Isra Mi’raj : Pendakian Spiritual dan Transformasi Sosial

Isra Mi’raj : Pendakian Spiritual dan Transformasi Sosial
by M Daud Yahya

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa dahsyat yang diabadikan dalam alquran, yang selalu diperingati orang. Maka dengan adanya peringatan peristiwa tersebut, maka alquranpun akan selalu dibaca dan dipelajari orang.

Banyak berbagai sudut pandang yang bisa diambil dari peristiwa Isra Mi’raj, yang oleh kalangan Sunni dianggap sebagai mu’jizat terbesar kedua setelah Alquran. Hikmah tersebut antara lain :

1. Pendakian Spiritual
Dalam kajian fenomena alam dalam sudut pandang Islam, ada sesuatu yang bersifat rasional, bisa dilogikakan, tapi ada juga sebagian peristiwa yang sulit dicerna secara rasional, istilahnya khaariqul ‘aadat (diluar dari kebiasaan). Akan halnya peristiwa isra mi’raj merupakan peristiwa yang bukan rasional, tetapi ia peristiwa yang termasuk kategori mu’jizat Nabi Muhammad saw. Oleh karena, ayat tentang Isra dimulai dengan kata subhaana, yang menunjukkan adanya campur tangan kekuasaan Allah yang memperjalankan hambanya, jadi bukan hamba yang jalan sendiri tapi hambalah yang diperjalankan oleh Allah (asraa/Allah memperjalankan pada malam hari, bi ‘abdihii/hambanya, dalam peristiwa ini). Pemakaian kata a’bd/hamba dalam alquran menunjukkan bahwa peristiwa tersebut dilakukan dengan jasmani dan rohani sebagaimana kepercayaan kalangan Sunni (tapi menurut Mu’tazilah, hanya mimpi saja/hanya roh). Ini ibarat semut kecil yang ikut pesawat besar ke benua lain. Menunjukkan Kemahabesaran Allah yang segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak-Nya.

Kalimat Minal masjidil haraam ilal masjidil aqshaa (dari mesjidil haram ke masjidil aqsa). Bahwa jiwa yang suci berangkat dari tempat yang suci menuju tempat yang suci pula. Bahkan Nabi Muhammad saw pun dibedah hatinya untuk menerima berbagai hal, sehingga hati suci. Artinya kalau menghadap Allah mesti dengan kesucian jiwa. Penyucian hati ini bukan berarti bahwa sebelum mengalami proses pembedahan, hati Rasulullah saw belum suci. Tujuan penyucian tersebut adalah mensucikan sesuatu yang sudah suci. Dalam istilah Habib Ali al-Habsyi di dalam qasidahnya “Thâhirun ‘ala thâhirin” mensucikan sesuatu yang suci. Setelah penyucian hati dengan air zam-zam selesai, proses selanjutnya adalah menuangkan tiga unsur cahaya ke dalam hati Rasulullah Saw. Tiga unsur cahaya tersebut adalah cahaya iman, cahaya ilmu, dan cahaya hikmah. Dengan dibekali tiga unsur cahaya itulah, nantinya akan semakin meneguhkan hati Rasulullah Saw dalam perjalanan menuju hadrat Ilahi. Hikmah yang dapat dipetik dari proses pembedahan hati Rasulullah Saw, bahwa apabila hati kita sudah melewati proses penyucian, maka Allah pun akan menuangkan cahaya iman, ilmu, dan hikmah ke dalam hati kita, maka seseorang dengan hal tersebut bisa menjadi ulama, cendikiawan muslim, sainstis muslim, orang-orang sholeh, dsb.

Jika ketiga unsur cahaya ini kita korelasikan dengan teori Annihilasi, maka bisa kita katakan bahwa materi adalah jasad manusia, sedangkan unsur-unsur cahaya tersebut adalah anti materi. Jika materi dan anti materi tersebut disinergikan, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya. Orang yang mampu mensinergikan ketiga elemen unsur tersebut yang bersemayam dalam hati yang bersih, maka sesungguhnya dia telah berubah dirinya menjadi cahaya, dalam terminologi tasawuf ada istilah fana ul fana. Nabi Muhammad saw sering berdoa agar dijadikan cahaya waj’alnii nuuran (jadikan aku cahaya). Resonasi hati yang suci akan memancarkan gelombang cahaya yang menyinari pemiliknya dan orang-orang yang ada disekitarnya, dengan menjadi ulama, cendikiawan muslim, sainstis muslim, orang-orang sholeh, dsb.

Iman, ilmu dan hikmah adalah cahaya kehidupan anti materi yang menerangi jalan untuk mengenali Allah, merasa sangat dekat dengan Allah.

Dari sini kita bisa pahami bahwa jika seorang hamba ingin menghadap Allah, maka selain kesucian fisik dengan cara berwudhu, kesucian hati juga lebih utama, sebab kita akan berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Suci. Allah menghendaki kesucian hamba-Nya sebelum bertemu dengan-Nya, sehingga Rasulullah Saw yang sudah benar-benar suci pun juga mengalami proses pensucian yang sama. Hati adalah tempat pandangan Allah kepada para hamba-Nya. Hati juga merupakan sentral dari segala pusat sistem organ tubuh manusia, sekaligus pusat pandangan Allah ( wa laa kinnallaaha yandzhuru ilaa quluubikum). Semoga kita mempunyai hati yang bersih, selamat/qalbun saliim, kesucian jiwa/tazkiyah nafs. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Pada waktu di Sidratul Muntaha, di hadrat Ilahi, Nabi Muhammad saw berada dengan jarak yang sangat dekat sekali dengan Allah, yang dalam alquran disebut fakaana qaaba qausaini au adnaa (berjarak dua busur atau lebih dekat lagi). Pelajaran yang bisa diambil, bahwa ini menunjukkan Allah Yang Maha Suci hanya bisa didekati dengan sedekatnya oleh makhluk yang suci pula, dengan spiritual yang tinggi. Meski demikian, Allah bukan berarti berada bertempat pada sesuatu, tetapi Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Dalam Mi’raj, Nabi Muhammad saw juga menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah swt tanpa perantara Jibril. Shalat merupakan satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima secara langsung dari Allah swt oleh Nabi Muhammad saw. Yang menarik bahwa Tuhanpun ada unsur demokratis negosiasi, yakni dari perintah 50 kali menjadi 5 kali shalat dalam sehari semalam, tetapi yang nilainya sama dengan 50 kali shalat tadi. Diskusinya Nabi Muhammad saw dengan Nabi Musa as, menunjukkan bahwa orang yang lebih muda menghormati seniornya Nabi Musa as. Dalam suatu hadits disebutkan : As shalaatu mi’raajul mu’miniin (shalat adalah mi’rajnya orang beriman). Orang berimanpun bisa melakukan mi’raj melalui shalatnya yang khusu’. Semakin khusu’ maka semakin mi’raj, semakin tinggi spiritualnya. Supaya bisa khusu’ maka perlu memperhatikan 3 hal : 1. khusu’ qalbi/hati, termasuk rukun qalbi, misalnya dengan menghadirkan hati kepada Allah. 2. Khusu’ qauli/perkataan, termasuk rukun qauli, misalnya paham terhadap bacaan yang sedang dibaca. 3. khusu’ fi’li/perbuatan, termasuk rukun fi’li, misalnya gerakan shalat yang benar dengan thuma’ninah/tenang. Tetapi kalau khusu’ ternyata sulit dilakukan secara sempurna, maka untuk menutupi kekurangan tadi perbanyaklah shalat-shalat sunat untuk kesempurnaan khusu’ shalat fardhu kita. Dengan mengerjakan shalat yang demikian maka sampailah kita pada mi’raj, hadrat Ilahi, pada kesucian jiwa, spiritual yang tinggi, kedalaman spiritual (deeply spirituality), bisa merasa sedekat-dekatnya dengan Allah swt, bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap napas gerak langkah kita. Inilah salah satu hikmah dari peritiwa Isra Mi’raj.

2. Transformasi Sosial

a. Transformasi Sosial Moral. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad saw banyak menyaksikan berbagai perumpamaan, yang bisa menjadi ‘ibrah pelajaran bagi manusia. Misalnya ada orang yang memotong lidahnya, sebagai perumpamaan orang yang suka berbohong. Ini merupakan pelajaran bahwa seyogyanya menghindari suka berbohong. Dan masih banyak peristiwa lainnya yang dialami Nabi Muhammad saw, yang kesemuanya itu bisa diambil pelajaran dalam kehidupan sosial sehari-hari.

b. Transformasi Sosial Politik. Pada dasarnya tanah Yerussalem menjadi tanah suci 3 agama baik Yahudi dengan Sulaiman Templenya/Haikal, Kristen dengan Betlehemnya/Baitu Lahmin, sementara Islam dengan Isra Mi’rajnya, juga bahwa Baitul Maqdis pernah dijadikan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat sebagai kiblat selama sekitar 16 bulan, begitupun Palestina pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kekhalifahan Umar bin Khatthab berikut beberapa khalifah selanjutnya. Oleh karena, peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu bagian penting dari kesadaran transformasi sosial politik terkait tanah suci Palestina (Alhamdulillah sudah ada proses kemerdekaan, proses perdamaian).

c. Transformasi Sosial Iptek. Pada masa 14 abad yang lampau, orang barangkali tidak pernah membayangkan akan ada manusia yang bisa ke luar angkasa. Nabi Muhammad saw telah memulai suatu hal yang belum pernah dipikirkan orang pada saat itu, ke luar angkasa dengan memakai kendaraan Buraq (kilat atau petir), cahaya. Zaman sekarang dengan kemajuan iptek manusia sudah bisa sampai ke bulan, ke planet Mars, bisa meneropong alam semesta, dsb. Dalam sudut pandang teori Annihilasi, bahwa teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama. Dikaitkan dengan peristiwa Isra Mi’raj, maka proses pengubahan materi menjadi cahaya (Annihilasi) terjadi sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai, dengan peristiwa bedah air zam-zam, dengan kesucian jiwa lalu diisi iman, ilmu, hikmah, maka Nabi Muhammad saw pada dasarnya telah menjadi cahaya, karena nihil, lenyap. Dalam sudut pandang teori relativitas waktu dalam peritiwa Isra Mi’raj, bahwa semenjak para ilmuwan menemukan teori relativitas cahaya ala Albert Einstien, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya, maka ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mampu membuktikan bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj adalah sesuatu yang luar biasa dan diluar kemampuan manusia biasa. Dari sudut pandang teori kecepatan cahaya, maka Isra Mi’raj sangat memungkinkan ditempuh dalam kurang dari satu malam. Sebagai ilustrasi bahwa pesawat jenis Space Shuttle, pesawat tercanggih yang menempati urutan pertama pesawat tercanggih dan tercepat di dunia saat ini yang memiliki kecepatan 20.000 mil per jam, maka jarak Isra dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha yang tidak kurang dari sekitar 1200 Km. bisa dicapai dengan sekitar 2 menit saja. Dari sudut pandang teori perubahan dimensi, bahwa bisa dilihat dari sudut perbedaan perubahan dimensi yang terjadi pada Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan antar dimensi dengan memakai ala teori fisika kuantum. Jadi peristiwa Isra Mi’raj secara tak langsung juga menggugah umat Islam agar melakukan transformasi sosial dibidang iptek, dengan menguasai iptek ruang angkasa khususnya, dan menguasai keseluruhan iptek secara umumnya, atas dasar tauhid kebesaran Ilahi. Iman, ilmu dan hikmah adalah cahaya kehidupan yang menerangi jalan untuk mengenali Allah, merasa sangat dekat dengan Allah swt, merasakan kehadiran Allah swt. Orang-orang yang telah mendaki dan telah mempunyai spiritual yang tinggi, punya kecerdasan Kenabian (The Prophetic Intelligence), yang bisa membawa ke arah jalan yang baik dan benar, ke arah transformasi sosial di segala bidang kehidupan. Wa Allaahu A’lam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s