Marhaban Wa Ahlan Ya Ramadhan, Menggapai Kemilau Ramadhan Sekolah Penempaan Raga Dan Kesucian Jiwa

by  M Daud Yahya

Adalah suatu fitrah tauhidiyah bagi seorang mukmin yang baik apabila menjelang tiba Ramadhan ia menyambutnya dengan penghormatan istimewa. Perjumpaan dengan bulan Ramadhan yang dinantikan ini sangat besar pengaruhnya kepada jiwa dengan siraman keimanan dan ketaqwaan,  maka tak heran kalau umat Islam menanti pertemuan dengan bulan suci ini. Marilah kita sambut bulan Ramadhan dengan ibadah, taqarrub, tilawah tadarusan alquran, lanunan  zikir,  sedekah,  istighfar, dsb.  Ramadhan telah bertandang seraya memercikan kembali sinar keagungan dan mutiara hikmahnya. Selamat datang Ramadhan…Marhaban Wa Ahlan Ya Ramadhan…………….. Bukan lantaran bulan Ramadhan muncul sekali setahun sebagai bentuk kewajiban ritual semata, akan tetapi bulan ini mengandung nilai-nilai abstrak religius yang bisa dirasakan oleh umat Islam. Yang demikian merupakan sunnah Rasulullah SAW  bila  datang bulan Ramadhan beliau sering mengucapkan : Selamat datang hai yang mensucikan diri”. Para sahabat bertanya :, “Siapakah yang mensucikan diri itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab : “Yang mensucikan itu ialah bulan Ramadhan. Dia mensucikan kita dari dosa dan maksiat. Dalam hadits riwayat lain Rasulullah SAW  bersabda : “Barangsiapa bergembira menyambut kehadiran bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan mengharamkan jasadnya dari sentuhan api neraka.
Sebagai umat Islam tentu kita akan senang dan gembira menerima kehadirannya, sebab bulan ini adalah musim ibadah, dimana amal-amal ibadah, kebaikan, shadaqah dan kebaikan lainnya akan dilipatgandakan Allah SWT pahalanya, teristimewa ibadah puasa yang dikerjakan dengan iman dan ihtisab, maka hanya Allah SWT  saja yang tahu balasannya. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan mubarak (syahrun mubarak, bulan penuh berkah. Berkah artinya ziyadah/tambahan, la tanqathiul khairat/kebaikan yang selalu ada tak pernah putus), yang didalamnya puasa difardhukan. Bulan ketika tangan syaithan dibelenggu (ada yang memaknai bahwa orang puasalah sebenarnya yang mengikat syetan, apalagi ada syetan yang berasal dari jenis manusia dan yang berasal dari jenis jin, kalau manusia tidak/jarang maksiat di bulan Ramadhan  maka dengan sendirinya syetan terbelenggu. Syetan berjalan melalui pembuluh darah, syetan sulit berjalan pada pembulu darah orang yang sedang berpuasa), bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr.  Bulan yang diturunkannya Alqur an sebagai petunjuk bagi sekalian  manusia, bulan jihad hawa nafsu, bulan keselamatan, bulan petunjuk, bulan pengampunan. Ramadhan sendiri bermakna panas, pembakaran yakni bulan  membakar dosa-dosa selama 11 bulan lainnya, sehingga kembali suci. Kesempatan besarlah bagi kita untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.
Sudah saatnya, agar kita tidak hanya menginterpretasikan bulan Ramadhan sebagai koleksi larangan dan pantangan, tetapi juga memandang bulan ini sebagai koleksi kebajikan, ibadah, amal sholeh dan keutamaan. Rasulullah SAW  panutan kita telah memberikan contoh bagaimana mengagungkan dan memulyakan bulan Ramadhan, sebagai sekolah penempaan raga dan kesucian jiwa,  diantaranya yakni :

1. Kesehatan fisik

Allah SWT berfirman : “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. QS. Al-Baqarah : 184). Salah satu dari sekian banyak manfaat puasa, yakni terkait kesehatan. Nabi Muhammad SAW bersabda : shuumuu tashihhuu (berpuasalah niscaya kalian sehat). Puasa selain sebagai kewajiban wujud penghambaan kepada Allah, selain pahala ukhrawi juga manfat duniawi,  puasa bukan untuk kepentingan Allah SWT, melainkan puasa sebenarnya  manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri, bisa menjaga kesehatan fisik dan psikis, meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual.

Terkait puasa dan kesehatan fisik, hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah,  seperti dua filosof ternama dunia, Socrates dan Plato, pernah membuktikan bahwa puasa dapat menjaga vitalitas pikiran dan mencerdaskan otak. Alexis Carrel, peraih Nobel di bidang kesehatan pada tahun 1912 dalam bukunya Man The Unknown, menyatakan bahwa puasa memiliki efek dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Allan Cott, M.D., seorang ahli biologi dari Amerika Serikat dalam bukunya Why Fasting?, mengatakan bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan fisik sekaligus psikis (to fell better physically and mentally). Sementara Alvenia M. Fulton, direktur lembaga makanan sehat Fultonia di Amerika Serikat, mengemukakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah fisik. Secara ilmiah, puasa terbukti memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan. Selain hal diatas. sejumlah sejumlah ilmuwan dari berbagai negara juga menyatakan bahwa puasa bisa mengeluarkan racun dari dalam tubuh, menyembuhkan maag, bronchitisi, penyakit mata, penyakit kulit, migraine, obesitas, kelenjar buntu (endoktrin), gula tinggi, darah tinggi, kolesterol, dll. Puasa membuat jantung, pembuluh darah, usus perut, otak, organ, dll, beristirahat/kurang kerja selama lebih kurang sebulan puasa  setelah bekerja 11 bulan lamanya dibulan lain. Setelah jasmani istirahat sebentar, maka diharapkan akan bangkit kembali jasmani dengan refreshing, dengan lebih segar, lebih sehat kembali.

Untuk sehat maka lakukan puasa dengan benar, semisal mesti bersahur dengan mengakhirkan sahur, dalam sahur ada keberkahan walaupun dalam kondisi kesulitan tertentu hanya dengan secangkir bahkan seteguk air sekalipun,  kalau berbuka puasa maka dilakukan dengan  segera (dalam konteks berbuka puasa nampaknya umat Islam tanpa disuruh segera berbuka puasapun, umat Islam akan segera berbuka puasa sendiri……..lihat saja makanan minuman umat Islam yang segunung melimpah  dan pada sudah kumpul semua sebelum berbuka puasa….., jadi puasa melatih disiplin, keteraturan, kesabaran).  Meski segera berbuka puasa  tapi jangan langsung makan penuh tapi sedikit dulu baru shalat Maghrib, setelah itu makan lagi. Saat berbuka puasa para ahli gizi menganjurkan jangan makan yang keras dulu semisal nasi, jadi makanlah yang lunak dulu semisal kurma, bubur nasi, air putih, buahan. Rasululullah SAW makan berbuka puasa dengan kurma, atau bisa juga diganti dengan sesuatu yang manis.

2. Melawan/mengendalikan  hawa nafsu yang menyuruh berbuat kejahatan (al- nafs al ammarah bis suu’)

Puasa berarti imsak/menahan, melawan. Puasa selain menahan keinginan makan minum, seks, juga menahan hal yang membatalkan pahala puasa selain pahala menahan makan minum, seks. Kalau yang halal saja tidak boleh, ditahan, dikendalikan, supaya tidak keserakahan,  maka yang haram tentu lebih ditahan yakni dilawan.

Ringkasnya, nafsu yang menyuruh berbuat kejahatan (al- nafs al ammarah bis suu’) mesti dilawan, kalau tidak dilawan maka kita akan terjerumus dosa, dikendalikan oleh hawa nafsu hewani kita, yang derajatnya paling rendah. Sementara itu nafsu yang juga berfungsi sebagai dorongan (ada yang mengistilahkan jenis nafsu seperti ini dengan istilah gharizah) akan membawa kepada kedinamisan, semangat diri, jenis tipe nafsu tadi perlu dipupuk. Sementara itu kalau nafsu hewani saja yang dipakai maka tak beda manusia dengan hewan, bahkan lebih sesat dari hewan (bal hum adhallu). Oleh karena nafsu mesti dilawan supaya tak terjerumus dosa, sekaligus nafsu dikendalikan dengan memakai  aturan syariat, nafsu mesti  dikendalikan oleh qalbu spiritual yang derajatnya lebih tinggi, sehingga nafsu bisa berperan serta dalam berbuat amal sholeh sebanyak-banyaknya.

Imam al Ghazali ada membagi puasa menjadi 3 yakni :  puasa awam,   yakni puasa dari makan minum, seks.  Puasa khawash, yakni  puasa indrawi dari hal-hal  yang bisa menghilangkan pahala puasa.  Puasa khawasul khawash,  yakni  puasa hati, yakni  tidak berniatnya hati atau puasanya hati  untuk berniat  melakukan perbuatan yang bisa membatalkan puasa atau yang bisa membatalkan pahala puasa. Kalau hati tidak berpuasa, dengan ada niat hati berbuat tidak baik, maka akan menghilangkan  pahala puasa bahkan dianggap membatalkan puasa akibat adanya niat hati yang tidak baik tadi). Dengan puasa hati maka  puasa dilakukan dengan ikhlas, menghilangkan niat dari selain keridhaan Allah SWT.

Puasa  jihad hawa nafsu kalau dikaitkan dengan Teori Sigmund Freud,  Psikoanalisis tentang perkembangan kepribadian, bahwa Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego.

Id merupakan  energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.

Ego merupakan sebuah pengatur agar id dapat dipuaskan atau disalurkan dalam lingkungan sosial. Sistem kerjanya pada lingkungan adalah menilai realita untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Sedangkan Superego sendiri adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id (hawa nafsu).

Akan  halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

Salah satu jenis kecemasan Sigmund Freud adalah kecemasan moral,  adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah : a. represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, b. memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, c. pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, d. proyeksi; e. penggeseran; f. rasionalisasi;  g. sublimasi;  h. introjeksi; i. ritual dan penghapusan; j. konpensasi; k.  regresi.

Dalam perspektif tasawuf ada istilah mujahadah, yakni mujahadatun nafsi.

Hadits menyebut :  ash shaumu junnah, maknanya puasa adalah sebagai perisai (dari perbuatan jahat). Istilah puasa merupakan terjemahan dari kata shaum/shiyam  berarti “menahan diri dari suatu perbuatan dan meninggalkannya”. Inilah esensi puasa, yaitu menahan diri dari perbuatan yang dapat membatalkannya, baik membatalkan puasa ataupun yang  membatalkan pahala puasa.  Untuk mendapatkan puasa yang optimal dan diterima Allah SWT, kita juga diperintahkan  untuk meninggalkan/melawan/mengendalikan  hal-hal yang dilarang oleh-Nya, sehingga mudah-mudahan puasa kita bisa  berdampak pada takwa, aamiin.

3. Membaca alquran dan belajar

Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya alquran secara sekaligus dari Lauh Mahfudz ke baitul izzah di langit dunia pada malam lailatul qadar, bulan diturunkannya ayat pertama alquran pada malam 17 Ramadhan. Ramadhan disebut juga syahrul qur an, oleh karena seyogyanya dalam masa Ramadhan ini banyak-banyak membaca alquran, yang seyogyanya juga dilakukan pada selain bulan Ramadhan.

Selama Ramadhan, yang meskipun kita berpuasa, agar tetap belajar menuntut ilmu baik secara formal maupun non formal semisal pengajian agama, dsb. Begitupun produktivitas belajar, produktivitas kerja jangan menurun hanya karena berpuasa. Dulu di zaman Rasulullah SAW banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan dan uniknya kaum muslimin yang menang meski puasa, ada semacam “energi misterius spiritual” disaat puasa, disaat unsur materi makan minum seks hilang dan yang ada dominan adalah unsur spiritual. Meski barangkali dalam prakteknya bisa saja ada penyesuaian jam belajar, jam kerja, jam lembur, dsb, atas dasar berbagai pertimbangan lainnya.

3. Sedekah, zakat, infak untuk kepekaan sosial

Rasulullah saw banyak bersedekah pada bulan Ramadhan melebihi daripada bulan lainnya. Sedekah tidak hanya harta tapi juga bisa dengan bentuk lain.

Terkait berbuka puasa, bahwa kalau kita bisa membukakan orang lain yang sedang berpuasa dengan memberikan hidangan puasa, maka kitapun akan mendapat pahala seperti pahala orang puasa yang kita bukakan tadi tanpa dikurangi sedikitpun.

Selain sedekah, bisa juga melakukan zakat, infak, waqaf, zakat fitrah, dsb.

4. Qiyam Ramadhan/tarawih

Mudahan-mudahan kita bisa melaksanakan shalat tarawih sebulan penuh, tanpa ada bolong. Kalau tidak ada bolong Insya Allah akan terasa efek kesucian jiwa dibanding kalau tarawihnya ada bolong-bolong. Benarlah hadist : man qaama ramadhaana iimaanan wahtisaabaan ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi….. (barangsiapa yang qiyam ramadhan karena iman dan ihtisab mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lampau).

Begitupun kalau kita puasa sebulan penuh tanpa bolong-bolong  karena iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosa kita, hadits menyebut : man shaama ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi….

5. Mengintai lailatul qadar

Rasulullah saw beserta keluarga beliau di saat  sepuluh hari terakhir Ramadhan fokus ibadah, ada istilah mengikat tali pinggang saking ibadahnya, diyakini kalau kita di semua sepuluh hari tadi benar-benar ibadah maka mesti akan dapat pahala lailalatul qadar meski kita tak menemui peristiwa khusus lailatul qadar sekalipun. Adanya peristiwa khusus menemui lalilautul qadar bisa jadi karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, sehingga terkadang ada peristiwa aneh.

Salah amalan yang dianjurkan banyak dibaca  saat  sepuluh malam terakhir  adalah  zikir istighfar, minta maaf yakni Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniii…………..Selain minta ampun pada Allah SWT, juga minta maaf  silaturahmi pada manusia. Rasulullah SAW juga menganjurkan memperbanyak i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Juga dianjurkan memperbanyak do’a selama Ramadhan. Konon, orang yang mendapat berkah lailatul qadar tidak hanya rajin ibadah  pada saat sepuluh terakhir Ramadhan, tapi adalah orang yang sudah rajin ibadah sejak awal tanggal 1 Ramadhan sampai akhir Ramadhan non stop. Selanjutnya, lakukanlah puasa  sunat 6 hari pada bulan  Syawwal karena puasa ini mirip dengan shalat sunat rawatib yang mengiringi shalat wajib. Puasa sunat 6 hari pada bulan Syawwal  berfungsi menutupi kekurangan puasa Ramadhan kita. Karena 1 hari puasa nilainya sama 10 hari puasa, maka jumlah 36 hari dikali 10 = 360 hari, yakni sama dengan berpuasa sepanjang tahun. Selain puasa 6 hari pada bulan Syawwal, banyak pula dikenal puasa-puasa sunat lainnya sepanjang tahun 11 bulan lainnya.

Dengan demikian, puasa akan menghilangkan toksin racun dari tubuh sehingga tubuh sehat kembali. Begitu pula puasa dan berbagai amal ibadah,  berbagai amal sholeh yang dilakukan dibulan Ramadhan akan menghilangkan toksin racun dosa-dosa, sehingga mendapatkan kesucian jiwa, jiwa fitri/jiwa fitrah.

-Mentransformasikan Spirit fitri/spirit fitrah  sebagai khalifatullah abdullah dalam kehidupan dunia akhirat

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan sekolah penggembelingan raga dan kesucian  jiwa, kembali ke fitrah jiwa yang suci/ kembali idul fitri pada saat 1 syawal, saat merayakan raya idul fitri, hari kemenangan melawan/mengendalikan hawa nafsu,  minal ‘aaidiin wal faii iziin ( artinya, semoga termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah suci dan termasuk orang-orang yang menang melawan hawa nafsu/mengendalikan).

Dengan demikian, pembakaran dosa, pembinaan mental spiritual dilakukan di bulan Ramadhan (bulan Pembakaran) agar kembali fitrah suci (idul fitri), sementara  meningkatkan mental spiritual  berkelanjutan di bulan Syawwal (bulan Peningkatan) dan di bulan selanjutnya.   Kenapa demikian? Sebab sesungguhnya ujian puasa hawa nafsu dan terbelenggu syetan yang sesungguhnya adalah pada masa 11 bulan berikutnya diluar Ramadhan. Karena  barangkali akan masuk akal kalau pelanggaran agama cenderung turun di bulan Ramadhan, sebab adanya kewajiban puasa Ramadhan untuk melawan hawa nafsu dan terbelenggu syetan (mungkin jadi pertanyaan apakah terbelenggu syetan di bulan Ramadhan khusus bagi orang Islam atau tidak, apakah non muslim yang tidak puasa berlaku terjadi  juga terbelenggu syetan atau tidak, Wa Allaahu A’lam). Kondisi tadi tentu berbeda dengan kondisi yang ada diluar bulan Ramadhan yang tidak ada kewajiban puasa terkait hawa nafsu dan terbelenggu syetan.  Memang seyogyanya didikan puasa tidak hanya sampai mencapai jiwa yang  suci, tapi bagaimana  dampak dari jiwa yang suci tadi bisa memberikan kontribusi pada kebaikan yang lebih luas, menjadi khalifatullah abdullah dengan mental yang suci. Nampaknya, spirit fitri/ spirit fitrah inilah yang perlu dipelihara,  dipupuk, dibina untuk menghadapi kehidupan ini, dengan lebih baik lagi,  dengan lebih banyak lagi kebajikannya (daripada dosa kecilnya)  pada 11 bulan berikutnya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan berupa berbagai kebaikan dan amal sholeh, maka kalau bisa meramadhankan semua bulan 11 bulan lainnya, menjadikan 11 bulan seakan-akan seperti ibadah bulan Ramadhan, hendaklah konsisten bahkan ditingkatkan lagi di 11 bulan lainnya. Mudah-mudahan kita bisa mencapai derajat taqwa, dengan bisa lebih terlatih lagi  menjauhi maksiat  dan melakukan lebih banyak lagi kebajikan dengan merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap langkah kita, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa Allaahu A’lam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s