Memahami Takdir (Qadhar dan Qadha)

By M Daud Yahya

MEMAHAMI TAKDIR (QADHAR dan QADHA). Secara bahasa, kata qaddara-yuqaddiru berarti mengqadarkan, mengira-ngira, merencanakan (masih berupa perencanaan/rancangan/ancang-pancang), menggariskan, menentukan, mengukur/ukuran, menetapkan. Allah sudah menetapkan, menakdirkan, menggariskan nasib seseorang melalui aturan-aturan-Nya, yakni melalui sunnatullah, sunnatullah tak pernah berubah/wa lan tajida li sunnatillaahi tabdiilaa, sebagai perbandingan ada pula ayat yang berbunyi innallaaha laa yughayyiru maa bi qaumin hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim. Terlepas apakah azali atau tidak, berubah atau tidak (untuk hal ini hanya Allah yang lebih Maha Tahu, Allah tidak terikat dengan siapapun, tidak terikat dengan perbuatan-Nya sendiri, terserah Allah, bisa ya dan bisa tidak, ada ijtihad ulama mengenai takdir
mu’allaq (bisa kita namakan dengan istilah takdir sunnatullah), yakni takdir yang tergantung pada usaha ikhtiar kebebasan memilih manusia, seperti kalau mau sukses belajar maka rajinlah belajar, secara perspektif metafisika tergantung sepenuhnya kepada Allah (ijbary ,keterpaksaan) tapi secara etik praktis rasional dunia nyata manusia bebas memilih perbuatan (free will, ikhtiyary), selanjutnya takdir mubram (bisa kita namakan dengan istilah takdir ghairu sunnatillah),yakni takdir yang pasti dan tidak bisa dihindari manusia, karena tidak tergantung pada usaha ikhtiar kebebasan memilih manusia, seperti manusia tak bisa menentukan untuk memilih dilahirkan di negara mana saat masih bayi, kapan terjadinya kiamat, dsb, qadar pentakdiran ciptaan sudah ditentukan oleh Allah, ada ayat yang berbunyi yamhullahu maa yasyaa u wa yustbitu wa ‘indahuu ummul kitaab. Takdir sesuatu yang rumit karena terkait dengan kebebasan manusia, sebab akibat sunnatullah, tanggung jawab dan kehendak Tuhan, siapa subjek pelaku, berusaha berikhtiar, pengaruh formal akademik dan pengaruh riil dalam kehidupan nyata, kebaikan usaha baik sukses atau gagal akan dinilai Allah, tauhid, azali, berubah atau tidak, daya akal qalbu untuk memilih, keterbatasan manusia dan kemampuannya dalam serba keterbatasan, mubram dan mu’allaq, hidayah, kehendak, kekuasaan, kemampuan, potensi daya dan perbuatan, keputusan Allah dan manusia, balasan surga dan neraka, dsb. Takdir pada dasarnya bagian dari rukun iman yang termasuk bagian dari rahasia Allah yang kita tak dapat mengetahuinya,tugas kita bagaimana menjalaninya seperti air mengalir dengan cara berdo’a dan berusaha berikhtiar dengan maksimal sekuat tenaga, hasilnya serahkan pada Allah), maka kita bebas memilih takdir sebab akibat melalui kebebasan memilih aturan-aturan-Nya yang terbaik bagi kita, kita bebas berpindah dari pilihan aturan takdir yang satu ke pilihan aturan takdir yang lain, kita bebas memilih berbagai alternatif pilihan aturan takdir yang tersedia dengan memilih yang terbaik buat kita. Namun semua aturan-Nya tak bisa lepas dari Allah yang kekuasaan-Nya Maha Meliputi segala sesuatu, segala perbuatan. Apa yang baik menurut ukuran kita, belum tentu baik menurut Allah/menurut ukuran kebenaran pada sisi Allah. Apa yang baik menurut ukuran kebenaran pada sisi Allah, maka sudah pasti baik bagi semua makhluk ciptaan-Nya, baik hal tersebut bisa diterima secara rasional maupun tidak/sulit diterima secara rasional menurut ukuran kebenaran manusia. Jadi, kebenaran di mata Allah itu mutlak, sementara kebenaran di mata manusia itu relatif.
Selaku orang beriman, maka mesti selalu berprasangka baik terhadap perbuatan Allah/berpikir positif (husnuz zhan) akan terhadap segala sesuatu, bahwa mesti ada hikmah maslahahnya bagi kita dibalik semua perbuatan Allah, baik diketahui secara cepat maupun lambat dalam beberapa waktu. Do’a, ikhlas, amal sholeh, sedekah, usaha ikhtiar secara keras serta tawakkal, menjadi perantara agar pilihan takdir dari kebebasan memilih manusia sesuai dengan kehendak Allah Yang Maha Berkehendak/kun fa yakuun, yang hasilnya bisa sesuai persis dengan kehendak kita, dan kalau hasilnya tidak sesuai persis dengan kehendak kita maka diganti oleh Allah dengan yang mirip-mirip, sebagai penghapus dosa, sebagai penolak bencana, atau hasilnya ditunda oleh Allah di akhirat nanti. Apapun hasilnya itulah ketetapan Allah yang terbaik buat kita, sebab Allah lebih Maha Tahu akan kebutuhan kita dan lebih Maha Tahu terhadap apa yang terbaik buat kita. Iqbal mengungkapkan untuk memilih takdir terbaik, sebelum Allah menjatuhkan, menggariskan, menetapkan takdir-Nya/menetapkan qadha-Nya, qadha berarti memutuskan, melaksanakan keputusan akhir penyelesaian sempurna. Takdir azali, baiknya takdir itu dipegang setelah terjadi, bukan sebelum terjadi supaya tak melempem lemah semangat. Selalu optimis tawakkal menyerahkan keputusan akhir kepada Allah, husnuz zhan bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik buat kita, sabar kalau gagal dan syukur kalau sukses, akan memberikan semangat hidup yang tahan banting dalam menjalani kehidupan ini. Wa Allaahu A’lam.
 
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s