni, musyahadah/mukasyafah, ilham, dzauk/rasa, shadr-qalbu-fuad-lubb, bashirah, pancaran pelimpahan cahaya nur Ilahi/supranatural Ilahiyah, penalaran logika mutlak absolut/agama dan penalaran logika relatif spekulatif/filsafat metafisika Ilahiah, hikmah, burhani, hidayah/petunjuk Ilahi, subtantif nilai universal, metafisika/metanarasi, transidental, etika-budi pekerti-susila-norma-moral-character building-akhlak based, spiritual.Ontologi : semua ayat-ayat Tuhan (qauliyah, kauniyah, insaniyah, ijtima’iyah, ilhamiyah, fisik-inderawi-eksoteris- jasmani-material, non fisik/psikis/metafisika/metaempiris/metanarasi-non inderawi-esoteris, rohani, non material, dsb).

Aksiologi : dengan integrasi diharapkan tidak terjadi ilmu bebas nilai, ilmu tidak berjalan sendiri-sendiri, bahwa ilmu umum hanya fokus pada materialisme yang berdampak pada dehumanisasi, sekularisasi, alienasi, krisis spiritual dunia masyarakat modern, menyalahgunakan ilmu umum yang sangat membahayakan kehidupan manusia dan alam semesta, pengingkaran keberadaan Tuhan/atheisme saat menganggap bahwa Tuhan telah mati dan saat menganggap bahwa manusia adalah segala-galanya (bahkan Tuhan dianggap pada dasarnya “diciptakan” oleh manusia, bukan manusia yang diciptakan Tuhan), kepribadian terpecah (split personality), kerusakan lingkungan hidup, kerusakan biosfer planet bumi, dsb, sebaliknya ilmu agama tidak hanya fokus mengurus ritual, yang jauh dari kehidupan realitas empiris (“sekularisasi”), sehingga agama kurang fungsional dalam kehidupan, terjadinya jurang antara dogma agama dengan realitas sosial, kurang bisa memecahkan persoalan tantangan zaman, kurang memberikan landasan moral agama, sehingga kurang tepat guna, kurang tepat nilai. Ilmu agama “disosialkan”, “dibumikan”. Perlu kesadaran bahwa semua obyek ilmu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Sesama makhluk Tuhan yang menjadi obyek ilmu, tentu ada titik temu. Sesama makhluk Tuhan tentu bisa bersatu, berintegrasi, bisa “dinikahkan/dikawinkan”, berkombinasi. Oleh karena pakar fikih, tauhid, sejarah, tafsir, hadits, dsb, mesti menguasai alat bantu paling minimal dasar ilmu umum seperti ilmu sosiologi, ekonomi, psikologi, fisika, filsafat kritis, pendidikan, humaniora, antropologi, dsb. Sebaliknya pakar ilmu umum, mesti menguasai alat bantu paling minimal dasar ilmu agama, sehingga ilmu umum tidak kering spiritual profetik dan tidak terjadi pemakruhan, pengharaman ilmu umum karena takut membahayakan tauhid sebagaimana terjadi dalam sejarah saat pada masa periode kemunduran pengetahuan dan peradaban Islam atau melalui integrasi team teaching. Perlu kesadaran bahwa Tuhan sebagai Maha Sumber segala ilmu, ‘allamal insaan maa lam ya’lam. Meski suatu disiplin ilmu pada dasarnya bersifat otonom, dalam kerangka memudahkan pengembangan bidang kajian keilmuannya, tetapi diharapkan bisa saling mendekat, saling melengkapi, integrasi, sehingga terwujud terjadinya kesatuan fungsional antara kebenaran filsafat/akal mustafad, akal aktif/akal fa’al (bandingkan dengan penemuan neorusains terkait fungsi sel otak, dalam sudut perspektif neorusains pada dasarnya bahwa yang dimaksud dengan qalbu dalam alquran dan hadits adalah otak jasmani yang berfungsi untuk berpikir,merasa/dzauk,berintuisi. Tetapi bandingkan juga bahwa ada temuan baru, bahwa fungsi berpikir intelektual, merasa emosional, intuisi spiritual bukan hanya sebatas pada fungsi otak, melainkan merupakan fungsi gabungan dari  fungsi otak sampai  fungsi jantung), dengan kebenaran ilmu pengetahuan dan teknologi/rasio-indrawi serta kebenaran agama/wahyu, kesucian jiwa (disamping kesatuan dalam ontologi dan epistemologi). Adanya disiplin ilmu yang saling mendekat, saling bersatu, saling sapa, saling membutuhkan, saling kerjasama, saling keterhubungan antar berbagai disiplin ilmu, maka akan lebih dapat membantu manusia dalam memahami kompleksitas persoalan kehidupan dan sekaligus memberikan upaya pemecahannya, sehingga tepat guna, tepat nilai. Kalau masing-masing suatu disiplin ilmu jalan sendirian, maka kompleksitas persoalan kehidupan sulit ditemukan, yang dengan sendirinya tak ada tawaran solusi, ilmupun menjadi tak bermanfaat. Maka diharapkan ilmu agama dan umum sama-sama memberikan manfaat/rahmat semesta terhadap keseimbangan dan keselarasan kosmik, lingkungan hidup, manusia, hewan, tumbuhan, hasanah dunia dan akhirat, dsb, kedua ilmu tersebut diharapkan bisa menyampaikan pada kebesaran Tuhan (bertingkat : mubtadi, mutawassith, muntahi, berdimensi beriman tauhidiyah, kedalaman spiritual, berilmu luas amaliyah, beramal ilmiyah, taqwa, akhlak, peradaban Islam, berdimensi manusia holistik komprehensif integralistik sebagai khalifatullah abdullah dalam rangka membangun kemajuan peradaban khas Islam yang bersifat subtantif universal yang solutif dalam memberikan sumbangan pada masyarakat dunia masa kontemporer dan masa yang akan datang yang bersifat terbuka dan kerjasama, dalam rangka memakmurkan bumi, mewujudkan bayang-bayang surga dimuka bumi.

Lingkup : normatif, filosofis, praktek operasional, realitas sosio-historis, realitas sosio kultural antropolog, pengembangan/perbaikan/penyempurnaan/pembaharuan/modernisasi/aktualisasi, reorientasi, reformulasi, rethinking/revitalisasi/rekontruksi (filosofis, epistemologis, metodologis, praktek operasional, pengembangan pola pikir holistik komprehensif integralistik, potensi fitrah dan kepribadian individu sosial universal, bahan ajar, kurikulum, tenaga pengajar yang berwawasan integrasi atau integrasi team teaching, kelembagaan), mengakar, pengetahuan modern, realitas masyarakat modern, future oriented.

Dasar : alquran hadits (sumber normatif, landasan, cara pandang, sumber nilai, dorongan, arahan, bimbingan, pengendalian, kontrol), tauhid, kemanusiaan, bayani, ijtihad, pendekatan berbasis proses ( standar isi, standar proses, standar hasil, with high quality process approach based, step by step in whole from beginning until finishing, bahkan pasca produksi), pola kemitraan egaliter sejajar aktif partisipatif yang berada dalam posisi dan relasi yang demokratis dalam rangka penggalian, pembinaan, pengembangan potensi diri (bukan otoritarianisme intelektual, bukan indoktrinasi, bukan gaya bank, bukan hubungan hierarki, bukan hubungan subjek-objek, bukan hubungan dominasi-subordinasi), yakni berposisi sama-sama sebagai subyek yang aktif partisipatif dalam kerangka proses yang sama-sama sedang mencari kebenaran yang saling melengkapi mutual simbolistik, empowerment kreatif inquiry dinamis optimis afektif inovatif produktif, memperkuat basis kemampuan berbahasa, kekuatan metodologi sebagai bagian dari basis tradisi ilmiah yang membudaya (academic atmosfhere) dan mentalitas sebagai ilmuan yang juga bagian dari academic asmosfhere based (ngasih kail/alatnya bukan ngasih ikannya), kesatuan umat/kesatuan manusia, sistem nilai/berbasis nilai (value-based), profesionalisme, terbuka, keseimbangan (teosentris-antroposentris,jasmani-rohani,antara harmonisasi wahyu dan akal, fisik-psikis, kebenaran Ilahiah-kebenaran insaniah-absolut-relatif- profan-nisbi, dunia-akhirat), religius humanis, persamaan, keutamaan, pendidikan seumur hidup, rahmat semesta, subtantif nilai universal, terbuka nan kritis, mengakar, pengetahuan modern, reflektif multi disiplin, reflektif inter-disipliner, holistik komprehensif integratif, interdependensi-sensitivitas-sintesis-koheren-koeksistensi, mutual simbiostik-elaborasi interkonektif komplementer. Wa Allaahu A’lam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s